Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
83 : Kembar Perempuan


“Alhamdullilah, enggak mirip Ojan! Princess-princesku masya Allah semua. Secantik yang aku bayangkan!” Azzam yang baru pulang dan menjadi sosok yang paling terakhir bergabung, langsung sujud syukur.


Nina yang awalnya masih memikirkan nasib Malini di masa depan, tidak bisa untuk tidak tertawa.


“Mas ... Mas,” sergah Akala sembari menuntun Azzam untuk menyudahi sujud syukurnya.


“Kenapa, Dek?” sergah Azzam sudah langsung menyikapi keadaan dengan serius. Terlebih, nada bicara sang adik memang terdengar sangat serius.


“Untuk sementara, mohon maaf banget ini ya, Mas. Namun untuk sementara, Mas jangan dekat-dekat Nina dulu. Mas, mas Ojan, sama mas Sepri, diharapkan jaga jarak dulu,” pinta Akala benar-benar sopan.


Azzam yang terheran-heran menatap Nina maupun Akala, silih berganti, berangsur berkata, “Dikiranya aku korona, diminta jaga jarak. Ih kamu lebih enggak jelas dari Ojan. Lihat tuh, istrimu saja haha hihi terus!”


Pada kenyataannya, Nina yang masih diharuskan untuk tiduran memang jadi sibuk menahan tawa hanya karena celotehan refleks Azzam.


“Kasihan jahitannya, Mas. Brojol dua, dan memang jahitannya lumayan banyak!” yakin Akala.


Mendengar itu, Azzam yang menatap iba keada Nina justru refleks berkata, “Harusnya kamu ngomong gitu, bahas-bahas jahitan efek melahirkan itu ke Ojan, biar dia insaf enggak ngebet minta dihami*lin!”


“A-astaghfirullah ....” Nina makin kesulitan menyudahi tawanya sambil memegangi jalan lahirnya yang memang penuh jahitan lantaran melahirkan untuk pertama kalinya dan itu langsung dua meski tentu bergantian, membuat keadaan di sana robek serius.


“Mas Azzam ...,” lembut Akala yang kemudian memeluk Nina penuh cinta.


“Ya sudah, aku pinjam satu ya. Aku mau angkat mereka jadi anak angkatku lah, ya. Biar aku jadi mirip Bapak Gula alias su*gar dadd*y!” ucap Azzam dengan bahagianya. Ia mengambil salah satu bayi perempuan dari ranjang bayi.


“Nah kan ... Mas Azzam,” tegur mbak Azzura yang kebetulan baru datang.


“Apaan sih, ... memangnya aku kenapa, sana sini larang aku dekat-dekat Princess!” sebal Azzam sudah langsung terbiasa mengemban salah satu bayi Nina dan Akala.


Memiliki empat keponakan dan turut serta belajar mengurus, memang membuat Azzam sudah terbiasa dengan rawat-merawat bayi. Jangankan sekadar mengemban, mengganti popok, menyiapkan susu, bahkan memandikan bayi saja, Azzam sudah ‘lemes’ alias mahir.


“Si Nina punya banyak jahitan, Mas Azzam,” jelas mbak Azzura lembut.


“Ih apaan, ... aku enggak bakalan minta, sudah jahitannya buat Nina saja. Lagian selain yang pengin dihamili sekaligus melahirkan itu Ojan, tentu ngeri kalau aku sampai kena jahitan. Sampai sekarang saja, meski kembaranku bidan, aku paling anti kalau ikut imunisasi dan semua hal yang disun*tik-sun*tik. Aku cukup sun-nya Sundari saja! Ini aku bawa satu yah, ngeri kalau harus bahas jahitan-jahitan!” ucap Azzam cepat sambil buru-buru pergi dari sana.


Nina yang masih didekap Akala, sudah sampai lemas gara-gara menertawakan Azzam.


“Eh, gimana-gimana? Anak Akala sama Nina, beneran kembar perempuan semua? Ya sudah, kalau gitu kasih nama Ojin sama Jijin saja!” ucap Ojan tiba-tiba hadir dan buru-buru masuk.


Hadirnya Ojan tidak hanya membuat Nina makin lemas. Karena sekelas mbak Azzura pun sampai kewalahan menahan tawa.


“Eh, eh, jangan buat mainan!” omel Akala untuk pertama kalinya.


Akala sudah langsung mengambil sang putri yang masih tersisa di ranjang bayi.


“Lah Akala ... kamu jangan gitu dong. Aku kan pengin ngerasain gendong bayi juga. Apalagi kan sekarang, selain Sepri, memang enggak ada yang mau gendong-gendong aku lagi. Atau kalau enggak, kalau aku enggak boleh gendong bayinya, ... kalau gitu aku sayang-sayang mamahnya saja!” ucap Ojan bersemangat dan sudah langsung menghampiri Nina.


“Dipit*ing saja, Dek. Dipit*ing Ojannya. Si Ojan dikiranya Akala enggak jago bela diri!” ucap Azzam yang memang menertawakan Ojan lantaran Akala sungguh akan memiti*ng Ojan.


“Ya sudah Dek, kamu urus Nina saja. Anak-anak biar kami yang urus,” ucap mbak Azzura yang kemudian mengambil alih bayi dalam dekapan Akala.


“Mbak Azzura, si Rere janda idaman, kapan ke sini lagi?” ucap Ojan malu-malu kepada Azzura. Apalagi biar bagaimanapun, Rere yang tengah ia tanyakan merupakan adik Excel selaku suami Azzura. Meski di masa lalu, Rere justru merupakan orang ketiga dalam hubungan Azzura dan Cikho kakaknya Cinta—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia.


Kepergian Azzam, Ojan, dan juga Azzura, membuat kebersamaan di ruang rawat sana sepi lantaran hanya tinggal Nina dan Akala. Terdengar di luar sana yang memuji kecantikan putri kembar mereka yang nyaris identik. Mereka meyakini, meski agak mirip Akala, bayi kembar mereka telah mewarisi kecantikan Nina sebelum wajah Nina dioperasi menjadi wajah Cinta.


“Imut-imut gimana, yah, mirip aku!” ucap Ojan di luar sana. Seperti biasa, masih dengan kepercayaan diri tak terbatas, Ojan malah menjadi bahan olo*k-olo*kan. Apalagi jika ada Azzam, pasti hidup Ojan langsung tidak tenang.


Kemudian, yang Nina lakukan adalah mengulurkan kedua tangannya. Ia berusaha memeluk Akala yang detik itu juga langsung membungkuk sekaligus merapatkan jarak tubuh mereka. Bersamaan dengan itu, mereka mengingat masa-masa perjuangan mereka beberapa saat lalu ketika Nina akan melahirkan si kembar secara normal.


“Jantungku sempat kayak mau copot saking takutnya, Mas,” lembut Nina sambil memeluk manja Akala.


Detik itu juga Akala menghela napan dalam sekaligus panjang. Jangankan Nina, Akala saja sudah nyaris gi*l*a. Apalagi sepanjang Nina melahirkan hingga tadi menjalani persalinan, Akala yang sebelumnya merasakan hamil simpatik, juga sampai ikut mules tak karuan layaknya kontraksi yang harus Nina alami.


“Namun sekarang sudah lahir semua dengan selamat. Rasanya bahagia banget! Berarti siap-siap ronda ya?” lanjut Nina masih bertutur lembut.


“Sia banget pokoknya!” balas Akala benar-benar bersemangat. Terdengar Nina yang langsung tertawa geli dan ia berangsur mengec*up gemas bibir sang istri. “Makasih banyak, ya.”


Nina sudah langsung tersipu mendapatkan terima kasih dari sang suami untuk sekian kalinya. “Jangan makasih terus,” ucap Nina sambil mencubit gemas pipi Akala.


Kali ini giliran Akala yang tersipu, tapi ia sengaja membenamkan wajahnya di wajah Nina, selain ia yang membiarkan bibirnya mengecu*p rutin apa pun di sana.


“Mas, mau dikasih nama siapa? Fix-nya. Itu nanti keburu dikasih nama Ojin!” rengek Nina, dan itu sudah langsung membuat Akala tersenyum lemas.


“Enggak akan lah. Nanti tetap kita yang kasih nama, seperti kesepakatan kita,” yakin Akala.


Nina tersenyum lega. “Ya sudah Mas, tolong panggilin Malini sebentar. Takutnya dia kebingungan karena kita enggak fokus urus dia lagi,” pintanya.


Namun setelah Akala keluar dari ruang rawat Nina yang ada di klinik milik mbak Azzura, ternyata Malini ada bersama keluarganya. Malini tengah diminta untuk menemukan perbedaan bayi kembar Akala dan Nina yang sampai detik ini masih diemban Azzam maupun mbak Azzura.