Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 77


Kaisar Timur


Setelah tiba di percetakannya, Maisara mematikan mesin mobil dengan perasaan yang campur aduk.


Caca tercengang ketika melihat logo Hansan Foundation, tertera di dinding gedung berbentuk ruko yang berukuran besar itu. Ia turun begitu Maisara memarkirkan mobil di pelataran gedungnya.


Ia langsung menutup mulut yang terbuka dengan kedua telapak tangannya saat melihat poster-poster Morodoki Law berjajar dalam berbagai warna dan gaya di depan gedung itu. Lalu, ia melihat pada Maisara dan ke dalam gedung secara bergantian.


“Ayo! Masuklah!” kata Maisara sambil membawa barang belanjaannya.


“Mai! Katakan padaku, apakah semua ini milikmu?”


“Ya!” Maisara menjawab sambil melangkah dengan cepat ke dalam.


“Jadi, rupanya di sini semua poster itu dicetak?” Caca mengejar langkah Maisara yang lebar.


“Ya, begitulah!” sahut Maisara ia melenggang di antara beberapa rekan-rekan yang membantunya.


“Jadi, apa kau kenal dengan Maihay? Dia pembuatnya, kan? Dan dia pasti sering ke sini, dan dia pasti tinggal di sini, kan?”


“Ya.”


“Apa kau bisa mempertemukan aku dengannya?” kata Caca, dan saat itu Daina ada di belakangnya.


“Kau sudah bertemu dengan orangnya!” kata Daina tiba-tiba, sambil menyimpan beberapa sayuran di atas meja, berikut beberapa bahan makanan lainnya.


“Apa maksudmu?” tanya Caca dengan begitu polosnya.


“Kau mau bertemu pembuat poster dan pembuat komik Morodoki, bukan?” tanya Daina.


“Ya?” sahut Caca mantap.


“Maisara orangnya!” seru Daina tanpa ekspresi, ia bahkan tidak menatap dua anak perempuan di hadapannya.


Caca tidak bisa berkata-kata hanya melihat ke arah Maisara yang menatap ibunya dengan tatapan tidak suka.


Daina menoleh pada anaknya dan berkata, “Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau tidak suka? Sampai kapan kau akan menutupi siapa dirimu, kalau kau adalah Maihay?”


Setelah itu, Daina melanjutkan untuk memasak.


Caca segera berlari ke arah Maisara dan memluknya erat, lalu meneteskan air mata. Ia tidak mengira kalau akan bertemu dengan orang yang dicarinya di tempat yang tidak ia duga sebelumnya.


“Maisara, kau adalah Maihay?” pekik Caca sambil menyeka air mata, ia begitu terharu sekaligus heran kenapa Maisara tidak berkata jujur sejak dulu.


“Ya. Lalu, untuk apa kau ingin bertemu dengan Maihay? Apa yang ingin kau katakan padanya?”


“Aku mengagumi karyanya!”


“Terima kasih,” kata Maisara datar. Ia seolah enggan menerima penghargaan apa pun darinya.


“Kenapa kau seperti tidak suka aku mengetahui identitas aslimu?” tanya Caca.


“Aku bukannya tidak suka, tapi hanya tidak tahu harus berbuat apa? Kau, atau siapa pun pembaca karyaku, sudah memberikan sesuatu yang berharga. Tidak perlu sanjungan atau apa pun juga, kalau seorang pembaca menyukai dan memberikan komentar positif, itu sudah cukup.”


“Berjanjilah kau tidak akan memberitahukannya pada siap pun, oke?” Maisara berkata penuh penekanan.


“Tentu! Jangan khawatir!” sahut Caca sambil tersenyum, “Tapi, seperti janjiku dulu kalau aku bisa menemukan pembaut komik itu suatu hari nanti, aku akan memberikan sesuatu kepadanya!”


“Tidak perlu!” tolak Maisara.


“Mai, walaupun kau memiliki segalanya, tapi kuharap kau mau menerimanya sebagai kenangan, karena karyamu sangat menginspirasi!”


“Baiklah, baiklah ...!”


Dua wanita itu kemudian pergi ke ruang pribadi Maisara, mereka duduk menghadap ke arah meja gambar, yang digunakan untuk membuat sketsa. Sementara itu, Caca menunggu jemputannya. Sebagai pembaca ia mengutarakan semua pendapat dan perasaannya saat membaca cerita komiknya.


“Oh, ya! Mai, bagaimana mungkin wajah Morodoki Law itu mirip sekali dengan Pak Harlan?”


“Apa kau menilainya begitu?”


“Ya! Aku menilai wajah Morodoki Law memang wajahnya, kurasa dia memang tampan, apalagi kau mengenalnya, kan?”


“Ya,” sahut Maisara sedikit ragu, jantungnya berdebar cukup keras.


“Bagaimana kau bisa melukis wajah itu? Apa ada penyebabnya?”


“Tidak ada! Bagaimana kau bisa menyimpulkan wajah mereka mirip, apa kau pernah bertemu dengannya akhir-akhir ini?”


Lalu, Caca pun menceritakan bagaimana ia bisa pindah dan penyebabnya. Ia mendengar kabar burung dari beberapa komentar di komiknya bahwa, Maihay pindah ke sebuah daerah hingga ia tidak bisa update selama beberapa hari. Secara kebetulan, ia bertemu dengan Harlan yang memintanya untuk menjauh darinya atau tidak ingin melihat wajah Caca di sana lagi.


Mendengar semua cerita kalau pada akhirnya Caca pindah ke distrik Barat, lalu Harlan pun sering datang ke rumah Maisara. Kalau ia pada akhirnya bertemu Caca di tempat itu, alangkah tidak beruntungnya pria itu.


Maisara tersenyum lebar membuat Caca heran.


“Mai, kenapa kau tersenyum, apa ceritaku lucu buatmu?” tanya Caca setelah ia selesai bercerita.


“Bukan! Ah, lupakan saja!”


“Ayo! Lanjutkan sketsanya, aku ingin melihatmu melukis wajah Pak Harlan jadi pendekar Kaisar Timur!”


Negeri timur adalah negeri penuh misteri dari keindahan alamnya. Dan kekaisaran melegenda pun ada di sana. Sebuah kisah tak pernah habis diambil dari kekaisaran di mana pun berada. Mereka selalu identik dengan kekayaan, ketampanan dan pastinya para wanita cantik yang tidak pernah lepas dari kekuasaan dan kekayaan sepanjang masa.


“Ini hanyalah imajinasi ku, tidak ada hubungannya dengan Harlan atau siapa pun, kau jangan mengada-ada!”


“Siapa yang mengada-ada!” tiba-tiba sebuah suara memecah keseriusan dua wanita itu, “Itu memang gambar wajahku!”


“Harlane!”


“Pak Harlan!”


Seru dua orang itu hampir serempak dan secara refleks mereka berdiri dari duduknya.


❤️❤️❤️❤️