
Menghibur Diri
“Bu, ayo kita belanja!” kata Maisara sambil berjalan ke meja makan kecil di mana Daina dan dua balita, sedang menikmati camilan mereka. Ruangan itu yang menjadi tempat satu-satunya untuk makan sekaligus menerima tamu.
“Kau akan menggunakan sisa uang itu untuk modal usahamu, kan?”
“Tidak masalah belanja sedikit ...,” kata Maisara sambil menikmati sarapan pagi di meja itu, sisa dari makanan yang dibuat Daina untuk mereka.
“Baiklah, aku bersiap sebentar, jaga mereka!”
“Besok lagi Ibu tidak usah menjaga mereka, kita akan pindah dari sini!”
“Terserah kamu saja!”
Daina mengganti pakaian dan Maisara menjaga dua anak balita yang diasuh oleh ibunya, karena orang tua mereka bekerja. Dari sanalah wanita itu mendapatkan penghasilan. Walaupun, anak perempuannya sudah melarang tapi ia terlalu kesepian kalau seharian berada di rumah tanpa melakukan apa-apa. Walaupun, mengasuh anak-anak adalah hal yang melelahkan, tapi Daina senang melakukannya.
Seperti ini mungkin kalau aku punya anak, pasti akan melelahkan dan rumah akan selalu berantakan! Tapi mereka lucu sekali ... apa anakku dan Harlan akan selucu mereka nanti?
Daina menelepon kedua orang tua anak asuhnya saat sudah berpakaian rapi, lengkap dengan topi dan kaca mata coklat. Wanita itu tampak sederhana tapi menarik. Ia memberitahu bahwa anak-anak akan diajak belanja.
“Apa tidak merepotkanmu, Bu Daina?” tanya ibu anak-anak itu di ujung telepon.
“Tidak, saya dengan anak gadis saya, Bu! Hatinya sedang sedih, jadi butuh hiburan, anak-anak akan membuatnya sibuk, biar dia tidak sibuk dengan kesedihannya!”
“Oh, baiklah kalau begitu, terima kasih!”
Daina menutup telepon dan Maisara mencubit kecil lengan ibunya.
“Kenapa Ibu bilang begitu? Itu memalukan, Bu!”
“Dia tidak kenal ... jadi jangan dipersoalkan, dan kamu memang sedang sedih!” Daina berkata sambil tertawa kecil.
Ia meletakkan satu anak yang lebih besar dalam kereta bayi dan Maisara yang mendorong kereta itu keluar. Sementara Daina menggendong satu anak lainnya yang lebih kecil dan ia menyusul Maisara, setelah mengunci pintu rumahnya.
Mereka memesan taxi untuk sampai di mal yang paling dekat dengan lokasi tempat tinggal ibunya. Kebetulan pusat perbelanjaan itu termasuk yang terbesar di kota Askanawa. Maisara turun lebih dulu untuk mengeluarkan kereta bayi, setelah sampai dan membayar ongkos taxi.
“Dia menunggumu sampai subuh, tadi malam!” kata Daina saat sudah berada di dalam mall dan mereka berjalan dengan santai untuk melihat-lihat.
“Siapa maksud Ibu?”
“Siapa lagi? Orang yang kamu temui semalam!”
Maisara diam, dalam hati ia berkata, “Harlan? Ahk! Yang benar saja, itu tidak mungkin!”
“Ibu dengar suara gaduh di luar pintu sebelum subuh, dan aku lihat dia digotong dua orang!”
“Apa dia pingsan?”
“Aku tidak tahu! Kau bilang dia lumpuh? Kasihan kalau dia harus duduk lagi di kursi roda, kan?”
“Biarkan saja!” Maisara berkata ketus, tapi dalam hatinya merasa bersalah dan menjadi sedikit rumit.
Dia kurang ajar sekali sudah mengobrak-abrik perasaanku, dan sekarang membuat aku merasa bersalah! Haruskah aku bersimpati padamu, Lane?
“Terima saja keadaanmu yang sekarang, akui dalam hatimu apa yang kamu alami, itu yang harus kau lakukan sebagai permulaan, biasanya, setelah hati bisa menerima, maka kita akan mudah mengatasi perasaan lainnya!” kata Daina sambil menepuk punggung bayi dalam gendongannya yang mulai tertidur.
“Dia menikah lagi, Bu!”
“Siapa? Harlan dengan kekasihnya?”
“Kalau dia menikah dengan kekasihnya sebelum kalian dinikahkan oleh Wendi, itu wajar. Tapi, kenapa Wendi dulu, menikahkannya denganmu?”
“Entahlah!”
Maisara tidak menceritakan semua hal pada sang ibu, karena ia tidak ingin ibunya sedih dengan alasan konyol mengapa Harlan menikah lagi. Sungguh, karena cinta seseorang bisa berbuat begitu tidak masuk akal.
Harlan tidak percaya pada kehamilan Maisara, karena ia menganggap wanita itu mengatakan dirinya hamil agar ia membencinya.
Maisara membeli sedikit pakaian, tapi memborong berbagai macam warna cat air serta kanvas. Semua perlengkapan melukis dari beberapa merek dipilihnya. Sedangkan Dina hanya membeli beberapa produk khas wanita berupa krim perawatan kulit dan pakaian sehari-hari untuk di rumah.
Setelah lelah berbelanja dua wanita itu duduk di salah satu kafetaria, untuk makan dan minum sekaligus beristirahat. Sementara dua anak asuh yang ada dalam kereta, sudah tidur dengan kompak.
Di saat mereka sedang makan, Maisara menerima pesan di ponselnya dari Hara. Wanita itu memberitahukan bahwa, Wendy kembali masuk ke rumah sakit, karena syok begitu kata dokter menginformasikan padanya.
“Mungkin Ibu syok karena pernikahan anaknya dengan Raina!”
“Itu tidak mungkin! Kapan Nyonya tahu soal ini?”
“Aku tahu sejak kemarin! Jadi, sekarang Bibi juga tahu kalau pada akhirnya dua kekasih sudah menikah?” jawab Maisara melalui aplikasi chat dengan Hara.
Pada saat itu, Hara bingung ia harus menjawab apa, ia menganggap wajar kalau Maisara tidak pulang, mungkin karena hal itu.
“Bibi tenang saja, aku akan menengoknya nanti!” balas Maisara lagi, karena lama menunggu tidak ada jawaban apa pun dari Hara.
Setelah mengirim pesan terakhir pada Hari, Maisara heran saat menemukan pesan beruntun dari nomor telepon yang tidak dikenal. Namun, membaca isi pesan dan banyaknya panggilan dari nomor yang sama, membuat Maisara memikirkan kebenaran cerita ibunya jika Harlan menunggu di depan pintu, sampai lewat tengah malam.
Akh yang benar saja! Aku tidak harus menjawab kalau aku baik-baik saja, kan? Dia menyebalkan!
Maisara dan Daina pulang setelah kenyang, dan membawa beberapa makanan untuk makan malam, hingga mereka tidak perlu memasak lagi.
Saat dua orang ibu dan anak itu berada di pelataran mall, untuk menunggu taxi yang akan mengantarkan mereka pulang, ada seorang wanita paruh baya yang mendekati mereka. Maisara berusaha mengingat wanita itu karena ia merasa pernah melihatnya.
Daina memilih berdiri di belakang Maisara bukan karena takut. Namun, ia harus melindungi anak orang lain dalam gendongannya, karena Sari datang dengan tatapan mengancam di wajahnya.
“Kamu Maisara, kan?” tanya wanita itu, ia ibunya Raina.
“Apa kita saling kenal?” tanya Maisara acuh tak acuh.
“Kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku tahu kau adalah perempuan yang tidak dicintai Harlan! Jadi, menjauhlah darinya! Anakku Raina, adalah istri sahnya sekarang!”
“Apa hubungannya dengan Anda? Kenal saja tidak! Dan cinta itu soal hati, mana ada orang yang tahu hati seseorang! Lagi pula aku juga menikah secara sah, apalagi aku dipilih sendiri oleh ibunya, tidak masalah Harlan mencintaiku atau tidak aku akan tetap bertahan di sisinya!” Maisara terdengar menggertak, membuat Sari kesal.
“Hah! Ternyata kau pandai bicara, ya?” kata Sari, ia tersenyum masam, sambil memalingkan pandangan, yang terkesan merendahkan Maisara dan ibunya.
“Pandai bicara dalam hal benar itu lebih baik dari pada pandai bicara dalam penipuan! Apa hak Anda menyuruhku menjauh dari suamiku sendiri?” Maisara berkata sambil berlalu pergi.
Sari tersinggung dengan sikap Maisara yang diluar dugaannya. Ia pikir gadis itu akan mengkeret atau minder dengan ucapan dan penampilannya yang glamor. Namun, bagaimana bisa gadis itu bersikap begitu elegan dan percaya diri.
Tiba-tiba Sari menarik tangan Maisara dengan keras, padahal gadis itu tengah memegang kereta bayi. Tarikan kasar dari Sari membuat langkahnya tidak seimbang, tapi ia berusaha menstabilkan kaki, karena ia memilih untuk melindungi anak dalam kereta dari pada dirinya sendiri. Saat ia hendak berbalik dan berusaha melepaskan cekalan tangan Sari, wanita itu justru mendorongnya ke belakang hingga tubuh Maisara yang belum tegak ke posisi semula, seketika terjerembap ke tanah.
“Aakh!” pekiknya.
“Haya!”
❤️❤️❤️