Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
74 : Rezeki


“Mas, semuanya sudah didusin. Yang buat oleh-oleh ke Jakarta,” ucap Nina mengabarkannya ke sang suami.


“Kamu duduk dulu, Yang. Dari tadi, aku lihat kamu mondar-mandir, aku jadi pusing,” keluh Akala sambil memegangi kepalanya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya berangsur menggandeng kemudian menuntun Nina untuk duduk.


Akala sengaja membuat Nina duduk di kursi kerjanya karena di sana jauh lebih empuk.


Rencananya, besok pagi keluarga dari Jakarta termasuk keluarga Tuan Maheza memang akan pulang. Rombongan akan kembali ke Jakarta dan Akala maupun Nina berinisiatif membawa mereka oleh-oleh. Empat dus mereka siapkan dan masing-masing keluarga akan mendapatkan jatah dua dus berisi olahan andalan rumah makan, khususnya sambel dan aneka bumbu.


Nina menghela napas dalam, mencoba meredam rasa lelah yang baru ia rasa setelah seharian ini, ia benar-benar sibuk. Namun sedari tadi ia sibuk, ia sama sekali tidak merasa lelah. Ketika Nina melihat layar laptop sang suami, ia sudah langsung terkejut lantaran deretan pesanan online produk mereka yang dipasarkan, benar-benar banyak.


“Ini pesanannya banyak banget, Mas?” ucap Nina.


“Rezekimu. Itu dari kita nikah, pesanannya jadi membludak. Jadi kamu enggak usah mikir ke luar negeri apalagi ke Korea ataupun Jepang,” ucap Akala dengan santainya.


Mendengar itu, Nina langsung tersenyum tak berdosa dan perlahan menjadi tertawa. “Berarti di sebelah lagi sibuk packing-paking, ya, Mas? Pengin lihat, ih!”


“Kamu istirahat dulu. Mau makan atau minum apa, enggak?” tawar Akala yang kemudian memijat-mijat kedua pundak Nina. Detik itu juga tawa Nina menjadi makin lepas, selain Nina yang berdalih geli.


“Bersama mas Akala, waktu terasa berlalu lebih cepat. Semuanya terasa indah, bahagia!” batin Nina yang kemudian refleks mendekap kedua tangan Akala.


“Sepertinya Nina memang sudah mulai biasa,” pikir Akala yang kemudian memberanikan diri untuk mendekap Nina dari belakang.


“Yang paling laris itu bumbu rujak sama pecelnya mbak mbi, yah, Mas,” ucap Nina.


“Iya, makanya aku mulai coba memasarkan bumbu masakan di rumah makan kita,” ucap Akala yang kemudian meletakan dagunya di pundak kanan Nina.


Mendengar itu, Nina berangsur menoleh Kemudian menatap Akala. “Nanti aku boleh eksperimen bumbu atau masakan lain, kan? Kalau bikin bawang merah goreng, laku enggak? Nanti aku praktik bikin bawang merah gorengnya dulu soalnya yang biasa aku bikin di Bandung sama yang di sini, beda. Termasuk bawang putih goreng, juga biasanya aku bikin, Mas.”


“Bereksperimen lah sebanyak mungkin. Aku pasti akan selalu menampung ide-ide kreatif dari kamu!” balas Akala.


Nina langsung tersenyum geli. “Tapi nanti aku eksperimennya bareng Mas saja. Jangan minta aku buat gabung sama mbak Mbi apalagi mamah. Mental aku belum sesuhu mereka. Baru kalau sama Mas sudah lolos seleksi, aku baru berani praktik di hadapan yang lain termasuk mereka.”


Bukannya menyanggupi apalagi iba, Akala malah tertawa. “Kamu masih takut banget, ya?”


“Iya, Mas aslinya gitu. Aku beneran takut,” balas Nina benar-benar jujur, tapi lagi-lagi membuat Akala tertawa.


Sore berteman senja, membuat kebersamaan Akala dan Nina makin romantis saja. Terlebih kini meski Akala terus bersandar manja kepada Nina, Nina tetap baik-baik saja. Malahan sesekali, meski masih ragu sekaligus kaku, tangan kanan Nina juga kerap membingkai bahkan membel*ai wajah Akala.


“Tok ... tok ....”


Menyimak itu lantaran Nina juga sampai menatapnya di tengah kenyataan wajah mereka yang sangat dekat, berangsur mengangguk-angguk.


“Mas, ini Mbak Rani. Itu di luar ada Tuan Maheza dan keluarga ingin bertemu Mas sekaligus Mbak Nina!” seru dari luar sana.


Mendengar itu, Nina dan Akala kompak saling tatap. Dan melalui tatapan mereka, keduanya seolah menerka-nerka, mencoba menebak alasan Tuan Maheza sekeluarga ingin bertemu dengan mereka.


Tanpa menunggu lama apalagi sampai menolak, Akala sudah langsung menggandeng Nina menemui keluarga Tuan Maheza. Ternyata keluarga Tuan Maheza menempati ruang VIP di lantai atas. Membuat Akala makin yakin, memang akan ada hal penting yang keduanya harapkan dari mereka.


“Semoga bukan menyangkut Cinta lagi karena aku beneran enggak mau Nina berlarut-larut dengan masa lalunya,” batin Akala yang sudah langsung mendengar suara berisik Chole di dalam sana lantaran istri Helios itu sedang berdebat dengan Ojan.


Ternyata, Tuan Maheza dan ibu Aleya ingin menjalin hubungan baik dengan Nina. Keduanya ingin menjadikan Nina maupun Malini, sebagai adik-adik Chole.


Sebelum berucap, Akala yang mengambil alih pembicaraan termasuk itu untuk Nina, sengaja menghela napas dalam. “Sebelumnya terima kasih banyak karena Ayah dan Ibu sudah sangat perhatian kepada istri sekaligus adik saya—”


Sebenarnya Akala belum selesai bicara, tapi Helios yang duduk di hadapannya dengan tegas berkata, “Jangan sampai ditolak karena banyak orang tua apalagi keluarga, bakalan bikin Nina maupun Malini memiliki peluang lebih bahagia. Toh, meski dianggap anak dan diadopsi secara khusus, mereka tak mengharuskan Nina dan Malini ikut. Ya cukup kamu jaga saja, jangan sampai kecolongan seperti anak angkat yang sebelumnya. Selain itu, Papah Mamah juga bakalan bangun usaha baru buat Nina. Karena niatnya, aku dan Chole akan membeli tanah dan sawah Nina yang sedang dijual.”


Nina refleks melirik sang suami yang duduk persis di sebelahnya, di tengah tangan mereka yang masih bergandengan.


“Mas Akala enggak percaya sama Ibu?” tanga ibu Aleya.


“Eh, jangan Akala ... jangan. Percaya ke selain Allah, itu namanya musyri*k!” ujar Ojan yang bersemangat melahap es campur di mangkuknya.


“Kayaknya di pita suara si Ojan ada masalah, makanya dia enggak bisa buat enggak berisik!” cibir Helios.


“Mas Heli kuk-kukuk, di pita suaraku memang enggak hanya ada masalah. Karena di sana memang sampai banyak beban hidup. Makanya, bukankah alangkah baiknya aku juga diangkat jadi anak?!”


“Masalahnya situ sudah kakek-kakek! Sudah enggak pantas diangkat jadi anak!” balas Helios lagi.


“Pantasnya diangkat masukin keranda, gitu? Aku kan masih perjaka, masih layak diangkat jadi anak mama dan papah. Iya, enggak, Brokoli sayang?” balas Ojan merengek-rengek, tapi Chole yang tengah makan rujak malah menertawakan Ojan.


Diangkat jadi anak dan akan diberi modal untuk usaha, selain Chole yang akan membeli tanah maupun sawah Nina, tak hanya membuat Akala yakin itu wujud dari rasa bersalah sekaligus tanggung jawab Tuan Maheza sekeluarga, terhadap apa yang menimpa Nina dan itu ulah Cinta. Sebab hal yang sama juga turut Nina pikirkan. Tentunya, Nina tak mungkin bisa menolak niat baik Tuan Maheza sekeluarga. Karena Ojan yang menge*mis meminta jadi anak angkat saja, tidak diberi kesempatan. Kenapa Nina dan Malini sampai menyia-nyiakan, terlebih Tuan Maheza sekeluarga terkenal sangat baik.


“Ya Allah, ... apakah ini juga bagian dari rezeki?” pikir Nina masih belum bisa berkomentar. Namun niat baik Tuan Maheza sekeluarga, tetap membuatnya bahagia.


“Jadi, mulai sekarang aku anak kalian, ya. Brokoli jadi mamah aku, dan Mas Heli kuk-kukuk, papah aku. Arrrgghhhh! Keluarga idaman banget ya kita!” heboh Ojan yang akhirnya berhasil membuat Chole dan Helios menyerah, mengangkatnya sebagai anak.


“Anak durhakem, anak tak dianggap, anak akhir zaman!” ucap Helios lagi karena ia sungguh terpaksa menerima Ojan sebagai anaknya.