Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 42


Urusan Pribadi


“Siapa bilang aku jatuh cinta?” Harlan berkata setelah meletakkan sendoknya, ia sudah selesai makan.


“Aku! Kenapa kau tidak bilang langsung pada istrimu kalau kau ingin menanamkan modal di perusahaannya? Kau justru mengeluarkan uang lebih banyak dengan membelinya!”


“Dia tidak mau menerima bantuan apa pun dariku!” kata Harlan, sambil memalingkan muka.


Suni kembali tertawa, ia tahu betapa harga diri Harlan seolah ternoda, saat ada seorang wanita yang menolak uangnya. Harlan begitu memaksa, sampai-sampai menyuruh orang lain melakukan keinginannya.


“Apa dia membencimu?” tanya Suni sambil menatap Harlan dengan tatapan menyelidik.


“Entah!” kata Harlan ketus.


“Aku akan mencari tahu!”


“Jangan campuri urusan pribadinya, urus saja soal jual beli gedungnya!”


“Berapa harga yang ingin kau tawarkan padanya?”


“20 milyar!”


“Apa kau gila? Itu harga yang fantastis hanya untuk empat buah ruko dua tingkat! Itu bangunan lama, Harlan!”


Suni hampir tidak bisa menahan diri, itu artinya Harlan akan membuang uangnya dengan menghargai satu buah ruko milik Maisara dengan harga lima milyar. Mungkin dia sudah gila.


“Kalau begitu, aku naikkan saja 50 milyar, gimana?”


Suni mencibir sambil memasukkan sepotong besar daging ke dalam mulutnya.


Ahh! Terserah! Dia benar-benar jatuh cinta, tapi masih tidak mau mengakuinya.


“Kalau kau mengatakan padanya terus terang soal perasaanmu, aku yakin dia mau menerima bantuanmu atas dasar cinta!” kata Suni setelah meneguk air mineral dari gelasnya.


“Aku tidak perlu mengatakan kata-kata bodoh seperti itu!”


“Tidak semua wanita peka kalau dirinya dicintai oleh seorang laki-laki ... dan kebanyakan wanita butuh pengakuan kalau kaum lelaki mencintai mereka!”


“Ck! Kau dapatkan rumus memalukan itu dari mana!”


Suni tidak menjawab, bicara cinta dengan orang yang tidak mengerti cinta memang percuma.


Mereka berpisah setelah makan malam selesai, dengan kesepakatan yang tidak berubah.


Saat Harlan memasuki mobil dan pengawal sudah menjalankannya, telepon pria itu berbunyi.


“Halo!” katanya saat benda pipih yang canggih itu menempel di telinga.


“Aku melihatmu dengan Suni, sejak kapan dia datang? Apa kalian merahasiakan sesuatu?”


Itu Fhedi yang menelepon, ia secara tidak mengaja melihat Harlan yang baru keluar dari restoran bersama Suni, saat itu ia tengah melintas sepulangnya dari bekerja. Bos begitu banyak memberinya pekerjaan karena masih sibuk mengurus hal-hal yang bersifat pribadi. Sejak Harlan sadar dari koma, pria itu lebih banyak membebankan pekerjaan lain padanya.


“Ya! Aku tidak bisa meminta pertolonganmu untuk masalah ini, karena dia pasti curiga!”


“Dia? Dia siapa?”


“Nantilah, aku akan cerita!”


Harlan menutup telepon secara sepihak saat selesai bicara, lalu, memejamkan mata sampai tiba di vilanya. Hari sudah larut malam.


Hara menyambut kedatangannya seperti biasa di depan pintu.


“Selamat malam, Tuan!”


“Apa dia sudah tidur?”


“Nyonya? Sepertinya sudah ...!”


Harlan pergi ke kamar Maisara dan melihat di gadis itu sudah tertidur dengan nyenyak. Ia menyelipkan rambutnya secara perlahan, sejenak kemudian gerakan tangannya terhenti, ia mencebik.


Untuk apa aku di sini, tidak berguna!


Kemudian ia dan berjalan keluar dan menutup pintunya rapat-rapat. Lalu, ia pergi ke kamarnya sendiri.


$$$$$$$$


Sepekan kemudian, Harlan menerima sebuah amplop besar berwarna coklat, saat masih berada di kantor. Ia duduk di sofa dengan Fhedi dan membicarakan tentang penjualan gedung Hansan Foundation yang dilakukan oleh Suni sebagai wakilnya.


“Apa kau punya perjanjian dengan alien, kenapa memberimu amplop seperti itu?” tanya Fhedi saat seorang sekretaris membawakan amplop itu ke mejanya. Ia berkelakar karena, karena melihat wajah Harlan yang tiba-tiba menjadi keruh.


Harlan membuka isi amplop begitu sekretarisnya keluar ruangan.


“Sial!” serunya dengan keras. Ia baru membaca paragraf awal, dan belum sampai selesai, tapi lembaran surat itu sudah diremas dan dibuang ke tempat sampah.


“Kenapa?” tanya Fhedi heran.


Harlan tidak menjawab, ia berdiri dan mengambil jasnya, lalu keluar begitu saja tanpa memedulikan Fhedi yang masih terpana dengan kelakuannya.


Fhedi mengambil surat itu dari tempat sampah dan membacanya, seketika ia tercengang.


“Ini tidak mungkin! Berani-beraninya Nyonya Haya meminta cerai? Ahk, Tuan Harlan memang sudah menemukan wanita yang sepadan!”


Sementara itu di vila Harlan, Maisara mengucapkan terima kasih pada pengacaranya. Melalui telepon setelah sang pengacara memberitahu kalau surat cerai sudah ia antarkan langsung ke kantor Harlan di Mahespati Industries.


Sebelumnya, Maisara sudah bertemu dengan pengacara itu di kafe, untuk melihat isi surat gugatan itu. Ia sudah menyepakati alasannya bercerai, yaitu karena Harlan mau menikah lagi! Maisara menandatanganinya dengan senang hati.


Setelah itu, ia menghubungi ibunya dan mengabarkan tentang gugatan yang sudah ia ajukan ke pengadilan sipil tentang keinginannya berpisah dengan Harlan.


Daina tidak bisa melarang keinginan hatinya, meski dalam hati ia mengira kalau Harlan tidak seburuk penilaian anaknya.


“Dia mau menikahi kekasihnya, Bu!”


“Ya sudah, kalau memang itu alasanmu, Ibu bisa apa?”


“Bu, mungkin aku akan kembali padamu!”


Baru saja Maisara selesai bicara, ia terkejut saat terdengar suara pintu kamar yang di banting dengan keras.


Brakk!


Pintu kamar yang semula terbuka lebar itu, kini sudah tertutup rapat. Kalau saja pintu itu terbuat dari kayu biasa, mungkin terbelah menjadi dua. Harlan berdiri di depan pintu yang kini tertutup dengan penampilan yang begitu tidak biasa, kemarahan memenuhi wajahnya.


Beberapa hari belakangan ini, Maisara dan Harlan jarang bertemu, kalau bertemu pun seperti anjing dan kucing yang bertengkar. Maisara tidak akan muncul bila melihat Harlan dari celah pintu kamarnya di lantai dua.


Kapan dia ada di sini, sih? Ah! Aku pikir dia di kantor!


Harlan mendekat, sedangkan Maisara masih dalam keadaan terperangah. Lalu, pria itu mengambil ponsel dari tangan istrinya dan membanting benda itu ke tempat tidur.


“Apa begitu inginnya kamu bercerai? Hah!” Harlan berkata sambil memegang dagu Maisara dengan jari-jemarinya yang panjang dan ramping, tapi kuat.


Maisara berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya dengan gugup, jantungnya hampir kehilangan satu detakan. Ia melihat kemarahan Harlan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kilatan bara api di mata laki-laki itu membuat siapa pun bergidik.


“Bukan aku!” kata Maisara ketus, “kamu yang minta duluan!”


“Kapan?”


“Uh ... waktu tahu Ibu menikahkan kamu denganku! Apa kamu lupa?”


“Kamu sedang dihukum! Jadi tidak pantas bicara!”


“Tapi kan, kamu bertanya!”


“Diam!”


“Lepaskan tanganmu, baru aku bisa diam! Jangan sembarangan menghukum orang, memangnya aku salah apa?”


“Karna kamu minta cerai!” bentak Harlan.


“Kamu tidak mau menceraikan aku? Kamu tidak cinta! Jadi, buat apa?”


Harlan diam, ia melepaskan cengkeraman dari dagu istrinya, karena tiba-tiba saja ia sulit mengendalikan diri. Matanya tidak melepaskan pandangan pada Maisara.


Aku ingin menciumnya!


“Bagaimana kalau aku hamil anakmu?” tanya Maisara lagi.


Harlan tetap diam, pikirannya kembali pada Raina yang mencoba bunuh diri demi belas kasihnya.


“Bagaimana kalau aku bunuh diri kalau kamu tidak mencintaiku, apa kamu mau mencintaiku?” kata Maisara dan sukses memancing suasana lebih keruh.


Jangan-jangan dia tahu masalah Raina?


“Apa maksud kamu?” tanya Harlan, nada bicaranya penuh dengan tekanan.


“Maksudku jelas, aku hamil anak kamu dan kamu mau menikahi wanita lain, dan satu lagi ... kamu bilang tidak suka anak-anak!” Maisara berkata dengan tegas.


Benarkah dia hamil anakku? Pandangan Harlan semakin menajam pada Maisara dalam diam dan tautan kedua alisnya semakin rapat.


“Harlane! Ayo kita bercerai! Kita tidak bisa terus bersama ....!”


Harlan memejamkan mata saat Maisara bicara, lalu ia melangkah ke sisi ranjang dan memukulkan tinjunya di kasur secara bertubi-tubi.


Maisara kesal melihat Harlan yang seperti pria mabuk hingga ia ingin pergi. Namun, baru saja selangkah berjalan, tangannya sudah dicekal, lalu di tarik hingga terjerembap ke atas pembaringan.


“Benarkah kamu hamil anakku?” tanya Harlan saat ia sudah berhasil mengungkung istrinya.


“Apa kamu percaya sama aku?” Maisara balik bertanya seraya menghunjamkan tatapan penuh makna.


“Apa yang membuat aku harus percaya sama kamu?”


“Suami istri harus saling mempercayai, aku memang hamil anakmu, tapi bukan dengan cara yang biasa ....,” kata Maisara penuh kelembutan tapi tegas.


“Cara seperti apa maksud kamu? Jangan macam-macam sama aku!”


“Kamu bisa tanya sama Ibu kalau mau tahu caranya!”


Harlan semakin kesal karena Maisara terkesan bertele-tele padanya.


“Baiklah! Aku akan percaya sama kamu!”


“Sanganya, aku tidak bisa percaya sama kamu karena kamu!”


“Kenapa?”


“Karena kamu mau menikah sama Raina ... Harlane ... Aku tahu semuanya, aku tidak mau punya suami yang beristri dua! Jadi, ceraikan aku sekarang juga!”


❤️❤️❤️❤️