
Meski dilarang turun, Nina tetap ikut turun. Akala yang otomatis tak sampai membukakan pintu untuknya, sudah langsung menatapnya dengan tatapan mengawasi. Akala terlihat begitu peduli kepada Nina.
“Selamat siang?” sapa seorang polisi dari tiga yang mendatangi Akala.
Akala mengangguk santun. “Selamat siang, Pak! Ada yang bisa kami bantu?” Kemudian ia sengaja menghampiri Nina dan menggandengnya. Ia khawatir Nina tak hanya bingung, tapi juga takut.
Akala tak mau, Nina yang sudah dipusingkan dengan kasu*snya sendiri juga harus makin pusing gara-gara hal lain, termasuk apa yang akan mereka hadapi beberapa saat lagi.
Sebenarnya, ketiga polisi yang menghampiri Akala dan Nina, bermaksud mengabarkan kabar Cinta lantaran dari CCTV yang ada di sekitar lokasi, Cinta sempat turun dari mobil Akala. Kebersamaan mereka terekam di CCTV rutan dan sekitarnya. Hanya saja, setelah mereka melihat wajah Nina, mereka jadi ragu karena wajah Nina sangat mirip dengan wajah Cinta. Keadaan yang seolah menjadi hasil kejahatan Cinta lantaran keputusan wanita itu membuat wajah Nina mirip dengan wajahnya, justru membuat Cinta kehilangan jati diri. Ditambah lagi setelah luka fatal di wajahnya, Cinta makin sulit dikenali.
“Kemarin Mas dan Mbaknya juga ke sini, ya?” lanjut polisi yang sebelumnya bertanya.
Tanpa berpikir lama dan sama sekali tidak melirik Nina, Akala langsung mengangguk. “Iya, Pak!” ucapnya karena kenyataannya memang benar.
“Kalau wanita yang ditinggal mobil ini wajahnya juga sama dengan wajah wanita ini, berarti korbannya bukan yang sama? Atau memang ada wanita yang kembar apa bagaimana? Tapi kalau kembar harusnya tidak karena dari usia saja jauh berbeda,” pikir pak Iman—polisi yang memang bertanya-tanya kepada Akala.
Alasan pak Iman bingung, saat di CCTV, hanya wajah Cinta yang tersorot. Sementara wajah Nina tertutup masker selain Nina yang sepanjang tersorot CCTV selalu menunduk.
“Gini Mas, kemarin ada wanita yang kecelakaan, dan setelah ditelusuri, wanita itu dari sini. Ya sudah, sepertinya kami hanya salah sangka,” ucap pak Iman yang juga langsung meminta maaf sebelum pamit undur dari sana.
Pak Iman merasa telah salah mengenali wajah Cinta dan bermaksud akan melakukan penyelidikan lebih teliti lagi. Sebab baginya tak mungkin ada orang yang wajahnya sangat mirip tapi perbedaan usianya sangat jauh.
“Mas ...?” lirih Nina dan sudah langsung mengusik Akala yang awalnya masih diam melepas kepergian ketiga polisi yang sempat mengawasi mereka.
Akala yang langsung menatap sekaligus mengajak Nina pulang juga tak sampai berpikir, wanita yang mengalami kecelakaan dan dimaksud polisi justru Cinta. Terlebih selain pak Iman tak sampai menceritakan secara detail, Akala memang sudah tidak simpati pada Cinta yang sampai detik ini tidak ada tanda-tanda menyerahkan diri.
“Masa iya Cinta memilih jadi buron?” pikir Akala yang bermaksud melanjutkan pemberitaan kasu*s Nina dan memang sudah langsung menarik simpati warganet. Kasus Nina sudah mulai vir*al dan sebagian dari mereka meminta foto para tersangka termasuk korban, diunggah tanpa disamarkan lagi. “Coba nanti aku kabari kak Chalvin. Dia juga belum kabari aku lagi,” pikir Akala.
“Harusnya saat awal aku enggak sebut nama asli kamu ya,” sesal Akala.
“Enggak apa-apa, Mas. Nyatanya begini. Bismilah aku bisa lalui semua ini. Apalagi Malini beneran butuh aku. Aku beneran harus jadi rumah sekaligus orang tua terbaik buat Malini!” ucap Nina. Tekadnya sudah sangat bulat.
“Bahkan kamu saja butuh pengobatan khusus, tapi kamu juga harus berjuang lebih keras,” ucap Akala.
Mendengar ucapan Akala yang kali ini sangat perhatian, Nina jadi menunduk nelangsa. Butiran bening akhirnya jatuh dari kedua sudut matanya. “Ya mau bagaimana lagi, Mas? Daripada aku hanya bingung, terus diam melamun, yang ada aku pasti ingat yang enggak-enggak. Namun andai ada penghapus ingatan, aku juga mau hapus memori enggak berada*b itu dari ingatanku!”
“Tapi asal kamu mau bangkit dan kamu biarin diri kamu bahagia, Insya Alloh, semuanya akan baik-baik saja!” yakin Akala yang kemudian membahas hubungan Nina dan Reno. Mengenai pernikahan keduanya.
Nina menghela napas pelan sekaligus dalam. “Setelah aku pelajari, pernikahan kami sebenarnya tidak sah. Aku dinikahkan dalam keadaan sekarat, aku beneran enggak menghendaki pernikahan itu ada, selain pernikahan itu yang hanya pernikahan siri dan posisi aku pun sedang hamil. Jadi, setelah kata talak, harusnya memang sudah enggak ada urusan lagi.”
Yang Akala tahu, pernikahan Nina dan Reno juga tak sampai membuat keduanya berhub*ungan badan. Otomatis, Nina tak sampai memiliki masa idah. “Kok aku jadi kepikiran, aku nikahi Nina saja agar Nina dan Malini ada yang jaga. Agar keduanya ada yang mengarahkan. Kasihan banget, masih pada kecil sudah harus sangat berjuang. Apalagi sejauh ini, Nina dan Malini juga tipikal yang baik, santun, mudah diarahkan,” pikir Akala.
Hari ini saja, Malini yang sekecil itu sudah sampai bantu-bantu mencuci piring di rumah. Sementara Nina jangan ditanya, dia yang pel semua lantai di rumah karena kebetulan, ART di rumah Akala memang sedang izin semua. Satu sedang sakit, satunya lagi sedang ada urusan keluarga. Setelah semuanya beres, keduanya juga membantu ibu Arum memasak. Jadi, hadirnya Nina dan Malini si rumah benar-benar mengobati kekosongan hati orang rumah. Karena setah mas Aidan dan Azzura menikah, keduanya jadi tidak selamanya di rumah.
“Namun andai iya, takutnya Nina makin pusing. Meski jika dia harus berjuang sendiri harusnya memang jauh lebih pusing,” pikir Akala lagi.
“Dalam minggu ini, kasu*s kamu sudah akan disidang. Bismillah, hasilnya yang terbaik!” ucap Akala menyudahi renungannya. Namun ia tak akan lupa dengan renungannya. Sudah terlalu lama ia menyia-nyiakan untuk cinta yang hanya semu dari Cinta. Dan baginya, sudah saatnya ia berumah tangga agar orang tuanya juga tenang.
“Bismillah, Mas.” Padahal jauh di lubuk hati Nina, dirinya masih bingung. Ia tak memiliki uang sepeser pun, sementara Malini harus ia hidupi. “Oh iya, Mas ....” Nina bisa saja meminjam uang kepada Akala, tapi ia tahu diri dan tak akan melakukannya. Meski jika sekadar berpikir hari ini Malini akan ia beri makan apa, Nina benar-benar bingung.
“Ada apa?” balas Akala sambil sesekali menoleh menatap Nina karena biar bagaimanapun, ia tetap harus fokus mengemudi.
“Kapan aku bisa mulai kerja? Hari ini ...?” Nina berpikir, meski harus mengawal kas*usnya, ia memang harus segera bekerja agar ia bisa secepatnya mendapat upah. Meski kemungkinan terpahitnya, ia baru bisa memiliki bayaran dari pekerjaan yang ia lakukan, setelah ia bekerja selama satu bulan.