
“Kamu istrinya Reno, dan surat pernikahan itu sebagai buktinya. Kalau enggak percaya, telusuri kebenarannya ke kantor agama!” Sambil memegangi bibirnya yang pecah dan gigi atasnya sampai patah dua, ibu Retno terus saja berisik sekaligus emosi.
Nina menghela napas dalam. Meski yakin Reno sengaja mengikatnya dengan pernikahan resmi agar pria itu bisa memegang kendali penuh terhadap kehidupannya, tentunya agar Nina terus menjadi pundi-pundi uang Reno, tetap saja Nina merasa tak habis pikir. Apalagi meski bibir sudah pecah dan gigi pun patah, ibu Retno terus saja berisik.
“Ibu, Bapak, kas*us Nina dan Reno sudah disidangkan dan Reno terbukti bersalah!” tegas Akala yang masih mendampingi Nina.
“Orang tidak sekolah saja tahu, kenapa Reno sampai mendaftarkan pernikahannya dan Nina secara resmi. Ya tentu biar Nina terus menjadi pundi-pundi uang Reno. Reno saja ger*mo, sudah terbiasa menjua*l wanita. Nina yang dinikahi sampai dijual, sementara pernikahan mereka ada karena Nina dije*bak! Pernikahan mereka bahkan tidak sah baik di mata hukum maupun agama meski versi hukum, itu memang terdaftar. Namun andai yang mengurus tahu alasan pernikahan itu ada, tentu pernikahan mereka tidak akan pernah terdaftar karena memang tidak memenuhi syarat.” Lama-lama, sekelas Akala merasa emosi. Tak terima Nina terus disudutkan sekaligus disalahkan.
“Kalau status pernikahan terus diributkan, besok Mas urus. Enggak ada sehari pasti kelar. Itu hanya status, buku pernikahan juga ibarat senja*ta buat memperda*ya Nina!” santai Mas Aidan sambil bersedekap.
“Kamu yah!” kesal ibu Retno sambil menatap sinis mas Aidan.
Setelah menghela napas dalam, dengan santainya mas Aidan membalas ibu Retno. “Kenapa? Sedih karena Nina bukan menantu kalian dan otomatis kalian gagal memanfaatkan?” Ia sengaja menjaga ucapannya dan membiarkan orang tua Reno makin kesal.
“Memanfaatkan bagaimana?!” kesal ibu Retno yang kemudian merengek kesakitan yang mana darah dari bibirnya juga kembali keluar.
Polisi di sana sampai menegur, meminta ibu Retno menjaga sikap apalagi ucapannya, agar luka di bibirnya tak makin parah.
Setelah menenangkan sang istri, pak Rudi juga sengaja berkata, “Jadi, apa hubungan kamu dengan laki-laki di sebelahmu? Hati-hati yah kamu, kami enggak segan jer*at kamu pakai pasal per*zi*nahan!”
Nina tersenyum kecut. “Kalian terlalu banyak omong. Terlalu banyak rencana, padahal kalian yang halu!”
“Huh, dasar kang halu!” sela Ojan sengaja berseru. Ia tidak diizinkan masuk ke ruang penyidikan, tapi ia menyaksikan jalannya acara dari depan pintu.
Baik pak Rudi maupun ibu Retno, kompak menatap Ojan. Dengan jarak mereka dari Ojan yang tak kurang dari enam meter, meraka menatap kesal pria berkulit kuning langsat itu. Terlebih biar bagaimanapun, ulah Ojan yang melumurkan bedak ji*gong, sudah membuat mereka dendam.
“Kang halu!” lanjut Ojan masih sengaja menge*jek.
Mendengar itu, pak Rudi apalagi ibu Retno sudah langsung mendelik kepada Ojan. Lain dengan mas Aidan yang meminta Akala untuk membawa Nina pergi dari sana.
“Sudah kalian tunggu di luar saja. Urusan orang tua Reno, biar Mas yang urus. Kedua orang ini wajib ditaha*n karena memang sudah sangat mere*sahkan. Apalagi mereka sudah sampai bawa preman dan enggak segan bikin keributan. Namun andai mereka tetap enggak merasa bersalah, biar mulut mereka yang ditinggal di penjara karena mulut mereka juga yang sudah berulah!” tegas mas Aidan dan sudah langsung mendapat balasan seng*it dari orang tua Reno yang merasa tidak terima.
Akala sudah langsung membawa Nina pergi meski orang tua Reno heboh, tak terima karena bagi urusan mereka hanya dengan Nina dan bagi mereka harus patuh kepada mereka karena mereka mertua Nina.
“Urusan kalian dengan saya saja karena semua keterangan termasuk bukti sudah diterima,” tegas mas Aidan.
Baru keluar bertemu Ojan, Akala dan Nina juga dikejutkan oleh kehadiran Azzam. Azzam masih memakai batik lengan panjang warna cokelat dan menatap heran kebersamaan mereka.
“Iya, mau mele*t! Eh, bahasa enggresnya nikah mele*t apa maled, ya? Meled kan menjulurkan lidah ya?” balas Ojan yang jadi kebingungan sendiri padahal awalnya ia begitu bersemangat.
“Oalah yang namanya Ojan memang selalu terdepan, ya. Kalau mau mel*et, sana ke du*kun. Jangan lupa bawa kemeyan sembilan kuintal biar bisa dijual lagi!” semprot Azzam.
“Ih, Azzam. Aku kan bukan Sepri yang apa-apa serba dijual. Malahan Sepri bilang, andai aku laku dijual, sudah dikilo aku!” balas Ojan.
“Lah, emangnya situ laku dijual? Buat pakan ternak saja yang ada pasti ternaknya kerac*unan. Andai diolah jadi makanan pun enggak layak konsumsi. Terus andai kamu merasa langka dan berharap dijadikan barang antik, yang ada kamu nakut-nakuitin karena tampang kamu saja lebih seram dari memedi!” balas Azzam yang kemudian mempertanyakan keberadaan mas Aidan kepada Akala.
“Masih di dalam, masih urus kas*sus, Mas,” ucap Akala.
“Ada kas*us apa lagi, sih? Si Ojan habis ham*ilin ayam apa nyamuk? Apa gimana? Memangnya mereka mau sama Ojan?” balas Azzam.
“Tega banget kamu Zam. Aku laporin kamu ke Ndari loh, kalau kamu ngomongnya ‘saru’,” sedih Ojan, sementara maksud ‘saru’ sendiri sama saja ‘jo*rok’ sekaligus tidak sopan.
Diancam atas nama Sundari sang kekasih, Azzam sudah langsung panik. Lebih panik lagi karena Ojan yang sudah punya hape, sudah langsung melakukan panggilan video kepada Sundari.
“Matii*n, Jan. Matii*n. Nanti aku kasih nomor jand*a!” yakin Ojan paling paham kelemahannya Ojan. Jan*da.
“Kamu punya nomornya Nina?” balas Ojan sudah lang mematikan sambungan teleponnya, padahal di seberang, wajah Sundari baru saja terlihat.
“Nina mau nikah, jangan diganggu. Kamu sama yang lain saja!” yakin Azzam.
“Nikah sama siapa? Nikah sama aku, maksudnya? Istri, besok kita nikahnya pas malam jumat, ya. Kebetulan besok jumat kliwon, kalau kata orang Jawa, nikah jumat kliwon bisa bikin banyak rezeki apalagi kalau kita langsung—” Ojan tak kuasa melanjutkan ucapannya lantaran tangan kanan Azzam sudah membekap mulutnya.
“Sudah jangan dilanjutin, kamu ya!” omel Azzam tetap membekap Ojan.
“Zam, tangan kamu wangi banget. Ini kamu habis ngapain mau ngapain? Kamu diam-diam granit ya ke wanita lain, mentang-mentang enggak ada Ndari!” komentar Ojan.
Azzam sudah langsung melepaskan Ojan.
“Kok granit? Ini aku salah dengar apa bagaimana? Apa maksudnya genit?” pikir Nina.
Melihat Nina jadi sibuk menahan senyum sambil memperhatikan Ojan, Akala sudah langsung bergerak cepat. Ia yang masih menggandeng Nina, membawanya ke depan, tempat di mana ada bangku tunggu di sana karena di sana juga, Akala mengajak Nina duduk. Dan Akala mulai menyadari, dirinya mulai posesif kepada Nina, padahal jelas, saingannya baru Ojan.
Jadi, akan ada keseruan apa lagi?