Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 99


 Mencicipi Buah Asam


 


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Maisara sambil mengikuti langkah Harlan dari belakang, karena ia khawatir pria itu melakukan sesuatu pada bayi Mahes, mengingat pria itu tidak menyukai anak-anak apalagi bayi.


Harlan mendekati keranjang bayi dan Maisara sudah berdiri di sampingnya dengan waspada, saat melihat suaminya menunduk dan mengulurkan tangan. Ternyata ia hanya membelai paha kiri anaknya, yang terdapat tanda kemerahan seperti sebelah sayap kupu-kupu menempel di sana.


“Kenapa ada tanda seperti ini di pahanya?” tanya Harlan dengan suara rendah, ia khawatir anak itu bangun.


“Entahlah!” kata Maisara setengah berbisik, sambil mengangkat bahu. Ia terus menatap Harlan dengan tatapan yang waspada.


Harlan menoleh pada Maisara yang ada di sebelah kanannya sambil mengerutkan alis, tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang rumit.


“Kau tahu, aku juga punya tanda seperti ini di pahaku waktu kecil dulu!”


“Benarkah? Mana, coba aku lihat! Kenapa selama ini aku tidak lihat?” kata Maisara sambil menyentuh pinggang suaminya dan mencoba melepas celana panjang Harlan yang terikat dengan sabuk kulit berwarna hitam.


Harlan melotot padanya sambil memegang tangan istrinya, sedangkan Maisara kemudian tersenyum sambil melepaskan tangan dari sana.


“Kata ibumu, beberapa bayi punya tanda seperti itu kira-kira kenapa? Aku pikir kamu tahu!”


“Kamu tanya saja sama dokter anak, atau dokter kandungan, atau kalau perlu kamu tanya saja sama Tuhan ... Kenapa bayi yang lahir punya tanda seperti itu? Eum ... tapi aku rasa ada satu penyebabnya yang pasti,” kata Maisara sedikit ragu.


“Apa?” tanya Harlan penasaran.


“Kemungkinan besar karena bayi itu kurang diperhatikan ayahnya, waktu masih di perut ibunya dulu!”


Harlan tertegun, dan mengerutkan alisnya semakin dalam, sepertinya ia berpikir terlalu keras. Kemudian, ia meraih ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang.


Maisarah kembali duduk di sofa, setelah berhasil menenangkan hatinya, karena merasa sang suami tidak membahayakan bayinya. Mahes masih tidur, hingga ia tidak perlu menjaganya terlalu waspada. Ia kemudian sibuk dengan ponselnya dan mengirim pesan pada Sanaya.


Telepon Harlan sudah tersambung ia kemudian berkata, “Apa kau sibuk?”


Setelah itu Harlan diam.


“Tidak ada!” katanya lagi, dengan ponselnya. Ia masih berdiri di dekat box bayi, sambil memandang ke arah jendela kamar.


Maisara hanya menatapnya dari tempat di mana ia duduk, sambil memegang ponsel juga. Ia tidak tahu siapa yang dihubungi suaminya, tapi ia mendengar pria itu bicara langsung pada sasaran. Tanpa basa-basi atau menanyakan kabar terlebih dahulu pada lawan bicaranya.


Dia terlalu spontan!


“Aku cuma mau anya kenapa ada bayi yang memiliki tanda di badannya waktu dia lahir?”


Suasana sejenak hening.


“Sudah aku bilang tidak ada yang sakit!”


Lalu, hening lagi.


“Tapi istriku bilang, tanda itu karena aku tidak memperhatikannya waktu dia hamil dulu!”


Maisara yang mendengar ucapan suaminya di telepon itu, menjadi tercengang. Ia, lalu menebak jika Harlan sedang membicarakan tanda tubuh anaknya, dengan seorang dokter di seberang sana. Ia heran, Kenapa suaminya itu percaya begitu saja dengan ucapannya. Maisara tidak tahu, apakah ia harus menangis atau tertawa.


Sekian lamanya Harlan hanya diam, karena ia masih menyimak perkataan orang yang menjadi lawan bicaranya di telepon.


“Jadi, begitu ya? Baiklah!” kata Harlan, lalu menutup teleponnya dan menyimpan telepon itu ke atas tempat tidur. Ia kemudian menatap Maisara dengan tatapan yang tajam, tidak lembut seperti dari sebelumnya.


“Kata dokter itu, tidak masalah dan kemungkinannya hanya ada peredaran darah yang tidak lancar di bagian itu, waktu dia berada di perutmu!” ucap Harlan sambil memasukkan kedua tangan di saku celana.


“Apa kamu berbohong padaku? Kata dokter, tidak ada hubungannya dengan perhatianku, kamu ini ada-ada saja!” katanya lagi.


Harlan terlihat kesal, ia melangkah dengan cepat mendekati Maisara dan duduk di sampingnya. Lalu, ia memegang dagu dan mengarahkan wajah perempuan itu ke wajahnya. Tanpa isyarat apa pun, ia langsung memberi ciuman yang kuat di bibir. Seolah-olah itu adalah hukuman atau ungkapan dari rasa kekesalannya. Harlan tidak memberi jeda ataupun jarak sedikit pun, hingga Maisara kesulitan mengimbanginya.


“Sekarang apa kamu puas?” Harlan bertanya setelah melepaskan pagutan bibir mereka. Ia melepaskan pegangan tangannya untuk mengusap mulut Maisara dengan lembut.


Ganti wanita itu yang merasa kesal. Dasar aneh!


Puas apa yang ia maksudkan, mungkin dirinya yang puas, tetapi justru orang lain yang terkena sasarannya.


“Aku belum puas kalau bel—“ Maisara belum selesai bicara, tapi Harapan sudah memberinya ciuman ulang.


“Sekarang gimana, sudah puas?” tanya Harlan lagi, setelah ia melepaskan ciumannya.


Maisara menempelkan telapak tangannya ke bibir Harlan.


“Puas seperti apa yang kamu maksud sih?” katanya sambil melotot.


Harlan tertawa sambil memegang tangan Maisara dan berkata, “Kamu juga suka, kan?”


Oh Tuhan! Manis sekali kalau dia tertawa, coba kamu ketawa lagi.


Maisara ternganga, hingga ia tidak menjawab ucapan suaminya. Ia belum pernah melihat Harlan tertawa selebar itu kecuali hari ini.


“Hai!” kata Harlan sambil mencolek hidung Maisara, “Kamu ini kenapa?”


Maisara tersadar dan berkata, “Aku? Tidak kenapa-kenapa!”


“Apa yang sering kau lakukan dengan temanmu itu kalau kalian bertemu?” Harlan bertanya karena ia ingin menghalangi istrinya pergi dengan Sanaya, biar bagaimanapun caranya.


“Merayakan hari ulang tahun!” Maisara asal menjawab. Tentu saja ia dan Sanaya melakukan banyak hal, hingga tak terhitung, bahkan nonton konser idola di pusat kota besar provinsi pun pernah. Tidak mungkin semua hal itu ia katakan pada Harlan. Semua ciri khas anak wanita, mewarnai kuku, membicarakan artis panas dan makan berbagai makanan asam. Mana mungkin Harlan akan melakukannya, kan?


“Jadi, kalian melakukan ulang tahun setiap hari?”


“Ya, bukankah setiap hari adalah hari lahir bagi seseorang?”


Harlan menggelengkan kepalanya, “Itu kurang kerjaan namanya!”


“Aku pernah loh, nyicipi semua rasa buah yang paling asam dalam waktu lima menit tidak boleh berhenti!”


Harlan tiba-tiba merinding, ia tidak menyangka kehidupan Maisara dengan teman sebayanya terlalu menggelikan. Ia tidak mungkin mencicipi buah asam.


“Jadi, kamu melakukan yang mana ...?” kata Maisara sambil bergelayut mesra di lengan suaminya.


Laki-laki itu menundukkan pandangan ke arah wajah wanita di sampingnya, dan berkata, “Aku cuma mau lihat kamu melakukannya!”


“Enak saja! Kalau gitu aku mau ke rumah Sanaya, titip Mahes! Awas kalau dia sampai menangis!”


Kerjaannya mengancamku saja!


Namun, baru saja Maisara beranjak dari duduknya Mahes terbangun dan menangis. Wanita itu segera berjalan ke arah anaknya.


“Tunggu! Biar aku saja, kamu kalau mau pergi ya pergilah, jangan bawa anakku!”


Maisara seketika tercengang, “Memangnya kamu bisa?” katanya.


 


❤️❤️❤️❤️