
Antara Merendahkan dan Membalas Kebaikan
Tidak ada sahutan dari lawan bicara, hingga Putra berpikir jika mungkin Maisara menerima teleponnya, dalam keadaan sedang melukis. Ia kemudian kembali bicara.
“Kau pasti sedang sibuk menggambar, ya? Aku tahu berita kesuksesanmu, Mai! Aku turut bahagia untukmu, jarang sekali orang yang bisa sukses dalam waktu singkat, kau luar biasa!”
Telepon di tutup secara sepihak oleh Harlan yang kesal. Ia tidak suka mendengar suara seorang laki-laki memuji istrinya, hingga membuatnya muak.
Harlan tidak peduli apakah Putra di seberang sana menjadi bingung atau tidak.
Setelah itu, Harlan berinisiatif untuk menyalin nomor baru Maisara, dengan cara melakukan panggilan ke ponselnya sendiri. Ia pun mendownload beberapa foto diri istrinya dan foto hasil ultrasonografi pemeriksaan kandungan. Ia tidak pernah melakukan pemeriksaan berdua. Tiba-tiba, ada rasa nyeri di sudut hatinya seolah terluka oleh tusukan pisau.
Dalam waktu singkat ia sudah berhasil memindahkan semua foto selfie Maisara ke ponsel miliknya sendiri.
Di saat yang bersamaan pintu ruangan terbuka, tampak Maisara masuk sambil membawa nampan berisi dua buah cangkir kopi di atasnya. Setelah berada di dalam, ia kembali menutup pintu dengan mendorong menggunakan kakinya.
“Kau mau kopi?” tanya Maisara, sambil meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja.
Di saat yang sama, ponselnya kembali berdering dan nama Putra tertera di layar. Maisara segera meletakkan nampan di meja, sebelum mengambil ponsel. Ia ingin mematikan benda itu, selama masih ada Harlan, karena ia tidak ingin ada salah paham. Biar bagaimanapun juga, Putra memiliki jasa atas kesuksesan percetakannya. Kalau bukan karena temannya yang menemukan gedung itu, mungkin ia harus kebingungan saat mencari tempat tinggal baru.
Yang ia takutkan adalah, jika suaminya itu berbuat sesuatu pada Putra, hanya karena cemburu.
Namun, Maisara menepis pikirannya. Kan, tidak mungkin Harlan cemburu, karena laki-laki itu belum jelas memiliki perasaan seperti apa pada dirinya.
Maisara belum sempat mengambil ponselnya, tapi Harlan sudah lebih dulu menyambar dan menerima panggilan itu, membuat Maisara terkejut. Ia melotot pada Harlan karena ponsel adalah hak pribadinya.
Harlan menempelkan benda pipih itu di telinga, lalu berkata, “Siapa pun kamu, jangan hubungi Maisara lagi, dia istriku! Sekarang—“
Harlan belum sempat melanjutkan ucapannya tapi ponselnya sudah direbut oleh Maisara. Ia melihat ponsel itu masih menyala dan berkata, “Halo! Putra, apa kau masih di sana?”
“Ya, aku tadi juga meneleponmu, tapi tidak ada jawaban aku pikir kau sibuk. Oh ya, Mai, siapa itu tadi yang bilang kau sudah menikah dengannya, apa benar kau sudah memiliki suami sekarang?” kata Putra suaranya terdengar menyesal.
Maisara melirik pada Harlan ia pikir laki-laki itu sudah melanggar privasinya, karena mengangkat telepon dan menerima panggilan yang bukan urusannya.
“Maaf, mungkin kau salah dengar, ada gangguan sedikit. Kita bicara lagi nanti, oke?”
“Baiklah, aku tunggu panggilan darimu, by!”
Telepon di tutup dengan pandangan menusuk dari Maisara pada pria di hadapannya. Ia kesal karena sikap Harlan yang kekanak-kanakan. Ia pun bingung harus menjelaskan apa pada Putra nanti.
Maisara kembali menyimpan ponsel dan membenarkan posisi duduknya yang berhadap-hadapan dengan Harlan, hanya meja yang memisahkan mereka.
“Harlane! Ayo cepat! Apa ada yang ingin kamu bicarakan, sampai datang ke sini?”
“Aku hanya ingin menciummu!” kata Harlan tegas.
Maisara memalingkan pandangan dan wajahnya tiba-tiba saja memerah dan hangat.
“Maksudku, sekarang giliranku bicara!” kata Maisara gugup.
“Bicara saja!” Harlan berkata seolah dialah bosnya di sana. Ia melipat dua tangan di depan dada, menumpuk kaki secara bersilang dan menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Sikapnya menunjukkan seolah-olah Maisara hanyalah bawahan yang memiliki keperluan dengannya saja.
“Aku memesan mesin cetak itu, karena aku memiliki uang ... jadi apakah benar perusahaanmu memberikan diskon sebesar itu pada semua pemesan hari ini?”
Harlan diam. Ia hanya memberi potongan harga pada Maisara, tapi tidak untuk pemesan lainnya. Ia tidak tahu apakah Maisara menyukai keputusan itu atau tidak.
“Apa kamu sudah menemukan gudang untuk menyimpan pesananmu? Aku bisa menambahnya kalau masih kurang dan itu gratis untuk kamu!”
Maisara tertegun, ia bisa menyimpulkan sesuatu dari ucapan Harlan yang menyimpang dari pertanyaannya.
Pria itu dengan jelas menunjukkan kalau potongan harga hanya ditujukan untuk dirinya saja. Terlepas dari apa pun alasannya, keputusan itu terkesan tidak adil. Namun, sepertinya ia tidak peduli dengan penilaian orang lagi.
“Apa benar, perusahaanmu bisa memenuhi pesanan itu hanya dalam waktu satu hari?” tanya Maisara. Seketika Harlan menegakkan punggung dan menyimpan kedua tangannya di atas meja. Ia terlihat serius dan menatap Maisara langsung ke bola matanya.
“Jadi, kamu pesan itu hanya untuk menguji kemampuan perusahaanku? Hah!” Harlan berkata sambil mengepalkan tangan, ia terlihat sangat kesal saat menyadari tujuan Maisara memesan, hanya untuk meremehkannya.
“Menurutmu bagaimana? Aku bisa membayarnya walau kamu nggak ngasih aku diskon!”
“Aku juga bisa ngasih kamu gratis, semuanya!”
Maisara kembali tercengang.
“Kalau kamu nggak percaya, aku bisa kembalikan uang kamu sekarang juga!”
“Tidak perlu!”
“Hai ...!” kata Harlan, sambil meraih tangan Maisara dan menggenggamnya, “Jangan membayar pesananmu hanya karena kau merasa berhutang budi padaku!”
Maisara tidak tahu apakah ia harus menangis atau tertawa. Bagaimana bisa Herlan mengetahui isi hatinya. Ia memang berniat untuk membalas budi, pada kebaikannya saat membeli gedung Hansan.
Maisara mengetahui tentang latar belakang Sunni dari Putra yang berhasil menyelidikinya. Setelah itu ia menyadari satu hal jika orang yang berada di belakang Sunni adalah Harlan. Namun, karena semua transaksi sudah terjadi, ia mengabaikan hal itu.
Kesempatan Maisara untuk berbuat baik pada suaminya, terbetik ketika ada sebuah produk baru, yang dirilis dan diluncurkan oleh perusahaan Mahespati Industries. Secara kebetulan berhubungan dengan bisnisnya, karena itulah ia mengambil langkah melakukan pemesanan dalam jumlah besar. Padahal, Ia sendiri tidak membutuhkan barang sebanyak itu.
Baginya tidak masalah kalau pesanannya baru akan dikirim, seminggu ataupun satu bulan kemudian. Namun, ia tidak menyangka jika barang itu datang hanya dalam waktu satu hari setelah pemesanan.
“Siapa yang mau balas budi sih?”
❤️❤️❤️❤️