Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
77 : Deep Talk


“Yuk ...?!” lembut Akala sambil tersenyum ceria menatap Nina.


“Apa, Mas? Maksudnya apa?” tanya Nina yang memang tidak paham dengan kode keras yang diberikan sang istri.


Akala yang merasa geli sendiri dengan ajakannya, menjadi tertawa. “Beneran harus pelan-pelan karena Nina bahkan lebih polos dari aku. Dan sepertinya beneran harus dijelasin, soalnya kalau main kode atau pakai istilah lebih lembut, Nina beneran enggak paham,” pikir Akala yang kemudian meraih punggung kepala Nina, membuat wajah mereka benar-benar tak berjarak. Ia mengec*up punggung hidung Nina.


Nina langsung kikuk dan agak terkejut. Mirip ketika kita tersengat aliran listrik untuk beberapa detik. Iya, bagi Nina, kecup*an yang baru Akala lakukan di hidungnya, membuatnya seperti tersetrum.


“Dengerin,” ucap Akala lembut layaknya tengah mengajari anak kecil yang sedang ingin banyak tahu.


Nina langsung mengangguk-angguk dan menyimak Akala dengan saksama. Wajah sekaligus ekspresi yang benar-benar polos, tak berdosa. “Ya Alloh, hamba mohon, beri kami anak perempuan agar kami bisa melihat sedikit wajah Nina sebelum Nina mengalami traged*i pergantian wajah menjadi wajah Nina. Rasanya tak tega jika mengingat ini,” batin Akala yakin, saat terlahir nanti, putri mereka pasti akan memiliki wajah mirip Nina, meski mungkin hanya sedikit. Meski baru membayangkan saja, perasaan Akala sudah langsung menjadi campur aduk. Lebih campur aduk lagi ketika jemari tangan Nina, menyeka air matanya karena memikirkan wajah asli Nina, benar-benar bersedih.


“Boleh cium ...?” lirih Akala karena biar bagaimanapun, tangis yang melandanya juga sampai membuat suaranya sengau.


Setelah menyimak, Nina berangsur mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Boleh.”


“Bibir ...?” singkat Akala dan sudah langsung membuat Nina diam.


Deg-degan dan langsung panas dingin, itulah yang Nina rasakan. “B-boleh, ... Mas.”


Tersenyum haru, Akala berangsur mengangguk-angguk.


“Tapi aku malu ... enggak apa-apa, kan, kalau aku tutup mata?” lirih Nina yang kali ini memohon.


Untuk kali ini, Akala juga mengangguk-angguk. Ia berangsur kembali merapatkan jarak wajah mereka sambil tetap menahan punggung kepala Nina. Senyum lembut terus menghiasi wajah Akala lantaran Nina benar-benar sudah langsung memejamkan kedua matanya, yang mana wajah Nina benar-benar tegang.


“Kalau aku bikin kamu enggak nyaman, kamu boleh dorong aku. Pelan saja, aku pasti paham,” ujar Akala.


Nina sudah mulai merasakan hangatnya deru napas wajah Akala, yang menegaskan, wajah mereka benar-benar tak berjarak. Namun karena pernyataan Akala barusan butuh jawaban, ia pun mengangguk sebagai balasannya.


Dalam diamnya, Nina menghitung mundur apa yang akan terjadi sekaligus ia alami. Terlebih biar bagaimanapun, meski ia pernah menjadi korban ruda*paksa dan itu berlangsung lama, juga ia yang pernah menikah dengan Reno, kini tetap menjadi ciu*man bibir yang akan ia alami secara sadar.


“Ya Allah, sedeg-degan ini. Bismilaa—lah!” batin Nina sudah langsung kaget hanya karena bibir Akala benar-benar menempel ke bibirnya, yang mana perlahan, bibir Akala juga menyes*ap bibirnya. Anehnya, dalam ingatan Nina sudah langsung dihiasi adegan Azzura dan Excel yang tak sengaja ia dapati tengah ciu*man bibir. Adegan yang juga membuat Nina terinspirasi kemudian perlahan membalas bibir sang suami.


“Kok begini, ya? Aku belum merasa nyaman. Apa aku dorong saja? Tapi enggak enak ke mas Akala ... ya sudah ya, pelan-pelan. Mungkin efek karena aku belum terbiasa kali ya,” pikir Nina yang lagi-lagi terkejut ketika Akala justru mengakhiri cium*an mereka.


“Kamu enggak nyaman?” lembut Akala yang kemudian mengelus-elus bibir sang istri menggunakan jemari tangan kanannya.


“Kok, ... Mas tahu?” balas Nina karena ia memang belum cerita atau pun mendorong Akala seperti arahan suaminya itu.


Akala mesem. “Kamu enggak balas lagi,” ucapnya yang yakin, tidak akan lupa dengan ci*uman pertama mereka.


Akala mengangguk dan perlahan justru membopong Nina. Akala tidak menurunkan Nina begitu saja, tapi justru merebahkan tubuh mungil itu ke tengah-tengah tempat tidur. Mendapati Nina kebingungan dan kerap mengerling terlebih ketika akhirnya ia mengungkungnya, Akala menjadi tersenyum kecil.


“Mas ...,” rengek Nina lantaran Akala justru menertawakannya.


“Kita coba lagi ...?” ucap Akala masih sangat lembut sambil mengu*lum senyumnya.


“Ci*umannya?” tebak Nina tanpa sedikit pun berpikir pada hal lain.


Akala sudah langsung mengangguk dan perlahan dibalas anggukan serupa oleh Nina.


Karena Nina kembali ingat adegan ci*uman Azzura dan Excel dan saat itu, Azzura membingkai wajah Excel, Nina pun berinisiatif melakukannya kepada Akala. Hanya saja, Nina justru merab*a sekaligus menatap saksama setiap inci wajah Akala.


“Kenapa?” tanya Akala sambil mengernyit dan menatap penasaran sang istri.


“Baru sadat, Mas tampan banget,” jujur Nina yang kemudian tersenyum tak berdosa kepada Akala yang sudah langsung terkejut tapi perlahan tertawa.


“Kamu beneran baru sadar? Selama ini memangnya kamu ke mana aja? Masa iya baru ngeh?” ucap Akala masih belum bisa mengakhiri tawanya. Hingga akhirnya, kecu*pan yang Nina lakukan di bibirnya lah, yang mampu menghentikan tawanya. Sebab karena kec*upan itu juga, Akala sudah langsung linglung.


“Mas sehat terus yah, pokoknya sehat ... terus. Biar aku selalu ada teman. Biar hariku enggak sepi apalagi sur*am lagi,” lirih Nina.


“Kamu sayang aku?” tanya Akala refleks dan tanpa membuatnya menunggu, Nina sudah langsung mengangguk sekaligus menitikkan air mata.


“Banget! Aku sayang banget ke Mas!” isak Nina.


“Samaaa!” sergah Akala tak mau kalah. Sayang ke kamu beneran sangat mudah, Yang. Mudah banget aku jatuh cinta ke kamu. Bukan karena wajah kamu, ... beneran bukan, sumpah! Karena dari awal, ... beneran hati aku yang sudah langsung pilih sekaligus ingin kamu. Hati aku bilang, kalau aku sama kamu, aku beneran bakalan jadi orang yang paling bahagia!” yakin Akala. “Aku jujur, sumpah!” Terlebih Nina malah jadi tersenyum dan tampak meragukannya.


“Aku beneran terharu!” jujur Nina.


Akala sudah langsung tersipu. “Ayo, ... katanya pengin punya anak? Dibikin dulu!” ucapnya yang jadi menahan tawa.


Nina yang awalnya menyimak serius karena dikira Akala akan membahas apa, juga langsung kikuk dan perlahan tersipu. “I-iya, Mas. Tapi asli aku jadi deg-degan banget. Terus, lampunya boleh dimatiin, kan?” rengeknya.


“Tapi ada mitos, kalau ‘bikinnya’ di tempat terang, nanti anaknya jadi berkulit putih bersih, terus pintar juga. Cerdas gitu!” balas Akala.


“Ah, masa, Mas? Mas kata siapa?” balas Nina langsung penasaran.


“Ya kita coba saja. Toh bikinnya juga enggak ada yang lihat. Kita beneran cuma berdua ih!” balas Akala dan Nina sudah langsung tersipu tapi perlahan menjadi sibuk menahan tawa.