
Pulang dari kantor polisi dan rutan, Nina langsung kembali bekerja. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Nina jauh lebih bersemangat. Seolah, wanita itu tak memiliki rasa lelah. Mbak Rani yang merupakan anak dari ibu Nur selaku orang yang dulu selalu menolong Arum di novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga, sampai heran.
“Pertama mbak Arimbi, nah sekarang Nina. Keduanya sama-sama mirip mbak Arum muda. Aku curiga, setelah mbak Arimbi jadi menikah dengan mas Aidan, ini jangan-jangan, Nina juga bakalan nyusul. Apalagi kalau aku lihat, mas Akala juga dekat dengan Nina. Untungnya di sini pegawainya baik-baik, enggak ada yang syirik-syirik,” batin mbak Rani sengaja mengingatkan Nina untuk makan karena dari datang hingga kini sudah nyaris maghrib, Nina belum makan. Ia hanya sesekali melihat Nina minum air putih.
“Ini kalau enggak lagi sibuk, aku salat magrib dulu yah, Mbak. Boleh, kan?” balas Nina yang kembali meraih sebuah gelas untuk ia minum.
“Boleh, boleh ... kamu salat dulu mumpung belum banyak pembeli. Nanti gantian sama yang lain!” sergah mbak Rani.
“Oke, Mbak, terima kasih banyak!” Tak mau membuang waktu, Nina langsung ke belakang dan menunaikan niatnya.
Malam ini Nina tak pulang dengan Akala karena pria itu ada kepentingan di luar. Tadi, Akala sempat pamit dan berdalih ada pemotretan yang harus pria itu selesaikan di luar kecamatan.
“Nin, kamu potong rambut di mana? Ibu langsung pangling. Sepanjang itu jadi pendek gitu? Enggak sayang?” tegur ibu Arum yang memang sengaja menjemput Nina. Ia datang bersama Malini.
Nina langsung tersenyum tak berdosa. Bingung juga lantaran ibu Arum sampai mempermasalahkan rambut barunya. “Ini tadi habis salat maghrib, rasanya risih banget. Ya sudah ambil gunting, kres. Mbak Rani bilang sudah rapi.”
“Kamu potong sendiri?” sergah ibu Arum langsung heboh.
Nina mengangguk-angguk. “Iya, Bu. Soalnya enggak ada yang berani bantu. Mbak Rani pun bilangnya sayang, bagus lurus tebal—kalau bisa jangan dipotong, katanya. Tapi aku yang merasakan, rasanya berat banget.”
Mendengar penjelasan Nina, ibu Arum menjadi tertawa. Kemudian, yang ia lakukan justru mengelus-elus kepala Nina. Wanita itu memangkas rambut lurus tebal dan awalnya nyaris sepinggang, hingga sepundak.
“Beban hidup kamu jadi bertambah gara-gara rambut kamu? Nah ini, segini berasa enteng, ya? Tapi jadi kelihatan lebih fresh! Jadi kayak anak SMP!” ucap ibu Arum dan Nina hanya tersipu.
Namun tiba-tiba ibu Arum ingat, dulu lepas dari pak Angga selaku suami pertamanya, ia juga sempat potong rambut. “Kok makin mirip ya?” pikirnya yang jadi penasaran, sebelum dioperasi plastik mirip wajah Cinta, wajah asli Nina seperti apa? Jangan-jangan juga mirip ibu Arum, seperti Arimbi yang selalu dikira anak kandung ibu Arum saking miripnya wajah Arimbi dengan wajah ibu Arum.
Di tengah malam yang masih ramai aktivitas, ketiganya berjalan kaki sambil mengobrol hangat. Nina mengutarakan ingin menjual pekarangan rumahnya.
“Kalau sudah terjual, kamu mau pakai uangnya buat apa?” tanya ibu Arum.
“Buat modal usaha saja paling Bu. Atau, buat gadai sawah, atau malah beli juga enggak akan rugi. Yang jelas, aku sudah enggak mau tinggal di sana lagi. Karena efeknya enggak hanya ke aku, tapi juga ke Malini. Aku pengin menciptakan lingkungan baru yang jauh lebih sehat buat Malini,” balas Nina.
Ibu Arum yang menyimak, berangsur mengangguk-angguk paham. “Oke, Ibu paham. Kamu yang semangat saja, ya!”
“Iya, Bu. Makasih banyak!” balas Nina yang langsung mengangguk-angguk semangat. Ia sungguh akan bangkit, menciptakan kesuksesan sekaligus kebahagiaannya sendiri. Karena hanya dengan begitu, dirinya bisa balas dendam. Sebab setelah semua yang terjadi, opsi balas dendam terbaik bagi Nina ialah menjadi orang yang jauh lebih bahagia sekaligus lebih sukses, agar orang yang pernah menyakitinya menyesal bahkan malu.
“Kalau memang sudah terjual, jangan lupa sama Ibu, ya. Rumah Ibu akan selalu terbuka buat kamu. Namun kalau bisa, kamu cari tempat tinggalnya yang dekat-dekat sini saja. Biar kita masih bisa saling sapa, ngobrol, dan kalau bisa main bareng. Pokoknya, kamu jangan pernah menganggap Ibu dan keluarga Ibu sebagai orang lain. Kamu harus anggap kami sebagai keluarga kamu karena kami pun sudah menganggap kamu sebagai bagian dari kami,” ucap ibu Arum sambil merangkul Nina.
“Ibu juga bahagia kalau kamu punya pemikiran maju. Ibu yakin kamu bisa sukses apalagi kamu orangnya gigih banget. Yang semangat ya!” ucap ibu Arum sengaja menyemangati.
Sekitar pukul sembilan, Akala baru pulang dan suasana rumah masih terbilang ramai. Hampir semua anggota keluarganya kecuali Excel dan Azzura yang masih di Jakarta, tengah mengobrol santai di ruang keluarga lantai bawah.
“Dek, baru pulang?” sapa Azzam yang duduk di sebelah pak Kalandra.
“Iya, Mas. Mau langsung ke dapur. Haus.” Kendati demikian, Akala sengaja menghentikan langkahnya agar lebih sopan.
“Tapi nanti Ojan tidur sama kamu, ya. Enggak kuat aku dike-lonin sama dia, banjir iler sama kidung ngoroknya abehhhhhh!” keluh Azzam heboh dan membuat semuanya tertawa.
“Sudah sana langsung makan. Sudah ditunggu mamah di dapur,” ucap pak Kalandra.
Akala yang masih tertawa meski tawanya tak seheboh orang kebanyakan, segera melangkah ke dapur. Langkah yang perlahan menjadi lebih lambat bahkan berhenti ketika kedua matanya mendapati punggung seorang wanita terbilang jangkung dan berambut sepundak.
“Itu bajunya Nina, kan?” pikir Akala karena ia paham pada piyama lengan panjang warna hijau toska dari si wanita.
“Langsung simpan ke kulkas saja yah, Nin. Yang di plastik simpan di kulkas beku,” ucap ibu Arum sembari mencuci kedua tangannya di bawah air keran wastafel yang mengalir.
“Iya, Bu!” sanggup Nina.
Menyimak itu, Akala langsung kaget. “Hah ...? Itu Nina? Dia potong rambut sependek itu?” batin Akala masih diam sekaligus menjadi pengamat baik untuk wajah baru Nina.
Detik itu juga, Akala jadi tidak bersemangat. Merasa ada yang kurang bahkan hilang. Ia tidak rela Nina memangkas pendek rambutnya, seolah-olah ia memiliki wanita itu. Namun ketika ia melihat wajah Nina dan wanita itu tampak jauh lebih segar akibat gaya rambut barunya, ia justru refleks tersenyum.
Ibu Arum yang memergoki bungsunya senyum-senyum memandangi Nina, jadi kepo. Ia turut tersenyum lantaran senyum Akala kepada Nina, memang menular kepadanya.
“Nina potong rambut jadi makin cantik kan, Mas? Kelihatan seger gitu!” ujar ibu Arum sambil merangkul Akala.
Akala yang terbawa suasana refleks mengangguk-angguk. Malahan kemudian, ia berkata, “Iya, Mah!”
Nina yang menyaksikan itu secara langsung, langsung kikuk. Tanpa bisa mengucapkan terima kasih, Nina tersenyum canggung sambil membawa satu baskom besar berisi tempura siap goreng. Ia lewat di sebelah Akala dan sengaja permisi dengan suara lirih.
Sampai detik ini, ibu Arum masih senyum-senyum sendiri menyaksikan interaksi canggung antara Nina dan Akala. Namun dari kebersamaan kedua sejoli itu, baginya Akala sudah menyukai Nina, tapi Nina belum. Nina terlalu sungkan sekaligus hormat kepada Akala. Jadi ketika Akala membantu Nina menyusun setiap tempura di kantong, yang ada Nina justru terlihat takut.