
Meski ragu, Nina sengaja mengirim pesan WA ke kontak Akala. Beberapa kali ia hapus tulis, hingga akhirnya sebuah pesan ia kirimkan kepada kontak berfoto profil hamparan langit biru.
Nina : Mas, aku mau tanya. Itu tadi, beneran hanya gitu?
Tanpa menunggu lama, Nina sudah mendapati pesannya dibaca dan Akala sudah langsung mengetik.
Mas Akala : Hanya gitu bagaimana? Maksud aku, kamu mau bahas yang mana? Yang tadi kan banyak. Urusan sekolah, apa dengan keluarga aku?
Nina : Keluarga Mas, Mas. Mereka enggak bahas apa pun.
Mas Akala : Ya memang gitu. Mereka enggak mungkin langsung maksa kita buat langsung nikah. Tadi kamu juga dengar sendiri, kan? Mereka menyerahkan semuanya ke kita. Mereka hanya akan membimbing, kasih arahan sekaligus mendukung setiap keputusan kita. Meski kalau bisa, yang namanya orang tua, keluarga, apalagi kita sering bareng, mereka pasti lebih menganjurkan lebih cepat menikah, lebih baik.
Nina : Aku nangkepnya juga begitu, Mas.
Mas Akala : Enggak harus ambil keputusan sekarang. Dijalani dulu, lagian kita kan baru kenal. Aku tahu kamu masih ragu dan ingin mengenal aku lebih jauh.
Balasan pesan kali ini nyaris kembali Nina iyakan, tapi Nina merasa serba salah.
Mas Akala : Ya sudah, sudah malam. Kamu tidur, ya. Seharian sibuk kerja, pasti kamu capek banget.
Nina : Iya, Mas. Makasih banget ya. Buat semuanya. Aku bingung mau bagaimana bilangnya soalnya aku bukan yang pandai bicara. Tapi aku janji, aku akan melakukan yang terbaik. Bismillah, aku enggak akan mengecewakan Mas sekeluarga.
Mas Akala : ❤️
“Heh ...?” Nina terdiam bingung, tapi itu sungguh pesan terakhir yang Akala kirimkan kepadanya.
Nina : Memangnya secepat itu, Mas sayang ke aku?
Mas Akala : Iya. Sudah sayang, sudah nyaman. Beneran enggak butuh yang lain lagi.
Detik itu juga jantung Nina sudah langsung berdetak tak karuan hanya karena membaca pesan dari Akala barusan.
Mas Akala : Memangnya kamu enggak mau punya rumah tangga harmonis seperti orang tuaku, sekaligus kakak-kakakku? Karena meski mas Azzam dan Sundari belum resmi, mereka juga enggak kalah harmonis.
Nina : Mau, Mas. Mana mungkin enggak mau. Enggak ada yang enggak mau karena orang gi*la saja pasti mau kalau dikasih bahagia.
Mas Akala : Ya sudah, pelan-pelan saja di jalani.
Nina : Iya, Mas.
“Aku balas iya Mas, begini ... berarti dengan kata lain, aku sudah menerima tawaran sekaligus cinta mas Akala. Mmm, deg-degan enggak karuan begini. Moga, kita memang jodoh ya Mas,” batin Nina yang kembali mendapat emoji hati dari Akala.
Nina : Mas, aku masih malu. Aku belum terbiasa. Maaf kalau aku belum bisa balas-balas yang begitu. Beri aku waktu seminggu ya, buat belajar 🙏🙏🙏
Membaca itu, Akala langsung tersipu. “Nih anak polos banget.” Karena pada kenyataannya, Nina memang masih polos. Hanya saja, Nina justru harus menjadi korb*an kebej*atan orang tua tirinya. Dan seperti pandangan Azzam pada sosok Nina, dalam kamus hidup Nina tidak ada pacar. Kamus hidup Nina hanya berisi kerja, cari uang, keluarga, membangun hidup lebih baik, barulah setelah Nina menikah, dia baru akan memikirkan pasangan dan itu suami.
“Semoga kita memang jodoh, yah, Nin!” batin Akala yang kemudian mengaminkan doanya sendiri.
Keesokan harinya tetap tidak ada perubahan spesifik. Semuanya tetap sama, hangat dan saling membantu satu sama lain.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang, Nin. Kamu pasti merasa minder, kamu pasti merasa malu, bahkan kamu merasa tak pantas, tapi mau mau dengan Akala karena kamu yakin, Akala mampu membuat kamu bahagia?” lirih mbak Arimbi ketika hanya sedang berdua di dapur.
Mbak Arimbi sedang memasak sayur asem dengan resep favorit keluarga di sana. Niatnya selain membantu, Nina juga bermaksud mempelajari resepnya dari mbak Arimbi. Namun ditodo*ng layaknya tadi, hati Nina langsung terenyuh.
“Iya, Mbak,” lirih Nina sambil menunduk dalam.
“Dijalani saja, enggak semua wanita seberuntung kita, bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Dengerin Mbak, kamu harus terima Akala. Akala itu orangnya baik banget. Anaknya enggak banyak omong, tanggung jawab, penyayang, pekerja keras, tampang ya oke. Enggak ada yang kurang, kan?” bisik mbak Arimbi.
“Yang kurang memang hanya di akunya, Mbak!” sedih Nina masih menunduk dalam sementara kedua tangannya bergandengan di depan tubuh.
“Untuk yang itu, kamu cukup jadi Nina yang lebih baik lagi. Lagian kalau bisa memilih, kamu juga enggak mau menjadi sosok yang kurang, kan? Kamu kan korban, tapi bukan berarti hidupmu berakhir hingga kamu menyerah. Perjalanan kamu masih sangat panjang. Nanti kamu sekolah yang bener, jangan sia-siakan kesempatan ini, ya. Nanti Mbak pasti juga bantu, kok. Apalagi kalau Mbak ada di sini. Soalnya kan, Mbak harus ke rumah ayah Angga juga!” lanjut Arimbi masih berbisik-bisik dan kali ini sampai meraih sekaligus menggenggam kedua tangan Nina.
“Iya, Mbak. Sekali lagi makasih banyak!” lirih Nina takut-takut menatap Arimbi.
“Keluarga sini orang baik semua, Nin. Kamu enggak usah takut. Manfaatkan saja kesempatan ini buat jadi Nina yang lebih baik lagi!” yakin mbak Arimbi masih berusaha memberikan dukungannya.
***
Siangnya, selepas jam makan siang, semuanya tidak ada yang berubah. Nina tetap sibuk mengurus setiap pesanan minuman, selain Nina yang akan segera membersihkan meja makan bekas pengunjung, atau malah menyambut tamu kemudian mencatat setiap pesanan. Hanya saja, kedatangan sepasang paruh baya yang dikawal dua orang pria dan mereka mencari Nina, membuat Nina khawatir terlebih Akala sedang keluar. Di sana hanya ada mbak Rani, tapi sayangnya, pekerja yang ditanyai mengenai keberadaan Nina, sudah mengabarkan perihal Nina kepada tamu tersebut.
“Lain kali jangan asal langsung kasih tahu gitu ya. Dikroscek dulu. Apalagi itu, kayak bawa pre*man gitu. Kamu enggak usah keluar, Nin. Biar Mbak saja yang menemui mereka,” sergah Mbak Rani.
Nina sudah langsung merasa serba salah. “Tapi, Mbak ... takutnya niat mereka enggak bener karena mereka saja sampai bawa orang serem gitu. Enggak apa-apa, Mbak, ... biar saya saja yang menemui mereka. Daripada Mbak justru harus merasakan dampak enggak baiknya,” yakin Nina lagi.
Nina segera maju sambil membawa nampannya, tapi mbak Rani tetap tidak mengizinkannya pergi. Hingga akhirnya kesepakatan dibuat, mbak Rani menemani Nina menemui tamunya.
Di tengah suasana rumah makan yang tak begitu ramai tapi juga tidak sepi karena di lantai bawah saja ada sekitar sepuluh pengunjung tengah makan, sepasang paruh baya tadi sudah langsung menjadikan Nina sebagai fokus perhatian.
Ibu-ibu paruh baya yang gayanya terbilang necis, sudah langsung menatap Nina dengan bengis. “Kamu Nina, kan?” tegurnya dan langsung membuat wanita yang ditegur, kebingungan.