Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
90 : Menjadi Pengantin Lagi


Menjadi pengantin lagi, benar-benar Akala dan Nina jalani. Mereka memakai pakaian pengantin bernuansa putih gading, sementara Azzam dan Sundari memakai nuansa biru muda. Lain dengan mas Aidan dan mbak Arimbi yang memilih memakai warna keemasan. Sementara Azzura dan Excel, keduanya sengaja memakai nuansa merah maroon. Tak mau kalah, pak Kalandra dan ibu Arum juga sengaja hadir dengan nuansa abu-abu. Malahan keduanya berdiri di tengah bersama para cucu, sementara anak-anak mereka merangkul pasangan satu sama lain.


Tak lupa, anak-anak pak Kalandra dan ibu Arum juga mengajak kakek nenek mereka, juga para mertua sekaligus ayah Angga, untuk naik ke panggung dan bersiap foto bersama.


Diam-diam, Nina memperhatikan kedua mertuanya. Keduanya yang menjadi sentral di sana, tak hentinya mengumbar senyum yang tak jarang disertai air mata. Namun bisa Nina pastikan, itu air mata bahagia.


“Iya, ... pasti mamah sama papah suamiku bangga banget. Ibaratnya, mereka beneran berhasil didik anak. Apalagi kalau lihat keadaan sementara kita sama-sama tahu mas Aidan bukan anak biologis pak Kalandra, melainkan anaknya ayah Angga—baca novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga. Ini beneran bukti nyata kesuksesan rumah tangga yang sesungguhnya. Semua anak sukses, dan mereka beneran akur,” batin Nina, yang tiba-tiba saja ingin mengikuti jejak mertuanya. Ia bahkan jadi ingin memiliki banyak anak, selain Nina yang berniat menjadi mertua sebaik mertuanya, atau kalau bisa lebih. Sebab ia yang sudah merasakan memiliki mertua sebaik ibu Arum dan pak Kalandra, benar-benar merasa sangat bahagia.


“Pah, aku enggak kelihatan,” lirih Nina heboh dan sengaja protes. Lantaran di acara foto bersama keluarga besar, ia yang bertubuh mungil, tertutup yang lain.


Akala yang sudah langsung menertawakan Nina, sengaja membopongnya menggunakan sebelah tangan. Sementara Nina yang diperlakukan semanis itu, sengaja mendekap pundak Akala dari samping kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Akala.


“Yang, lebih mesra!” mohon Akala masih berbisik-bisik, selain ia yang juga masih sibuk menahan tawa.


“Enggak malu sama anak?” lirih Nina masih menahan tawanya, tapi sang suami yang ia tatap mesra meski ia melakukannya dengan malu-malu, justru langsung menggeleng.


“Enggak apa-apa, ayo fokus foto!” bisik Akala sangat bersemangat.


Nina sudah langsung mengangguk sambil tersenyum cerah kemudian menempelkan bibirnya yang sengaja ia kerucutkan, di sebelah pipi sang suami.


“Ojan jangan boleh foto kalau belum kondangan enam puluh juta!” ucap Azzam yang lagi-lagi menguras tawa di sana, bertepatan dengan rombongan keluarga kecil Ojan yang memakai nuansa pink, menaiki panggung.


“Mbak Septi, mantumu jahat banget ke aku!” rengek Ojan kepada ibu Septi yang sudah ada di panggung pelaminan untuk menjalani sesi pemotretan foto keluarga.


“Ya sudah kondangan, biar—” ucap ibu Septi yang terpotong oleh ocehan Ojan.


“Biar dead, yah, Mbak Septi? Iya, kan, Maiwaifi?” ucap Ojan yang kali ini benar-benar pasrah.


Ojan yang memang menenteng ransel, segera meletakkannya di depan kerukunan keluarga yang siap menjalani sesi foto. Ia mengeluarkan beberapa toples berisi uang koin dari sana. Membuat Azzam yang kiranya paham maksud dari apa yang Ojan lakukan, heboh protes, tak mau dikondangi menggunakan uang logam.


“Sueee kamu emang, Jan! Masa iya aku dikondangi uang retjeh sebanyak itu!” kesal Azzam tak segan melepas sepatunya untuk mengejar-ngejar Ojan.


Sambil lari terbirit-birit karena ketakutan, dan sampai turun dari panggung mempelai, Ojan berkata, “Itu jumlahnya enam puluh juta lebih, Jam. Aku nabung itu dari zaman aku masih imut, sampai sekarang jadi mantan musafir cinta pemuja janda. Jadi, total uang kondanganku ada enam puluh juta enam puluh enam ribu enam perak!”


Azzam yang sudah lelah karena Ojan larinya sangat kencang, hanya tertawa pasrah. “Ya ampun bayi akhir zaman. Entah sampai kapan kamu bakalan begitu. Karena sudah punya istri anak saja saja, kamu masih saja begitu!” lirihnya sambil berkecak pinggang melepas kepergian Ojan. Di panggung sana, Kim Rain Abdurahman dan tidaklah lain anak biologis Ojan, nangis kejer karena ayahnya pergi. Bocah berusia dua tahun dan alhamdullilahnya berwajah ganteng mirip Excel karena memang, Ojan benar-benar menikah dengan Rere adik Excel, membuat Rere menyusul turun dari panggung untuk menyusul Ojan. Namun nantinya, jika semua novel lomba kelar aku urus, aku bakalan bikinin novel Ojan dan Rere ya.


“Bojomu, Re. Bikin beban hidup aku nambah, bawa uang logam sebanyak itu!” protes Azzam kepada Rere yang akhirnya ada di hadapannya.


Rere yang memakai kerudung pink, tersenyum pasrah. “Aku sudah siapin cek loh, Mas. Biar enggak ribet, tapi Mas Ojan bilang mau kondangan pakai uang tabungannya sejak kecil, yang cek katanya buat biaya pendidikan anak-anak,” jelasnya benar-benar lembut sekaligus sabar.


Mendengar penjelasan Rere, Azzam langsung tidak bisa berkata-kata. “S-serius, Re. Seorang Ojan ngomong begitu?!”


“Iya, Mas. Mas Ojan kalau lagi lempeng, ya ... hahahaha ... ya gitulah Mas!” jujur Rere mendadak tidak bisa menggambarkan keadaan unik suaminya. Tawanya sudah langsung menular kepada Azzam dan ia ketahui merupakan bestie rasa musuh dari sang suami. “Apalagi kan mas Ojan diajak gabung jadi pelawak kan Mas. Semangat banget dia mau kerja jadi artis, buat masa depan anak!”


“Hahahaha ... Ojan jadi artis gara-gara nikah sama kamu dan kebiasaan rusuh ke lokasi syuting! Astaga!” Azzam memilih pergi dari sana, kembali ke panggung pelaminan, terlebih sang istri sudah memanggil-manggil menunggu. Namun sebelum kembali, ia sengaja memakai sepatunya lebih dulu.


***


Selesai acara resepsi, mereka kecuali Azzam dan Sundari langsung pulang ke rumah. Termasuk keluarga kecil Akala dan Nina yang benar-benar kelelahan. Akala mengemban kedua putrinya, sementara Nina dijatah untuk membukakan pintu sekaligus menutupnya. Tak lupa, Nina juga segera menyiapkan kasur lebih rendah yang ada di sebelah kasur besar tempatnya dan Akala tidur. Karena di sana, kedua putri mereka biasa tidur.


“Ini enggak dibangunin dulu yah, Pah? Mereka belum gosok gigi,” ucap Nina sambil melepas pakaia*an anaknya, dengan hati-hati.


“Enggak usah, yang. Sekali-kali enggak apa-apa, absen. Soalnya mereka pasti kecapean banget. Aku saja merasa ngilu, meriang, apalagi mereka yang anak-anak. Dua hari ke depan aku cuti,” ucap Akala sambil tersenyum pasrah. Ia melepas jasnya, tapi sang istri memintanya untuk memastikan Malini yang sudah mereka perlakukan layaknya anak sendiri.


Akhir bulan atau awal bulan, juga akan ada novel Malini yang kemarin malam bikin aku enggak bisa tidur saking dalemnya. Nanti ya, aku urus dulu. Judulnya : Anak Genius Dari Istri yang Tak Perawan.