Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab. 37


Makan Malam 2


Maisara mengangguk, ia sadar betul keberadaan dirinya hanya karena Wendi. Siapa yang tahu sampai kapan wanita itu bisa bertahan hidup, dan saat waktunya habis nanti, maka dirinya pun habis juga. Meskipun begitu, ia sudah siap membesarkan anaknya seorang diri. Dokter itu berhasil membujuknya untuk mempertahankan janinnya, dan menjadi seorang ibu yang baik bagi putranya kelak.


“Ya. Aku tahu, kalau bukan karena ibu, kamu pasti gak akan pernah nyariin aku!” Maisara berkata sambil memainkan kancing jas Harlan yang ada di kerahnya, sedangkan Harlan hanya memperhatikan gerakan tangan wanita itu tanpa melarangnya.


Secara tidak di sadari sikap kedua orang itu seperti sepasang kekasih yang sama-sama tengah merajuk, mereka marahan, lalu, berbaikan kembali.


Asisten mengendarai mobil langsung ke mansion keluarga Mahespati, dan setelah tiba di sana, Harlan membawa Maisara ke kamar yang biasa ia tempati.


Di kamar itu, pelayan membantu Maisara membersihkan diri, memilihkan gaun malam dan berdandan dengan baik.


Maisara pernah melihat kamar itu sebelum menikahi Harlan dulu, terletak di sisi paling ujung dari koridor yang mengarah ke ruang tengah dari ruang tamu. Kamar yang selalu tertutup pintunya karena memang tidak ditempati siapa pun. Ternyata, jendela kamar itu memiliki pemandangan paling indah. Yaitu tepat mengarah ke bukit Painance, bukit yang misterius dan memiliki kabut setiap pagi.


Kabarnya di lereng bukit itu dibangun villa-villa megah milik beberapa konglomerat kota. Bahkan, kebanyakan memelihara binatang langka dan mahal sebagai hewan peliharaan mereka. Mereka sangat kaya, terkadang untuk cepat sampai di bukit, mereka memakai helikopter sebagai kendaraan pribadi.


Harlan menggandeng tangan Maisara saat sudah keluar kamar menuju lorong, mereka terlihat mesra. Gadis itu menyambut genggaman kuat tangan kekar sang suami demi dirinya sendiri. Tidak menutup kemungkinan Roni dan Nella pun ada. Ia harus bersiap-siap karenanya.


“Apa kamu benar-benar sudah pulih sekarang?” Maisara melihat Harlan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Harlan mengangguk.


Lalu, pria itu menyahut, “Tidak boleh lebih dari seratus meter’!”


Oh! Ternyata begitu, dia tidak bisa berjalan lebih jauh dari jarak dapur sampai ke ruang tamu rumahnya sendiri.


Maisara menahan tawa.


“Apa kau menertawakanku?” tanya Harlan sambil menurunkan pandangannya pada Maisara yang memalingkan muka.


“Jadi, jangan berlagak punya dua istri, jalan saja tidak bisa!”


Saat berjalan, Harlan mengepalkan kedua tangannya.


Benar saja, saat Harlan dan Maisara tiba di meja makan, sudah ada Roni dan Nella di sana, mereka memakai baju dengan warna senada. Maisara tersenyum miris, ia tidak tahu apakah harus lebih bangga atau terlihat menyedihkan.


Wendi terlihat sehat, semua asisten rumah tangga dan perawat sudah memperlakukannya dengan baik. Ia tinggal hanya dengan Wina, bungsunya ialah ibu Roni, beserta anggota keluarganya. Sementara anggota keluarga, adik Wendi yang lain, tinggal di rumah masing-masing karena merasa lebih nyaman tinggal terpisah dari keluarga besarnya.


Mereka semua yang ada di meja mereka menyambut Maisara dan Harlan dengan ramah. Awalnya tidak ada percakapan yang menyinggung Maisara atau hubungan masa lalunya dengan Roni, semua obrolan hanya berkisar antara kesibukan mereka sehari-hari, tapi ketika makan malam itu hampir berakhir ada seseorang yang memanggil Maisara.


“Bagaimana denganmu, Mau? Bukankah kau senang, sekarang Harlan sudah bisa berjalan?” yang bertanya adalah Wina, ibu Roni.


Maisara tersenyum manis, menepuk tangan Harlan lembut dan menyahut, “Tentu saja, itulah yang aku inginkan sejak menikahinya!”


“Aku seperti mencium aroma kebohongan atau aroma kambing guling yang kuat ini, Bibi koki?” kata seorang remaja putri, salah satu dari anak saudara Wendi tentunya.


Maisara cuek dan acuh tak acuh, sebab di jujur dan memang ingin Harlan sadar, pulih kembali. Hanya isu berbeda sedang berembus di antara anggota keluarga bahwa, Maisara menginginkan Harlan segera tiada dan ia mendapatkan warisannya.


“Aku dengar perusahaan ayahmu dikorupsi! Apa itu benar?” tanya Abud, ayah Roni.


Seketika Maisara melotot pada Nella yang dianggapnya sebagai biang kerusakan perusahaan ayahnya. Kalau bukan karena Sahida yang masih memiliki hubungan darah dengannya, maka perusahaan ayahnya akan baik-baik saja, atau mungkin ayahnya masih hidup.


“Ya, begitulah!” Maisara menjawab singkat, lalu ia meneguk jus dari gelasnya.


“Lalu, bagaimana ... kau bisa mengatasinya?” tanya Abid lagi.


“Mungkin, aku masih menunggu seorang teman untuk bekerja sama, sekarang dia sedang berada di luar negeri.” Maisara menjawab dengan Qtenang, menatap lurus pada orang yang bertanya.


Sementara Harlan secara samar meremas sendok di tangannya, ia geram karena Maisara mengabaikannya.


Perasaan Harlan pun dirasakan oleh Wendi, sebeb Maisara hanya perlu berada di sisi Harlan saja sudah cukup, dan tidak perlu mengandalkan orang lain lagi.


Selain Harlan dan Wendi, semua orang merasa lega, karena Maisara tidak akan menguras kekayaan keluarga Mahespati demi mengatasi masalah perusahaan ayahnya. Walaupun, mereka tidak percaya, tapi jawaban Maisara dan ekspresi wajahnya menunjukkan kesungguhan yang luar biasa.


Untuk apa mengandalkan harta suami yang ingin menceraikan istrinya? Maisara tidak ingin berhutang pada Harlan seperak pun. Bahkan, laki-laki itu tidak menyukai anak-anak, padahal dirinya sedang hamil.


❤️❤️❤️❤️