
Caca Si Penggemar
“Siapa namamu?” tanya Maisara, hatinya tiba-tiba berbunga-bunga, ia bisa mengetahui penggemar rahasianya yang sudah memberinya hadiah koin sebanyak itu pada komiknya.
“Caca!”
Maisara mengangguk merasa cukup terhibur dari semua peristiwa yang menyakitkan hati, dari kematian ayahnya, sikap Harlan dan juga kehamilannya serta, perusahaan ayahnya.
“Jangan bersedih, aku kenal dengan orang membuat komik itu, aku akan bilang padanya biar dia cepat update.”
“Benarkah? Siapa dia, aku ingin menemuinya!” Caca berkata antusias. Iya berdiri mendekati Maisara.
“Ya, tapi dia tidak ingin identitasnya diketahui!”
“Oh, jadi begitu?” Caca berkata dengan lesu.
“Caca ... aku turut berduka atas Ayahmu ... kau tahu, dia pasti bahagia punya anak seperti dirimu.”
“Dia bukan ayahku!”
Owh, astaga! Kalau bukan ayahnya kenapa dia menangisi makam itu? Kejutan apa lagi ini?
Sementara itu Daina lebih penasaran dari Maisara. Demi memuaskan rasa penasarannya, ia pergi menghampiri wanita yang duduk di kursi roda dan berada di luar area makam.
“Apa kau ibunya?” tanya Daina pada wanita itu, sambil menunjuk Caca.
Wanita di kursi roda itu mengangguk. Kakinya tidak ada sebatas lutut, sepertinya ia kehilangan karena di amputasi.
“Apa yang di makamkan di sana adalah Suamimu? Apa dia ayah Caca?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Bukan! Apa kalian heran dengan aku dan anakku?” tanya wanita itu, sambil mengulurkan tangannya.
Daina mengangguk, sambil mendekat lalu menerima uluran tangan wanita itu. Mereka berkenalan.
“Kenalkan, namaku Shasi, dia anakku, Caca!”
Daina pun menyebutkan namanya.
Shasi tahu apa yang membuat Daina heran. Saat melihat Caca—anaknya, menangisi makam seorang pria yang bukan ayahnya.
Shasi pun bercerita bahwa, pria yang dalam tanah itu meninggal karena menyelamatkan Caca dari kecelakaan, empat tahun yang lalu. Hari ini adalah hari ulang tahun anaknya, dan sejak kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya itu, Caca memperingati hari lahirnya dengan berdoa di makam Mahespati Prawira.
Laki-laki yang bernama Mahespati Prawira itu, rela menyelamatkan nyawa mereka padahal, ia sendiri tidak tahu kalau justru nyawanya-lah yang akan melayang.
Dalam kecelakaan itu, kedua kaki Shasi pun harus diamputasi karena tulangnya hancur akibat terjepit kursi mobilnya sendiri. Kalau bukan keran tindakan Mahespati, ia dan anaknya pasti akan tiada saat itu juga. Begitu mereka berdua bisa keluar dari mobil yang menabrak tebing, tiba-tiba mobil itu meledak.
Mahespati melemparkan anak itu ke jalanan, padahal ia belum sempat menyelamatkan dirinya sendiri karena pada saat itu bajunya tersangkut. Dan, akibatnya ia terkena ledakan yang cukup dahsyat. Bersama dengan sang sopir yang tewas seketika.
“Bagaimana kau bisa selamat?” tanya Daina dengan penuh penasaran.
“Oh, saat itu aku di selamatkan oleh dua orang pengawal Mahespati.” Shasi menjelaskan bagaimana kejadian kecelakaan itu. Saat kejadian itu, ia masih dan anaknya masih tidur, hingga tidak tahu pasti apa yang menyebabkan mobilnya tiba-tiba menabrak tebing.
Daina pun mengangguk.
“Siapa gadis itu?” tanya Shasi sambil melirik Maisara yang terlihat begitu dekat dengan Caca, anak itu belum pernah terlihat begitu ceria sejak kecelakaan yang dialaminya.
“Dia anakku, Maisara.”
“Apa dia masih gadis? Bolehkah aku mengambilnya menjadi anak?”
Daina begitu tercengang, ia pun mengatakan kalau anaknya sudah memiliki suami, dan suaminya itu adalah anak keturunan Mahespati juga, bagaimana mungkin kalau ia akan menjadi anak asuh Shasi?
Bukankah ini kebetulan? Jadi, gadis itu adalah istri Harlan Mahespati, apakah pria itu sudah sembuh hingga memutuskan untuk menikah? Tapi, kenapa tidak ada kabar apa pun tentang dia di media sosial? Bisa saja pernikahan itu disembunyikan. Ahk, yang benar saja!
Berbagai pertanyaan tiba-tiba bermunculan di benak Shasi. Ia mengenal Harlan, sebagai anak dari pria yang menyelamatkan nyawanya, tidak lebih.
Shasi merasa kalau Caca menyukai Maisara, gadis itu sangat manis dan terlihat tulus. Keakraban mereka terjadi seketika tanpa dibuat-buat.
Anak-anak biasanya begitu murni, ia akan merasakan bahwa sebuah pemberian itu tulus atau tidak.
“Apa kau membesarkan anakmu seorang diri?” tanya Daina hati-hati, karena biasanya seseorang akan sangat sensitif kalau ditanya masalah itu.
Sekali lagi Shasi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Suamiku menunggu kami di mobil!” katanya sambil melirik kaca mobil yang sedari tadi terbuka dan sebuah wajah menyembul di sana.
Daina dan Shashi menoleh ke arah Maisara dan Caca, saat mereka berjalan mendekat. Suara tawa riang terdengar dari keduanya.
Pada saat itu, Caca sudah menceritakan semua yang ia alami pada Maisara hingga ia mengakui secara jujur jika setiap hari ulang tahunnya tiba, ia akan mendoakan Mahespati.
Maisara tidak mengomentari semua cerita Caca, dan hanya mengatakan kalau Caca adalah anak yang baik.
Saat peristiwa itu terjadi, Caca masih kecil. Tidak seharusnya ia merasa bersalah, sebab di mana saja akan ada hukum di mana yang lebih besar, harus melindungi orang yang lebih kecil darinya.
Dalam pikiran Maisara tiba-tiba bisa mengambil sebuah benang merah, dari sebab mengapa Harlan tidak menyukai seorang anak.
Apakah karena hal itu Harlan membenci anak-anak? Ya. Bisa saja, karena ia menganggap anak itu sudah membunuh ayahnya secara tidak langsung.
Maisara bertekad bila suatu saat ia akan memberitahukan bahwa, anak yang dibenci Harlan karena dianggap sudah membunuh ayahnya itu, adalah anak yang baik.
“Mai, apa kau kenal dengan orang yang bernama Harlan?”
“Kenapa kau menanyakan ini, Caca?”
“Aku mengetahui profilnya di media sosial dan dia adalah anak Mahespati, kalau kau kenal dengan orang itu, bisakah kau menyampaikan keinginanku padanya?”
“Apa yang kau inginkan?”
“Eum ... aku mau minta maaf padanya ... karena akulah yang menyebabkan dia kehilangan Ayahnya!”
Maisara tercengang, bagaimana mungkin anak sekecil itu, mengerti tentang rasa bersalah yang sedianya hanya dilakukan para orang dewasa.
“Ya, tentu saja! Aku yakin kalau dia pasti akan memaafkanmu, aku akan mempertemukan kalian berdua!”
“Apa kau benar-benar mengenalnya, Mai?” tanya Caca.
“Ya, ini kebetulan sekali bukan?”
Caca mendekati Maisara dan memeluk pinggangnya erat, sangat erat.
“Mai, aku sangat beruntung sekali mengenalmu hari ini! Karena kau mengenal semua orang!”
“Itu bukan masalah!”
Caca pergi berpamitan pada Maisara ketika ia melepaskan pelukan, dan pergi ke mobil orang tuanya, dengan tersenyum senang. Maisara membalas senyum dan lambaian tangan Caca dengan semangat, meski Caca tidak tahu kalau Maisara sedang bersedih karena kehilangan ayahnya, anak itu tetap bisa menghiburnya.
Maisara dan Daina berdiri cukup lama di sisi jalan untuk menunggu taxi. Begitu mereka mendapatkannya, dan mengendarai mobil itu menuju arah pulang, hari sudah malam. Bahkan gerimis menyertai perjalanan mereka berdua.
Maisara memutuskan untuk langsung pulang ke rumah Harlan. Ia menolak mampir ke rumah keluarganya di perumahan Avonvile, juga tidak akan kembali ke rumah ibunya, karena ia tidak membawa pakaian ganti.
Taxi lebih dulu mengantarkan Daina ke apartemen sederhananya, baru kemudian mengantarkan Maisara ke villa Harlan.
❤️❤️❤️❤️