Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
60 : Wisata Rasa Kencan


Kemit Forest yang keberadaannya tidak begitu jauh dari kediaman pak Kalandra, menjadi bagian dari acara wisata rasa kencan yang Akala dan Nina jalani. Di wisata alam yang dilengkapi wahana permainan sangat ramah untuk anak-anak dan menjadikan suasana hutan sebagai view utama tersebut, Akala sudah langsung menuntun Malini untuk mencoba setiap wahana di sana.


“Dekati adiknya, nikahi mbaknya ...,” batin Akala teringat tips dari Ojan. Alasan yang juga membuatnya senyum-senyum sendiri. Di sebelahnya, Nina yang memakai kaus putih dipadukan dengan jaket putih, melambai-lambaikan tangan kepada Malini. Kakak beradik itu sibuk bertukar senyuman.


Wisata alam yang cocok untuk ngadem sekaligus menenangkan pikiran itu berada di Jl. Srikaya Karanggedang-Sidareja, Karanganyar, Kec. Gandrungmangu, Kab. Cilacap, Jawa Tengah. Nina mengaku asing dengan tempat wisata murah meriah yang masih hits tersebut. Karena meski sama-sama tinggal di kabupaten Cilacap, pada kenyataannya, wilayah mereka tinggal memang luas dan jaraknya terbilang lumayan.


“Istirahat, ya. Di sini cocok buat nenangin pikiran,” ucap Akala yang mengajak Nina duduk sambil mengawasi Malini. Di depan sana, Malini sudah mendapatkan dua teman bermain kemudian mengabarkannya kepada Akala, melalui lambaian tangan.


“Sekarang ke Mas dulu, baru ke aku!” sergah Nina menertawakan tingkah sang adik yang tampaknya mulai benar-benar dekat dengan Akala.


Akala tersenyum puas. “Ke mas Ojan saja, Malini dekat.”


Mendengar nama Ojan disebut, Nina langsung menunduk murung.


“Nin, ... enggak usah takut ke mas Ojan,” yakin Akala.


Nina berangsur menatap Akala. “Sebenarnya mas Ojan memang orang yang sangat baik. Namun sikap agr*esifnya memang ngeri, Mas.”


Akala mengangguk-angguk kemudian menggenggam sebelah tangan Nina.


“Oh iya ... tadi mamah Mas kasih rantang bekal. Katanya ada pecel sama rujak Mbak Mbi. Mamah bilang, ini cocok banget buat acara piknik kita!” ucap Nina bersemangat. Ia mengeluarkan rantang bekal yang dimaksud dari ransel gendong berukuran sedang warna birunya.


“Kayaknya bentar lagi, kita bakalan diminta buka cabang di sekitar sini,” sergah Akala bersemangat.


Nina hanya tersipu. “Ya enggak apa-apa. Apalagi kelihatannya memang menguntungkan.”


Akala tersenyum geli. “Aku kumpulin modal dulu, ya. Tiga atau empat tahun lagi, biar enggak berat-berat amat.”


Membahas modal, Nina jadi ingat tanah bekas rumahnya dan juga dua petak sawahnya yang belum ia ketahui nasibnya. “Aku punya tanah dan sawah. Jual saja lah Mas, daripada enggak keurus. Bisa buat modal usaha atau beli di dekat rumah Mas. Daripada enggak keurus.”


“Itu hak kamu. Urusan modal nanti aku yang siapin,” yakin Akala, tapi dengan cepat, Nina menggeleng.


“Aku beneran enggak mau lihat apa yang di sana lagi termasuk kenangan bu*ruknya, Mas. Toh, andai tetap dipertahankan, siapa yang urus? Yang ada, aku dan masa laluku pasti akan menjadi bahan bula*n-bula*nan tetangga, padahal aku beneran ingin move on!” yakin Nina yang akan selalu berat jika membahas masa lalunya.


Akala mengangguk-angguk berat. “Oke, lusa kita urus.”


“Mbah sama papah bilang, kita nikah tapi resepsinya tahun depan. Nunggu pergantian tahun karena kemarin, mas Aidan dan mbak Mbi baru nikah dan adain resepsi. Percaya enggak percaya, orang tuaku masih menjunjung tinggi Kejawen,” ucap Akala menatap Nina penuh keseriusan. Tangan kanannya sampai menggenggam erat tangan kiri Nina.


Nina yang balas menatap serius Akala, segera mengangguk-angguk. “Iya, ... aku tahu yang itu, Mas. Bukan tahu paham, tapi karena pernah dengar. Pas sebelum ke Bandung, itu kan ada tetangga. Si kakak baru nikah, satu atau dua bulan, tapi adiknya yang masih SMA hamil. Jadi nikah gitu kan, perut sudah mulai besar. Nah, pihak prianya minta pesta, si wanita belum sanggup karena baru ada hajat kakaknya itu. Nunggu pergantian tahun. Jadi resepsinya ya setelah lahiran anak sudah umur satu tahunan. Mamah papahnya di pelaminan, anaknya sudah lari-lari.”


Akala tersenyum puas kemudian mengajak Nina untuk tos. “Tos dulu ... selega ini karena kamu langsung ngerti!” ucapnya dan langsung membuat Nina yang awalnya kebingungan menjadi perlahan tersipu, kemudian membalas tosnya.


“Mas Akala buru-buru menikahiku karena beliau ingin menjagaku lebih leluasa,” batin Nina. Ia yang awalnya diam-diam memperhatikan Akala melalui lirikan, menjadi memergoki interaksi antara pria itu dengan Malini.


Ternyata Malini akan melewati jembatan gantung yang menghubungkan mansion satu ke mansion sebelahnya. Akala memberi Malini semangat agar bocah itu berani menyeberang.


“Ke sana dulu, yuk, sebentar. Makannya nanti habis dari sana. Kayaknya seru!” sergah Akala sambil membenahi rantang di hadapannya, menyusunnya lagi, kemudian menggandeng Nina, membawanya agak berlari untuk menyusun Malini.


“Ya Allah, ... menikah dan menjadi bagian dari Mas Akala ibarat dapat rezeki nomplok. Apakah ini balasan dari setiap keikhlasanku selama ini?” pikir Nina yang belum apa-apa sudah merasa sangat bahagia. Apalagi Akala membuat kebersamaan mereka layaknya potret keluarga kecil bahagia.


Akala begitu pengertian, pria hangat yang mendekati sempurna, tapi sangat sempurna di mata Nina.


Puas liburan di sana dan mengabadikannya melalui foto maupun video kamera ponsel, mereka mengunjungi mal yang lokasinya tidak begitu jauh dari sana. Malahan jika Nina amati, lokasinya juga dekat dari rumah Akala.


“Kita sudah dekat rumah, yah, Mas?” tanya Nina berusaha menyudahi rasa penasarannya.


Mendengar itu, Akala terkejut. Ia yang tak bisa mengakhiri senyumnya refleks menatap Nina. “Kok kamu tahu? Sudah paham, ya?”


“Lah, ke depan bentar ambil kanan itu dekat sekolah Lini, Mas.” Nina tersenyum pasrah. Lain dengan Akala yang sudah langsung tersenyum lepas.


“Bener ... bener. Ternyata kamu sudah paham lokasi sekitar, ya. Ayo kita beli sekaligus makan es krim dulu. Sekalian kamu mau beli apa? Habis ini kita ke pantai, ya? Mau ke Kerapyak, apa Pangandaran? Yang dekat-dekat saja. Pulangnya kapan-kapan!” sergah Akala yang kemudian tertawa.


Tawa pertama Akala yang benar-benar lepas layaknya manusia pada kebanyakan. Tawa yang juga langsung menular kepada Nina. Karena sekadar melihat Akala tertawa lepas layaknya sekarang, Nina juga sudah langsung merasa sangat bahagia.


“Kalau kita pulang kapan-kapan, nanti yang ada kita langsung dapat kartu merah, Mas!” ucap.Nina yang kembali mengikuti tuntunan Akala. Seperti sebelumnya, Akala kembali menggandengnya maupun Malini secara bersamaan.


“Enggak lah, aku cuma bercanda. Ayo kita cari apa ... beli baju?” Akala langsung mengajak Nina ke deretan yang menjual pakaian untuk wanita meski Nina belum membalas apalagi memberi persetujuan. Tak disangka, di sana mereka justru bertemu dengan Helios dan Chole. Membuat kecanggungan langsung hadir menyingkirkan senyuman yang awalnya menjadi warna utama dalam kebersamaan mereka.


“Hai ...? Seru banget! Boleh gabung, kan?” ucap Chole yang kemudian melangkah maju sambil sesekali menatap Helios yang masih menggandengnya.