
**Maaf ya, buat teman-teman yang membaca beberapa bab sebelumnya tentang kesalahan nama Raina menjadi Haira, tapi sekarang sudah aku revisi, terima kasih sudah membaca**
Apartemen Ibuku
Wendy menutup telepon rumah di kamarnya, setelah selesai bicara, dan saat berbalik badan, ia melihat sebuah bayangan yang berkelebat pergi dari sisi tembok dekat pintu, membuatnya heran.
Siapa yang menguping? Berani-beraninya!
Wanita itu kembali ke ruang tamu dan mendapati tamunya masih duduk di tempat yang sama, hanya saja raut wajah mereka berubah. Tidak begitu ramah seperti sebelumnya.
Wendy duduk di tempatnya semula seraya menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung, ia menatap tajam ke arah sepasang suami istri yang ada di hadapannya.
Sari dan Mukti—kedua orang tua Raina itu kemudian tersenyum. Tadi Sari pergi menguping hingga ia tahu kalau menantu sah keluarga Mahespati sedang hamil anak Harlan dengan cara bayi tabung. Mereka heran, mengapa Wendi dulu tidak melakukan pada anaknya saja.
Raina sudah dekat dengan Harlan sejak lama dan siap melakukan apa pun, kalau hanya memberi seorang cucu dengan cara penyuntikkan bibit, itu sangat mudah. Namun, kenyataan bahwa Wendi memilih wanita seperti Maisara, itu sangat mengherankan bagi mereka
“Nyonya, Tuan ... sebenarnya saya tidak senang dengan semua ini, Raina hamil itu sebenarnya bukan urusanku, tapi semua keputusan aku serahkan pada Harlan,” kata Wendi, ia berusaha tenang meski tetap tidak bisa mengendalikan gemuruh di hatinya. Ia menolak kemauan Sari dan Mukti secara halus.
Kalau saja dua orang itu tahu tentang kehamilan Maisara itu bagus, tapi caranya sangat rendahan dengan menguping pembicaraannya. Mereka seperti bukan keturunan orang-orang yang terlahir di kalangan atas yang tidak tahu malu saja.
“Baiklah, kalau begitu tidak masalah, karena Harlan sudah bersepakat dengan kami akan menikahi Raina secepatnya ,dan kedatangan kami ke sini hanyalah untuk meresmikan sebuah hubungan bahwa kita sebentar lagi akan berbesan ... benarkan, Besan?” Masih Sari yang menumis nasi untuk bicara.
“Itu terserah kalian karena aku tidak pernah meminta apa pun, dalam sebuah hubungan selama ini antara aku dan kalian!”
Setelah ucapan Wendy, kedua orang tua Raina berpamitan, lalu mereka pergi, meninggalkan Ibu--calon menantu anaknya, dengan kesal.
Di mobil dalam perjalanan pulang menuju kediaman mereka, Sari menggerutu pada suaminya—yang tengah mengemudi, dengan wajah cemberut.
“Jadi, wanita itu sudah hamil, Pah! Ini jauh lebih sulit ... kenapa Reina bisa begitu bodoh?” kata Sari penuh penyesalan.
“Itu anakmu, kan? Kau terlalu memanjakannya!” sahut Mukti tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Kau selalu saja menyalahkan aku!”
“Tenanglah! Kalau soal wanita itu bukan masalah ..., karena Harlan tidak menyukai anak-anak sejak dulu. Kau pikir apa yang bisa dia dilakukan? Kalau tidak suka ya tidak suka! Bayangkan saja kalau ada seseorang melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh Arlan bukankah laki-laki itu akan semakin membencinya?”
“Ya, kau benar!”
“Kalau soal Raina, dia harus tetap bersikap baik pada Hartlan dan kalau anaknya udah lahir, jangan biarkan dekat padanya sampai kapan pun, dengan begitu Raina akan tetap mendapatkan kasih sayang!”
Sari mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. Ia hanya berharap besar jika nama baik anak dan keluarganya tetap terjaga dan Herlan tidak mengingkari janjinya, untuk menikah dalam waktu cepat.
Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas saat mengingat ucapan Wendy jika keluarga Mahespati adalah, orang-orang yang menjunjung harga diri. Sehingga mereka tidak akan mengabaikan perjanjian. Bukankah pernikahan sebuah ikatan yang kuat. Lalu, ia yakin jika kelak Harlan dan Raina menikah, laki-laki itu akan menjamin hidup dan anaknya akan baik-baik saja. Walaupun, Harlan tidak menyukainya sekali pun, tapi tanggung jawab adalah segalanya. Bagi Raina yang penting mereka tetap bisa berdekatan.
Lihat saja nanti, anakku pasti bisa mendapatkan segalanya. Harlan tidak akan menyia-nyiakan Raina atau membiarkan dia tanpa pengawasan ataupun belas kasih.
Sari memejamkan mata hingga tiba di kediamannya.
“Hai Mai, apa kau sekarang masih tinggal di Aneovile, dengan si be rengsek Nella?” tanya Sanaya dari ujung telepon.
“Tidak!” sahut Maisara malas.
“Oh! Itu bagus, aku ingin bertemu sekarang juga denganmu, jadi kamu tinggal di mana?”
Meisara tertegun, ia belum berkata jujur tentang kepindahannya dan sekarang ia tinggal di villa Harlan. Rasanya tidak mungkin mengatakan secara jujur kalau ia sudah menikah padahal, suaminya tidak pernah mengakui dirinya sebagai istri.
“Aku tinggal dengan ibuku sekarang di pinggiran Distrik Timur Kota, aku bagi lokasinya, kita ketemu di sana!”
“Jadi, Bu Daina ada di sini? Sejak kapan kamu pindah?”
“Belum lama ... sebenarnya apa kau bicarakan? Apa itu soal Sunni, aku belum punya keputusan!”
“Ya ini soal Sunni, apa kau pernah kenal dengan Tuan Fedhi?”
“Ya, aku kenal sedikit soal dia. Lalu, apa hubungannya dengan kita?”
“Aku melihatnya hari ini berjalan dengan Sunni, setahuku Fedhi termasuk orang-orang dari Mahespati Industries, itu artinya dia punya hubungan dengan perusahaan itu. Mai, kupikir kau harus memberi keputusan sekarang juga! Kalau memang mereka saling terkait, artinya dia punya kekayaan yang luar biasa bukan?”
“Lalu?”
“Ahk, kau ini ... jadi jangan ragu-ragu, tidak akan pernah rugi kalau perusahaanmu dibeli oleh orang seperti dia!”
Meisara tertegun lagi, sambil berpikir kalau memang benar Suni memiliki hubungan dengan Fedhi ataupun perusahaan Mahespati, maka ia tidak akan menerima perjanjian jual beli perusahaan dengannya.
Ia ingin memutuskan hubungan dengan Harlan, dan apa pun yang terkait dengannya. Jangan sampai keluarga itu merasa berjasa.
Bagi Maisara mereka adalah keluarga penghianat.
Walaupun Herlan dan Roni adalah dua orang yang berbeda tetapi mereka lahir dari keluarga yang sama.
“Baiklah, kalau begitu kita bertemu besok saja, aku lelah sekarang!” kata Maisara sambil menguap.
“Memangnya apa yang kau kerjakan, sampai kelelahan? Apa kau membuat komik baru? Berikan aku bocorannya!”
Maisara tidak kelelahan oleh pekerjaan, melainkan karena dikerjai Harlan, rasanya ia ingin tidur sekarang juga.
“Kau selalu memanfaatkan temanmu, seharusnya aku membantuku, yaa paling tidak bisa memilihkan warna!” kata Maisara.
“Warna yang kupilih selalu tidak selera denganmu ... sudah, lupakan saja!” Sananya pun menutup panggilan tanpa mengucapkan salam perpisahan.
❤️❤️❤️❤️