Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
32 : Kebahagiaan Nyaris Sempurna


“Ke klinik saja,” ucap Akala yang melangkah lebih dulu.


Nina yang awalnya masih dipeluk oleh ibu Arum, sengaja menyusul. Tak lupa, ia juga pamit kepada pak Kalandra maupun ibu Arum.


“Ini ada apa, sih? Eh, Jan, kamu ada di sini? Eh, Jan, kok kamu bau ta*i? Kamu enggak ee di celana, kan? Atau malah habis ee lupa cebok?!” ujar Azzam yang baru datang. Ia yang juga baru beres makan dari dapur, sudah langsung mual.


“Aku enggak ee apalagi ee tapi lupa cebok, sih. Tapi pas kentut tadi buat akalin si preman, kentutku keluar ampas rada banyak kayaknya,” balas Ojan dengan jujurnya.


Ibu Arum dan pak Kalandra yang awalnya sedang sedih atas apa yang menimpa Nina dan Akala, refleks tertawa.


“Sueee kamu, Jan! Aku baru makan langsung mual gini! Uweeeeeee!” Azzam heboh. Buru-buru mencari kamar mandi terdekat karena semua yang baru ia makan di dapur, mendadak sibuk memberontak naik.


Ibu Arum yang tak mau membiarkan sang putra berjuang sendiri, segera mengurusnya. Jadi, setelah dua orang pergi dari sana, tinggal pak Kalandra dan Ojan saja.


“Sudah, sekarang kamu juga lebih baik pulang. Sudah malam,” ucap pak Kalandra.


“Mas Kalandra, ini aku memangnya enggak boleh nginep di sini juga? Atau kalau enggak, gerebek aku sama Nina, biar resmi gitu. Dia istri, aku suami. Dan kalau kami bersama jadi suami istri. Gitu loh!” rengek Ojan, tapi pak Kalandra yang seketika tertawa, langsung menggeleng tegas.


“Ya sudah deh. Aku nginep di sini saja. Nanti aku tidurnya sama Azzam. Oh iya, aku bau ta*i, ya? Eh iya ternyata bau banget!” ucap Ojan yang pada akhirnya tertawa.


Sementara itu di klinik, Nina baru saja mengambil alih kapas dan obat merah yang awalnya disiapkan oleh perawat. Di ruang tunggu karena Akala tidak mau masuk ke ruang penanganan apalagi ruang rawat, ia mengobati Akala.


“Maaf yah, Mas. Tapi ini aku bakalan pelan-pelan, kok ...,” lirih Nina dan Akala sudah langsung mengangguk.


“Kamu duduk juga,” lirih Akala sembari menepuk bangku kayu tepat di hadapannya. Bangku kayu tempatnya duduk.


Dengan hati-hati sekaligus sungkan, Nina yang awalnya berdiri di hadapan Akala, berangsur duduk.


“Besok kamu kerja seperti biasa,” ucap Akala.


“Iya, Mas.” Nina menjawab dengan takut.


“Besok rencananya aku mau menemui Reno, tapi kamu enggak usah ikut. Aku akan menemui Reno bareng mas Aidan. Aku pasti selesaikan semuanya, jadi kamu jangan khawatir, ya. Seperti yang papah mamah katakan tadi. Kamu yang semangat kerjanya,” lanjut Akala, lirih tapi cepat. Ia berangsur melepas kacamata beningnya, dan detik itu juga, Nina membantunya sambil meminta maaf dan Akala ketahu itu sebagai bentuk izin dari Nina.


Tanpa direncanakan, tatapan mereka bertemu. Apalagi meski mata Akala memang sudah agak min, melihat wajah Nina dengan jarak sedekat sekarang membuatnya melihat wajah Nina dengan sangat jelas. Namun seperti sebelumnya, Nina dengan cekatan menunduk, agak mundur dan jelas sengaja menjaga jarak.


Kesibukan hari ini Nina tutup dengan mandi dan bersiap tidur di sebelah Malini yang sudah lelap. Senyum haru refleks menghiasi kedua sudut bibir Nina hanya karena melihat Malini yang baginya jauh lebih damai. Di sini, bersama keluarga Akala, sang adik jadi jauh lebih bahagia.


“Tumbuh dan berproses seperti usiamu, yah, Lini. Mbak janji akan semangat bekerja buat kita. Biar kamu bisa seperti anak-anak pada umumnya. Main, sekolah, beli apa pun yang kamu mau. Cukup Mbak yang enggak bisa gitu, kamu jangan. Kamu harus punya kenangan masa kecil yang indah. Sementara kenangan sura*m yang sempat ibli*s-ibli*s itu torehkan, Mbak pastikan kamu akan melupakannya! Mbak pastikan semua itu akan digantikan dengan kebahagiaan!” batin Nina yang lagi-lagi menjadi nelangsa. Ia juga lagi-lagi berlinang air mata.


Memikirkan kerja, Nina jadi ingat gaji pertama yang ia dapat. Nina penasaran, berapa gaji pertamanya bekerja di rumah makan Akala. Segera ia meraih amplop putih di nakas yang kebetulan ada di sebelahnya. Ia menatap gembira amplop putih berhias tulisan gaji pertamanya. Namun ketika ia melihat isinya dan itu ada lima lembar uang seratus ribu, ia jadi merasa sangat tidak nyaman.


“Mas Akala ...,” lirihnya yang buru-buru memasukan lagi uangnya ke amplop. Ia nyaris keluar dari kamar untuk menghampiri Akala, tapi melihat keadaan yang sudah malam, ia jadi urung. “Besok saja lah, enggak sopan,” pikir Nina.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, semua yang tinggal di kediaman pak Kalandra sengaja bangun lebih awal untuk ikut salat subuh berjamaah di masjid. Termasuk juga dengan Nina dan Malini, keduanya sudah mulai terbiasa dengan rutinitas tersebut, meski kehadiran Ojan yang ternyata menginap dan langsung sibuk mencuri perhatian Nina, membuat Nina takut. Dan meski sudah bertemu Akala, keadaan yang tidak mendukung membuat Nina tak jadi membahasnya. Takut kurang sopan, selain Nina yang juga malu.


Barulah ketika mereka berangkat kerja dan kali ini Akala membonceng Nina pakai motor, Nina memberikan amplop berikut isinya yang masih lengkap.


“Kenapa?” tanya Akala bingung. Mereka masih ada di tempat parkir rumah makan yang masih sepi. Hanya ada empat motor dan itu merupakan motor karyawan.


“Ini terlalu banyak, Mas.”


Mendengar itu, Akala mengangguk-angguk. “Iya, aku tahu. Namun anggap saja itu rezeki untuk Malini. Malini butuh biaya buat daftar sekolah, kan? Karena sekelas kamu pasti enggak mungkin membiarkan Malini enggak sekolah.”


Detik itu juga Nina terdiam menatap Akala. Sebaik itu Akala dan sampai memikirkan hal-hal yang tidak sembarang orang akan memikirkannya.


“Sudah enggak apa-apa. Simpan uangnya karena itu rezeki Malini. Kumpulin buat daftar sekolahnya Malini. Di depan banyak sekolah bagus. Tinggal pilih,” sergah Akala.


“Ini makasih banget loh, Mas!” ucap Nina sudah langsung berkaca-kaca. Hatinya terenyuh, dan ia makin bingung bagaimana caranya membalas kebaikan seorang Akala.


Akala mengangguk-angguk. “Iya, sama-sama, Nin. Ya sudah, sekarang kita masuk. Aku mau cek-cek sambil nunggu mas Aidan datang. Habis itu kami mau langsung ke kantor polisi sekalian ke rutan buat menemui Reno!”


Nina mengangguk-angguk kemudian menyusul langkah Akala.


“Oh iya ... nanti malam rumah bakalan lebih rame karena mas Aidan sama mbak Arimbi nginep di rumah,” ucap Akala yang langsung semringah. Seolah Nina memang sudah menjadi pasangannya hingga baru membayangkannya saja, kebahagiaannya nyaris terasa sempurna.


Barulah setelah Akala menyadari mereka masih belum jadi apa-apa, Akala jadi bingung sendiri.