Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
70 : Pacaran Setelah Menikah


Nina membuka pintu kamar Akala dengan sangat hati-hati. Ia baru saja kembali dari kamar Malini, memastikan adiknya itu tidur dengan nyenyak.


Akala masih sibuk di meja kerjanya, duduk dan fokus mengetik di laptop. Alasan yang juga membuat Nina melangkah mengendap-endap.


“Lini sudah tidur?” tanya Akala.


“Eh!” Nina yang kaget refleks latah. Detik itu juga Akala menertawakannya meski Akala masih fokus mengetik di tengah tatapan pria itu yang juga fokus menatap layar laptop.


“Sudah, Mas.” Nina melangkah takut sekaligus tak bersemangat menghampiri Akala. Ia duduk persis di belakang kursi Akala karena meja kerja Akala memang sangat dekat dengan tempat tidur.


“Enggak ada mas Ojan, perasaan kamu jadi jauh lebih tenang, kan?” lanjut Akala.


“Iya, Mas. Jadi enggak was-was.” Nina menunduk dalam.


“Alhamdullilah ....”


“Besok, Mas kerja?” Nina sengaja memulai obrolan di malam yang harusnya menjadi malam pertama mereka.


“Kamu mau jalan-jalan enggak? Kamu maunya gimana, nanti aku sesuaikan dengan jadwal,” balas Akala yang meski sibuk, tetap bersikap lembut. “Eh, Yang ... aku beresin ngetik ini dulu, ya. Lagi buat konten. Niatnya ngetik apa, tapi yang aku tulis justru obrolan kita!” lanjutnya yang mengakhiri dengan tawa tak berdosa. Baru ia sadari, mengetik sangat butuh konsentrasi agar yang ditulis benar-benar seperti tujuan sekaligus harapan.


Nina juga sudah langsung menahan tawanya, memilih diam sambil memandangi kepala Akala, sebelum akhirnya ia mengawasi suasana sekitar. “Daripada hanya diam, aku mau beresin kado, yah Mas. Mau akur rapihkan taruh mana gitu? Ada tempat kosong enggak, Mas?”


“Buka sekalian, loh, biar bisa disimpan sesuai golongan,” balas Akala.


“Oh, oke, Mas. Tapi poto dulu ya, buat kenang-kenangan,” ucap Nina.


“Tunggu lima menit lagi, aku beres!” yakin Akala.


Nina yang membalasnya dengan bergumam, berangsur menghampiri tumpukkan kado yang dimaksud dan keberadaannya tak jauh dari bibir tempat tidur mereka. Ia sengaja merapikan susunan di sana lebih dulu. Barulah ketika akhirnya Akala menghampiri, ia diminta menjadi model yang duduk di sekeliling tumpukan kado.


Yang Nina tahu dari saudara-saudara Akala, suaminya itu merupakan fotografer. Hasil foto Akala kerap dibandrol dengan harga terbilang mahal.


“Yang, boleh foto bareng, enggak?” tanya Akala sambil tersenyum melas kepada istrinya sendiri. Ia siap meninggalkan kameranya agar bisa foto berdua dengan Nina.


“Ya sini ...,” lembut Nina yang sudah langsung menertawakan Akala. Tentu tawa lembut yang masih malu-malu.


Akala melangkah buru-buru kemudian duduk sila di sebelah kanan Nina. Ia memeluk Nina dari samping kanan kemudian memasang senyum terbaiknya. “Hitungan ketiga fokus senyum ya,” ucapnya bersemangat.


“Satu, dua, ti—” Akala berseru. Dan di hitungan ketiga, kilat dari kamera ponselnya menandakan bahwa acara foto mereka sudah terekam sempurna.


“Yang, kamu sudah coba foto efek?” sergah Akala sudah langsung heboh sambil menatap sang istri penuh cinta.


Nina menggeleng sambil menatap datar Akala. Berbeda dari biasanya, kali ini Akala benar-benar ceria. “Aku bukan orang yang hobi foto. Bahkan di hapeku hanya ada foto Lini sama beberapa foto yang buat aku tertarik!”


“Mulai sekarang siap-siap jadi modelku ya. Gini-gini kan, suamimu fotografer!” yakin Akala. “Tapi di hape kamu, ada foto aku, enggak?”


Nina sudah langsung tersipu. “Aku belum berani simpan foto Mas.”


Akala terkikik kemudian membingkai gemas wajah Nina menggunakan kedua tangannya. Kemudian, ia juga menciu*m gemas kening Nina.


“Kamu enggak usah mikir macam-macam, ya. Aku siap nunggu, kok. Sambil nunggu, kita bisa pacaran dulu. Pacaran setelah menikah biar lebih berkah. Biar kamu enggak trauma lagi, ... pelan-pelan. Etts, jangan merasa enggak enak hati lagi!” Akala buru-buru mendekap erat Nina.


“Maaf, yah, Mas?” lirih Nina yang belum membalas pelukan Akala.


“Enggak usah minta maaf. Kamu enggak salah, kok!” balas Akala. Tak lama kemudian, ia mendapat balasan pelukan dari Nina.


“Di luar masih hujan,” lirih Akala sambil terus memeluk erat Nina. Pandangannya mencoba mengawasi keadaan luar dari jendela depan meja kerjanya yang baru ia tutup menggunakan gorden tipis.


“Iya ....” Nina menjawab singkat sambil terus menempel memeluk Akala.


“Kamu masih takut?” lanjut Akala.


“Aku berani-beraniin,” jujur Nina.


Akala refleks tersipu. Namun baru ia sadari, Nina sudah mulai terbiasa bahkan mungkin nyaman memeluknya.


Setelah suasana sempat sunyi nyaris tiga menit, Nina sengaja bertanya, “Mas, besok aku kerja kayak biasa, kan?”


“Libur dulu, pasti masih ada keluarga yang datang. Kamu sama mamah, pasti nanti diajak-ajak ke mana. Apalagi bibi sama nini juga masih di sini. Belum lagi keluarga Chole,” balas Akala.


“Kok libur terus sih, Mas? Kalau aku sampai dipecat, gimana?” rengek Chole, tapi justru membuat Akala tertawa.


“Aku bosnya!” ucap Akala di sela tawanya.


“Mas Aidan sama orang tua Mas, juga bosnya Mas, kan?” sergah Nina.


“Mereka tahu dan pasti izinin. Lagian kan di rumah makan hanya kamu yang izin, harusnya enggak berdampak fatal,” yakin Akala. “Lagian besok kalau kamu ikut kerja, kamu juga cukup bantu-bantu aku. Nanti belajar ya, biar pas aku pergi keluar kota, kamu bisa gantiin dan kita juga sama-sama enggak kewalahan!” semangat Akala.


“Oh iya, Mas. Omong-omong, minggu depan aku ada sekolah tatap muka langsung,” ucap Nina sengaja mengabarkan jadwalnya.


“Enggak apa-apa, nanti aku temani,” yakin Akala sambil terus memeluk Nina.


Sekitar tiga jam kemudian, Nina terbangun karena guntur yang sibuk menyambar di luar sana. kendati demikian, Akala yang di sebelahnya tetap pulas. Lagi, guntur kembali membuat jantung Nina nyaris loncat. Namun kali ini Nina buru-buru memeluk erat Akala yang masih lelap. Akala hanya sedikit terusik, berangsur memeluknya kemudian menutup tuntas punggung mereka menggunakan selimut.


“Sehat-sehat kamu yah Mas. Orang baik seperti kamu wajib selalu sehat. Sehat selalu, panjang umur, lancar rezeki, dan semoga aku juga cepat jadi istri yang baik buat kamu,” batin Nina. Dalam dekapan Akala, Nina terus memperhatikan wajah Akala dari dagu ke atas.


“Yang, kamu bisa tidur, enggak?” tanya Akala yang kemudian membuka matanya. “Kenapa, Mas?”


“Detak jantung kamu keras cepat banget.” Akala berangsur duduk.


“Petir, sama gunturnya, Mas. Sekeras itu. Siapa sih yang enggak ngeri,” keluh Nina.


“Berarti bukan karena pelukan aku, kan?” balas Akala memastikan tapi Nina segera menggeleng kemudian menyusul duduk sebelum akhirnya memeluk Akala.


Pacaran setelah menikah, mereka benar-benar melakukannya. Karena Akala yang sangat penyabar juga mampu mengimbangi Nina.


Di tempat berbeda, di lapas pak Surat dan ibu Sulastri ditahan, keduanya tengah merasakan kesakitan luar biasa. Luka bakar yang membusu*k menjadi penyebab utamanya. Belum lagi, keduanya diperlakukan semena-mena. Alat kelam*in mereka yang sebelumnya gatal-gatal akibat dikerja*i sesama tahanan, kini dipenuhi koreng penuh nanah. Dan baik pak Surat maupun ibu Sulastri tidak yakin, sampai kapan mereka masih bisa bertahan?