Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab. 40


Pemandangan Yang Memilukan


Saat itulah Sanaya berpikir bahwa, tidak masalah menawarkan perusahaan milik Maisara. Sekarang usahanya bangkrut. Apalagi, gedung itu terletak di lokasi yang cukup strategis dan memang cocok untuk bisnis. Buktinya, perusahaan ayah Maisara pernah sukses di sana.


Sanaya menceritakan seluk beluk dan bagaimana kejadian perusahaan ayah sahabatnya itu, bisa terbengkalai, dengan penuh kesedihan.


“Jadi, Anda hanya mau membeli gedung dan tidak mau menanamkan modal usaha?” tanya Maisara, setelah Sanaya selesai bercerita.


“Ya, kenapa tidak? Coba pertimbangkan lagi Nona Maisara,” kata Suni dengan sopan.


“Jangan panggil aku Nona ... panggil saja namaku seperti Sanaya memanggilku!” sahut Maisara, tiba-tiba raut wajah Suni berubah.


Suni tidak enak memanggil Maisara demikian, ini tidak sopan kalau mereka kelak menjadi mitra bisnis.


“Sebaiknya kamu pertimbangkan saranku, Mai ... dengan menjual gedung itu kamu akan lebih mudah, melakukan apapun yang kamu sukai dan membayar lunas semua hutang perusahaan Ayahmu. Aku tidak akan banyak merenovasi atau merubah gedung kalau sudah sesuai dengan kriteriaku, karena aku cuma menjalankan usaha sederhana seperti usahaku yang dulu!”


“Apa usahamu?” tanya Maisara.


“Aku ingin membuka konveksi, kalau saja itu cocok ... bagaimana kalau kita melihat gedungnya sekarang?” pinta Suni.


Meisara tampak berpikir keras dan hanya diam saja, tapi Sanaya justru menjawab penuh semangat.


“Hai! Itu ide bagus! Kenapa tidak mau kalau cuman melihat-lihat!” katanya sambil melirik Maisara—sahabatnya dan tersenyum manis. Ia penuh dengan niat tersembunyi. Sanaya menaikkan alisnya beberapa kali.


Maisara tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya menuruti permintaan Sanaya juga Suni untuk melihat gedung bekas perusahaan Hansan foundation yang terbengkalai itu.


Mereka bertiga pergi meninggalkan kafe setelah membayar makanan dan minuman yang belum habis semua. Lalu, pergi dengan mobil Suni, menuju perusahaan ayahnya.


Maisara mengirim pesan pada sopir untuk menunggu di kafe karena ia tidak akan lama.


“Jadi ini nama perusahaanmu yang dulu?” tanya Suni saat mereka sudah tiba di depan gedung Hansan foundation. Ketiga orang itu turun dari kendaraan hampir bersamaan.


“Ya Hansan adalah nama Ayahku.”


“Itu nama yang bagus, sepertinya aku tidak akan merubahnya!”


Meisara tidak tahu apakah ia harus menangis atau tertawa, ia begitu terharu dan senang karena ada seorang yang setuju, dengan nama perusahaan itu.


Namun, kemungkin dirinya cocok berbisnis dengan Suni sangat besar, dan mereka hanya tinggal menyepakati soal harga kalau memang pria itu menginginkannya.


“Aku sepertinya cocok, apa kau berniat akan menjualnya atau tidak, Mai?” tanya Suni lagi.


“Berapa harga yang kau tawarkan untuk gedung seperti ini, Suni? Aku pikir pantas kalau aku mengambil keuntungan!”


“Tentu saja ... Tapi aku belum tahu soal harga, mungkin aku harus membicarakannya dulu dengan pengacara, karena aku tidak tahu berapa harga pasaran dari tanah dan gedung di lokasi tempat ini, apakah kau tahu? Aku akan mengikuti permintaan harga darimu!”


“Aku juga tidak tahu kalau soal jual beli gedung ataupun tanah, mungkin sebaiknya memang kau membicarakan dulu dengan pengacaramu dan aku juga akan membicarakannya dengan ibuku!”


Setelah kesepakatan itu berlangsung, mereka pun berpisah. Suni pergi dengan Sanaya dan Maisara tidak mau tahu dua orang yang seperti sedang jatuh cinta itu akan melakukan apa dan ke mana.


Saat itu ia memikirkan Sanaya, sahabatnya itu terlalu ikut campur, dan memang tidak ada hubungannya dengan jual beli hidung, tetapi berkat dirinyalah Maisarah bisa mengenal Sunni. Ia akan memikirkan apakah ia harus menjualnya atau tidak.


Kalau Maisara menjualnya, itu artinya ia tidak memiliki kekayaan dari sang ayah lagi.


Maisarah berniat akan bertolak ke rumah ibunya saat ia kembali ke di restoran, dan meminta sopir mengantarkannya ke sana.


Namun baru separuh perjalanan, Maisara nuju apartemen sederhana yang ditempati Daina, ia merasakan perutnya malas. Ia khawatir dengan kandungannya hingga memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Meskipun ia tidak tahu sakit di perutnya karena kehamilannya atau bukan, tapi berkonsultasi di dokter spesialis kandungan akan jauh lebih bagus.


Kepada sopir, Meisara beralasan akan menengok seorang teman, ketika memintanya untuk berbalik arah menuju ke rumah sakit.


“Aku baru sadar menerima pesan kalau temanku ada di rumah sakit sekarang!” kata Maisarah kembali beralasan, akhir-akhir ini dia semakin pandai berbohong.


“Baiklah, Nyonya!”


Sesampainya di rumah sakit, Maisara langsung mendaftarkan diri dan Saat sudah tiba gilirannya untuk diperiksa, ia mengatakan kekhawatirannya. Setelah diperiksa, Dokter mengatakan kalau anak di dalam rahimnya baik-baik saja. Pada saat yang bersamaan Maisara melihbercak sedikit bercak darah di pakaian dalamnya.


Dokter itu berkata, “Oh, itu artinya kau harus berhati-hati, tidak boleh terlalu lelah dan harus minum vitamin lagi!”


Seketika hatinya menjadi sedih, karena menyadari ia tidak boleh lelah pikiran dan tubuh, selama menjalani masa kehamilan. Walaupun ia bersyukur tidak mengalami terlalu banyak mual dan muntah, tetapi perubahan hormon di dalam tubuhnya memaksanya beradaptasi dengan perubahan.


“Kau harus menikmati prosesnya, seperti itulah kehamilan ... suatu saat nanti, kalau kau hamil lagi kau akan terbiasa dan ingat-ingatlah bagaimana hari ini, suatu saat kau akan lupa dengan semua keluh kesahmu dan rasa sakit, kalau kau melahirkan anakmu kelak,” kata dokter menghibur, dengan ramah dan selalu tersenyum saat Maisara memeriksakan diri padanya.


“Baiklah!”


“Kenapa kau tidak mengajak suamimu setiap ke sini? Kurasa dia harus tahu bagaimana perkembangan janinnya!”


Maisara tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tentang hal itu dia tidak pernah mengatakan apa pun. Walau dokter itu tahu bahwa, nama ayahnya yang tertulis di sana adalah Harlan, tapi nama Harlan tidak hanya Harlan Mahespati saja.


“Dia masih sibuk!” kata Maisara beralasan, kali ini ia berkata jujur, Harlan memang sibuk


“Kalau Ayah bayi ini Harlan Mahespati Prawira, aku percaya dia tidak sempat meluangkan waktu untuk bayinya, tapi kalau Harlan yang lain, kau tidak bisa membohongiku ...,” kata dokter sambil tertawa kecil.


“Baiklah,” kata Maisara putus asa dan bingung.


Setelah keluar dari ruang pemeriksaan ginekologi Maisara berjalan dengan lunglai di koridor, menuju lift yang terdapat di ujungnya. Lift itu akan membawanya ke lantai dasar atau tempat parkir kendaraan. Saat itu ia tidak sengaja mendengar seseorang berbicara dengan suara memelas, memohon dan hampir menangis.


Maisara penasaran hingga membuatnya mengintip di balik dinding. Namun, ia terkejut ketika melihat pemandangan yang begitu memilukan.


Ada dua orang paruh baya laki-laki dan perempuan sedang berlutut dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, di hadapannya berdiri Harlan—suaminya!


Pria itu berdiri dengan angkuhnya menatap kedua orang yang ada di hadapannya.


“Harlan kumohon padamu, untuk kali ini saja, hanya sebuah peresmian dan aku tidak akan merepotkanmu lagi, kumohon! Apakah aku harus mengiris tanganku juga, seperti Raina hingga kau mau menikahinya?” kata seorang pria yang terlihat lebih tua.


“Siapa mereka?” tanya Maisara dalam hati, tanpa mengalihkan pandangannya.


❤️❤️❤️❤️