Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
80 : Rezeki yang Terus Berdatangan


“Malini, ... ini akan menjadi awal kebahagiaan kita tanpa gangguan wanita ibli*s itu lagi. Bukan bermaksud jahat, tapi daripada pertemuan kita dengan ibl*is itu membuat kamu paham apa yang telah terjadi dan kamu jadi trauma bahkan enggak mau menikah seperti yang sempat kakak alami. Iya kalau kamu bertemu sekaligus berjodoh dengan laki-laki sebaik mas Akala. Kalau kamu justru menikah dengan laki-laki perhitungan ...? Ini juga yang sebenarnya sudah sangat ,” batin Nina sambil menatap sang adik melalui layar ponsel.


Mereka sedang melakukan telepon video karena sampai detik ini, Nina masih melangsungkan bulan madunya dengan Akala. Sementara Malini masih tinggal bersama keluarga Akala.


“PR-nya sudah beres?” tanya Nina.


“Satu lagi, Mbak. Habis ini mau dicek sama mas Azzam. Sudah ditungguin katanya kalau jawabanku benar semua, aku bakalan dikasih hadiah. Tapi kalau ada yang salah, aku bakalan dititipin ke pak gede Ojan. Hahaha ... pak Gede Ojan nginep di sini lagi, tadi datang sama mbak Sundari.”


Dari seberang sana, Malini tampak sangat bahagia. Kebahagiaan yang juga sudah langsung menular kepada Nina.


“Berarti di rumah rame ya? Rame banget malahan soalnya kan ada mas Ojan, ada mbak Sundari juga,” balas Nina.


“Sama ada mas Sepri, Mbak!” heboh Malini.


“Nah kan ... pecah pasti itu!” balas Nina yang berakhir tertawa kemudian menyelinapkan anak rambutnya ke belakang telinga. Sambungan telepon mereka baru berakhir setelah Akala yang baru datang sambil membawa banyak makanan untuk mereka, ikut mengobrol cukup lama dengan Malini.


“Makan yang banyak ya!” sergah Akala sudah langsung menyuapi sang istri menggunakan tangan kosong.


Semenjak hamil, Nina tidak mengalami mengidam berarti, selain Nina yang malah jadi sangat doyan makan. Justru memang Akala yang mengidam dan jadi pilih-pilih makanan. Kini saja, alasan Akala justru membeli makanan di luar karena Akala yang ingin makan beberapa makanan. Ada pecel, gado-gado, sate, nasi goreng, mendoan, bakso, gembus dan beberapa minuman termasuk itu es campur.


“Mas, sebanyak ini siapa yang mau makan?” tanya Nina sambil mengunyah pelan nasi goreng di dalam mulutnya setelah mengawasi makanan di hadapannya. Mereka duduk lesehan tak jauh dari tempat tidur.


Sambil menyuapi dirinya sendiri, Akala jadi tertawa. “Ya buat kita. Makan yang banyak biar yang di perut enggak kelaparan. Soalnya makin ke sini kau makin gampang kelaparan, kan? Ini sengaja nyetok biar pas kamu lapar, sudah ada yang bisa dimakan.”


“Jadi sebenarnya, kita lagi bulan madu, apa pembengkakan badan, Mas?” ucap Nina sambil terus mengunyah, tapi kali ini, ia juga melakukannya sambil menahan tawa. Karenanya, ia sengaja menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mulut.


Akala menggeleng. “Tubuh kita enggak akan bengkak soalnya setia hari saja, kita rutin olahraga. Buktinya kamu, sama sekali enggak gendut, kan?”


Nina langsung tersipu. “Mas besok jadwal aku kontrol, kontrol ke rumah sakit saja ya. Biar sekalian USG!”


“Bawa buku periksanya, kan? Dari dekat sini juga ada rumah sakit besar,” lembut Akala lantaran ia memang sesantai itu. Terlebih kepada wanita yang sangat ia cintai dan sudah ia nikahi, yang mana sebentar lagi, istrinya itu akan memberinya anak pertama.


Nina mengangguk-angguk. “Jangankan buku periksa kehamilan, KK dan buku nikah saja selalu aku bawa di tas meski cuma yang fotokopi. Buat jaga-jaga, Mas!” ceritanya yang kemudian langsung diacungi jempol tangan kanan oleh sang suami.


Setelah menyuapi Nina, Akala berkata, “Yang ... papah Maheza sama mamah Aleya minta aku buat bantu urus perusahaan. Soalnya kan sekarang Chole sudah fokus urus usahanya sendiri, jadi kalau hanya mengandalkan kak Chalvin, mereka kewalahan. Mbak Laras saja sudah mulai ikut bantu. Aku enggak mungkin nolak karena papah bilang, aku yang suruh mewakili kamu urus saham. Asli mereka enggak kaleng-kaleng angkat kamu dan Malini jadi anak karena kalian sampai dikasih saham beneran.”


“Papah Maheza sama mamah Aleya bilang, aku enggak perlu ke kantor yang di Jakarta setiap hari. Apalagi kan aku masih harus bantu mas Azzam. Belum lagi kita juga mau buka cabang baru, kan?” balas Akala.


“Nah itu, kita mau buka cabang baru. Apa enggak usah saja karena Mas saja sudah banyak yang diurus. Selain itu, kita juga punya toko online, dan jual beli padi bareng mas Sepri. Uangnya dialokasikan buat emas apa tanah saja lah Mas.”


“Kalau kamu sanggup sambil kontrol cabang, sebenarnya enggak apa-apa. Apalagi bangun rumah makan cabang juga enggak sebentar. Paling satu sampai dua tahun lagi baru bisa ditempati. Berarti nanti bisa sambil momong.”


“Oh iya, yah, Mas ... gitu saja juga enggak apa-apa.” Nina mendadak bersemangat.


Akala mengangguk-angguk sambil terus tersenyum lembut. “Enggak apa-apa capek dikit. Lumayan bisa buat masa depan anak-anak.”


Mendengar itu, Nina langsung tersenyum haru. Kedua matanya langsung berembun dan ia juga mengangguk-angguk sebagai persetujuannya terhadap usul sang suami.


“Jadi, kita bakalan sibuk banget,” ucap Nina.


Akala mengangguk-angguk kemudian mengambil es teh yang ia angsurkan kepada Nina untuk diminum melalui sedotan.


“Berarti kita harus ke Jakarta yah, Mas? Apa gimana?”


“Nanti pas kita gelar acara empat bulanan kan mereka ke sini. Berarti satu minggu lagi, kan? Nah pas mereka balik ke Jakarta, berarti kita sekalian ikut. Gitu saja sih biar enggak bolak balik,” jelas Akala yang seketika langsung tersenyum semringah lantaran Nina jadi sangat bersemangat. Tak ada lagi kesedihan apalagi tantrum tak berkesudahan karena dendam Nina kepada ibu Sulastri. Nina tampak sudah telanjur fokus pada masa depan mereka yang penuh dengan pekerjaan.


“Demi masa depan anak-anak agar mereka dapat kehidupan lebih layak, aku beneran akan bekerja keras. Ini beneran balas dendam yang sesungguhnya, sih. Aku enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku bakalan jadi wanita, istri, sekaligus orang tua yang sukses. Aku akan menjadi orang tua yang menyayangi anak-anaknya. Aku akan membahagiakan anak-anakku melalui kerja kerasku!” batin Nina lagi. Ia masih menerima suapan Akala yang sesekali juga akan membantunya minum.


Seperti yang Akala yakini, Nina benar-benar menjadi lupa kepada ibu Sulastri. Nina sudah langsung fokus pada rencana masa depan mereka yang dipenuhi pekerjaan.


“Sejak hamil kok rasanya ada saja rezeki ya Mas. Itu pun enggak tanggung-tanggung. Masya Alloh banget. Alhamdullilah ... dikasih sebanyak ini. Eh tapi ya Mas, berarti pas anak-anak lahir, aku baru lulus SMA!” Nina mengakhiri ucapannya dengan tawa geli. Ia menertawakan dirinya sendiri. Namun seperti balasan sang suami, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


“Lulus kejar paket C, mau kuliah?” tanya Akala masih telaten menyuapi Nina.


Nina mengangguk-angguk. “Pengin Mas, tapi kalau bisa yang terbuka saja. Apa gimana yah, Mas. Biar anak-anak tetap keurus,” ujarnya meminta pendapat.


“Nanti pasti keurus. Ada kakek neneknya, uyut, belum pakde budenya. Jangan lupa, anak-anak punya uncle Azzam yang siap menjadi pengasuh ponakan!” yakin Akala yang menjadi tertawa sendiri. Karena di setiap ia teringat motto hidup terbaru Azzam perihal para keponakan, ia sungguh tidak bisa untuk tidak tertawa.