Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
72 : Bersayap, Berekor, Atau Bertaring?


Di ruang keluarga, ada pak Kalandra dan ibu Arum. Sementara di dapur, ada mbak Arimbi dan pak Kalandra. Sedangkan ketika ke luar, di teras depan rumah ada kakek Sana dan nenek Kalsum yang tampaknya sedang bernostalgia mengenang masa-masa muda. Dari ketiga pasangan tersebut, semuanya kompak mesra, kompak menggenggam tangan satu sama lain. Hingga Nina yang menyaksikan semua itu jadi gelagapan salah tingkah sendiri.


Nina masih terlalu polos, selalu akan malu jika harus dihadapkan pada adegan de*wasa yang berkaitan dengan keromantisan apalagi keint*iman. Dan Nina sungguh belum bisa untuk baik-baik saja jika mengalaminya.


“Kenapa?” bisik Akala bingung pada gelagat istrinya. Baru pulang, tapi Nina justru seperti melihat penampakkan mahkluk sangat menyeramkan.


Hari ini, setelah makan siang, Akala memang pergi ke rumah makan untuk bekerja walau sebentar. Sementara sebelum adzan magrib, pria itu sengaja pulang dan Nina langsung menyambutnya di depan pintu. Alasan yang juga membuat Nina memergoki kebersamaan romantis kakek nenek Akala, di teras rumah. Semua yang ada di rumah benar-benar sedang kompak romantis.


“Enggak apa-apa, Mas,” sergah Nina yang kemudian menyalami tangan Akala dengan takzim.


Akala tetap menatap penuh tanya sang istri yang juga sudah langsung membawakan tas kerjanya. Karenanya, Akala sengaja menggandeng sebelah tangan Nina agar Nina tidak mirip orang tersesat di tempat asing.


“Sudah pulang, Mas?” sapa nenek Kalsum.


Akala segera menghampiri kebersamaan di sudut teras sana. Ia menyalami kakek neneknya yang sedang duduk santai di kursi kayu berteman satu teko teh dan sepiring singkong kukus.


“Rumah makan rame?” tanya kakek Sana setelah tangan kanannya disalami dengan takzim oleh Akala.


“Alhamdullilah Mbah, rame. Ini tadi malah lagi rame-ramenya. Ada yang lagi rayain ulang tahun,” ucap Akala.


Setelah terlibat obrolan hangat dan Akala juga sengaja mengikutkan Nina, Akala sengaja membawa Nina pamit karena biar bagaimanapun, ia belum mandi.


Bertemunya Akala dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga, mulai membuat pria itu curiga. Terlebih setelah ia menyalami keduanya, ke dapur pun ada pasangan tak kalah romantis. “Pantas, istriku mirip cacing kepanasan. Panik kebingungan enggak bisa tenang,” batin Akala yang detik itu juga jadi menahan tawanya.


“Aku belum masak soalnya dari tadi, mbak Mbi masaknya ditemani mas Aidan. Enggak enak, takut ganggu!” ucap Nina berbisik-bisik dan membuat Akala makin cekikikan.


“Enggak apa-apa, ... enggak apa-apa. Nanti kita makan apa adanya saja. Terus Malini gimana? Sudah makan, dia?” tanya Akala yang kemudian menyapa mas Aidan maupun mbak Arimbi.


***


Malamnya, Nina jadi terdiam merenung. Ini mengenai semuanya yang kompak romantis, hanya dirinya dan Akala saja yang masih seperti adik kakak. Lebih tepatnya, Akala sengaja mengalah tanpa menuntut apa pun. Akala begitu karena Akala berusaha mengimbangi Nina.


“Sebelumnya, aku menjadi istri yang ha*ram disentuh karena keadaanku. Namun di pernikahan kini, kenapa kesannya aku menghara*mkan diriku sendiri untuk disentuh oleh suamiku yang sangat baik?” pikir Nina yang kemudian menatap lama wajah Akala. Seperti biasa, Akala tidur sambil merangkul pinggangnya tanpa meminta jatah atau hal aneh lainnya yang berkaitan dengan hubungan mereka sebagai pasangan.


“Tapi kok rasanya enggak enak banget ya. Badanku meriang, pegel semua ... terus perutku juga kaku mirip kram. Apa aku datang bulan?” pikir Nina. Dengan hati-hati, ia melepaskan diri dari dekapan sang suami kemudian pergi ke kamar mandi untuk memastikan. Tak lama kemudian, sambil memegangi perutnya yang terasa kaku sangat sakit, Nina mengguncang pelan punggung Akala yang memunggungi keberadaannya.


“Mmm ...?” gumam Akala yang berangsur menoleh, memastikan apa yang terjadi di belakangnya. Namun, tadi ia mendengar suara sang istri dari sana, dan nyatanya memang sudah ada di dekapannya.


“Kenapa, Yang?” lirih Akala dengan suara berat khas bangun tidur. Ia sengaja berangsur duduk untuk memastikan.


“Enggak punya apa?” sergah Akala makin penasaran lantaran Nina justru terlihat takut sekaligus enggan mengatakannya.


“Ya itu ....”


“Yaitu apa?”


“Pembalut, Mas ....”


“Ya Alloh ... ini jam berapa sih? Harusnya sih memang enggak ada yang punya stok. Tapi kayanya di klinik ada. Tapi bentar aku tanya ke mbak Mbi sama mbak Azzura. Siapa tahu mereka masih ada stok lama,” ucap Akala buru-buru pergi dari sana.


Tak mau ditinggal, Nina berangsur menyusul sambil terus merem*as perutnya menggunakan tangan kanan.


“Semua penghuni kamar di lantai atas benar-benar meres*ahkan. Hanya aku dan Malini saja yang masih di bawah umur,” gerutu Azzam yang baru sampai di lantai atas. Azzam yang memakai piyama lengan panjang, baru saja dari lantai bawah. Pria itu membawa secangkir kopi hitam dan seketika melongo ketika pintu kamar Akala dibuka. Yang mencuri perhatiannya adalah kenyataan Nina yang agak membungkuk sambil merem*as perut.


“Itu kamu punya istri, kenapa?” sergah Azzam sudah langsung panik dan buru-buru menyeruput kopinya. “Duh! Lupa kasih gula makanya rasanya pait mirip hidup Ojan! Ssst!” keluhnya sambil merem meringis menahan rasa pahit dari kopi hitamnya.


“Nina lagi datang bulan. Mau cari pembalut, Mas!” jelas Akala yang juga berdalih akan meminta obat pereda sakit kepada Azzura agar sakit dari efek datang bulan Bina, jauh lebih mendingan.


“Kamu jangan cari pembalut ke aku karena aku bukan Ojan yang sekelas pembalut asal warna pink pun dikoleksi!” semprot Azzam sudah langsung jaga-jaga.


“Oh, berarti mas Ojan punya, yah, Mas? Soalnya kan ini sudah dini hari. Jam segini mana ada toko yang buka,” ucap Akala.


“Ada aku lihat di etalase koleksi barang pink-nya yang ada di kamar. Pokoknya, semua pembalut yang bungkusnya pink, Ojan punya. Dari yang bersayap, berekor, atau pun bertaring. Semua koleksi Ojan pokoke lengkap!” yakin Azzam. Namun, ia sudah langsung terusik oleh kenyataan Nina yang tampak lemas tapi sibuk menahan tawa.


“Kamu orang, kenapa, Nin? Duh, keseringan ngomong sama orang China, aku ngomongnya jadi serba ditambahi “orang”.” Lagi, Azzam menyimak sambil menyeruput kopi hitam panasnya lantaran ia lupa, ia belum menaruhinya gula. “Ppppfffft! Emang dasar Ojan! Enggak ada orangnya, aku pun tetap sia*l!” kesal Azzam lagi yang kemudian memberikan kopinya kepada Akala. Namun dengan cepat, Akala menggeleng dan berdalih tidak mau ronda.


“Istri datang bulan apalagi kalau hari pertama, biasanya bakalan ‘klejetan’ kesakitan mirip kontraksi. Eh kamu malah enggak mau ronda,” cibir Azzam.


“Mas, aku boleh ngerepotin Mas, enggak?” ucap Akala takut-takut.


“Oh enggak usah repot-repot, cukup Ojan saja yang bikin hidup aku repot!” sewot Azzam.


Kendati demikian, karena Nina tampak sangat kesakitan dan tak mungkin Akala tinggal, pada akhirnya Azzam rela ke rumah Ojan demi meminta koleksi pembalut Ojan.


“Ini Nina mau pakai pembalut yang bersayap, berekor, atau bertaring, ya?” pikir Azzam selagi ia ngebut di tengah kesunyian dini hari kali ini. Saking sunyinya, Azzam jadi satu-satunya yang lewat di sepanjang jalan menuju rumah Ojan.