Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 55


 Otakmu Hilang


 


Saat ia hendak berbalik dan berusaha melepaskan cekalan tangan Sari, wanita itu justru mendorong Maisara ke belakang hingga tubuhnya yang belum tegak ke posisi semula, terjerembap ke tanah.


“Aakh!” pekik Maisarah gusar, ia berusaha melindungi perutnya.


“Haya!” Seru Daina, ia segera berjongkok dan memegang bahu anaknya yang terlihat meringis.


Maisara berhasil menahan berat badannya dengan kedua tangan yang ia gerakkan dengan cepat ke belakang, untuk menopang di atas tanah. Walaupun ia terjerembap juga, tapi benturan di bagian perut tidak terlalu keras.


Daina segera membantu Maisara berdiri dan melotot pada Sari, ia ingin sekali marah tapi itu tempat umum dan ia adalah tipe wanita yang menyukai kedamaian. Ia tidak ingin menambah masalah hingga ia mengabaikan Sari yang masih berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Wanita itu tidak berniat membantu dan merasa tidak bersalah sedikit pun. Namun, bagi Daina, yang penting, Maisara tidak mengalami cidera.


“Kenapa kau melotot padaku? Apa kau ibunya? Ternyata kalian sama saja!” kata Sari sambil mendengus kesal. Ia ingin Maisara celaka atau kehilangan bayinya. kalau benar Maisara hamil anak Harlan, maka pria itu mungkin akan lebih menyayanginya. Namun, ia harus kecewa karena Maisara tidak selemah yang ia kira.


Maisara sudah berhasil berdiri, ia pun berkata, “Apa kau ingin membuatku celaka? Hah! Kau sudah merendahkan kami, apa kau orang yang cukup tinggi?”


“Jangan menuduh sembarangan, enak saja kamu Maisara, dasar lemah!” Sari berkata sambil melangkah, hendak kembali melakukan sesuatu dengan mengayunkan tas kecilnya.


Tiba-tiba ada seorang pria berpakaian serba hitam dan rapi, mendekati Sari, dan menghalangi tingkahnya.


“Nyonya, apa Anda punya masalah atau ingin membuat keributan dengan orang lain? Jangan di tempat umum seperti ini!” katanya tegas, sambil menurunkan tangan Sari yang memegang tas. “Apa Anda tidak tahu di sini ada cctv? Kalau terjadi apa-apa, maka kami yang harus bertanggung jawab kami dan pihak keamanan di sini tidak ingin ada masalah dengan siapa pun, termasuk Anda!”


Seketika Sari tertegun, ia tidak memikirkan hal seperti itu, dan terlalu gegabah. Seharusnya ia tidak melakukannya di tempat itu.


Awas kau Maisara, aku tidak ingin kehadiranmu mengganggu hubungan anakku dengan Harlan!


Akhirnya Sari pergi, membawa kekecewaan pada dirinya sendiri.


“Apa kau tidak apa-apa, Haya?” tanya Daina.


“Tidak, Bu. Ayo! Kita pulang ...,” kata Maisara sambil kembali mendorong kereta bayi. Tangannya sedikit sakit, tapi ia tidak akan mengeluhkannya pada Daina.


Mereka pergi meninggalkan halaman mal, ketika taksi yang dipesan oleh Maisara sudah datang.


“Siapa wanita itu apa kau mengenalnya?” tanya Daina, ketika sudah berada di dalam taksi yang mengantarkan mereka pulang.


“Entahlah, kalau saja benar, dia itu adalah, ibunya Raina, wanita yang dinikahi Harlan!”


“Rasanya aneh, wanita kalangan atas seperti dia, berbuat kasar di tempat umum, ia tidak pantas bersikap seperti itu, bukan?”


Sebenarnya Daina juga termasuk dari wanita kalangan atas di masa lalu, ketika suaminya masih berjaya, hanya saja dia tidak begitu mengenal Sari dan juga kelompok mereka, karena berada dalam lingkaran pergaulan yang berbeda.


Maisara menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih Bu, karena tidak menanggapinya ... kalau saja kau memilih untuk berdebat tadi ... mungkin kita akan sangat kacau!”


“Harusnya memang begitu, tidak ada gunanya membuat kekacauan kurasa dia memang sengaja mencari gara-gara.”


“Ya, Ibu benar!”


Sesampainya mengantarkan Daina di rumah, Maisara segera ke rumah sakit, ia pergi ke sana dengan menggunakan taksi yang sama. Sebenarnya, ia tidak harus merasa berhutang budi pada Wendy, tetapi kedatangan dan keramahannya pada wanita itu, karena sebuah ketulusan. Apalagi, Wendi juga baik, ia sudah memberikan banyak hadiah perkawinan kepada keluarganya, yang kemudian dinikmati oleh Syahida dan Nella.


Wendy terbaring di ruang ICU, dan orang-orang yang datang hanya bisa melihatnya dari jendela kaca saja. Mereka yang menengok boleh masuk sesuai jadwal dan itu tidak boleh lebih dari dua orang. Saat masuk ke ruangan pun mereka harus memakai baju khusus.


Maisara bertemu Hara di sana, dan mereka berpelukan, bagai dua saudara yang sudah lama tidak bertemu.


“Aku merindukanmu Nyonya Haya, apa kau tidak merindukan aku?” kata Hara setelah melepaskan pelukannya.


“Tentu,” sahut Maisara singkat. Ia bersandar pada dinding ruang ICU, ia bisa melihat Wendi dengan bangan tabung dan selang di sekitarnya.


“Kapan Nyonya akan pulang?”


“Aku sebenarnya ingin, tapi aku tidak punya waktu, aku sibuk ... kau tahu? Kan sekarang Harlan punya istri dua, jadi, buat apa aku ke Vila?”


“Ya. Tapi, kan, kita bisa menghabiskan waktu bersama, kenapa tidak?” Hara berkata, sambil menahan perasaan bahagianya, ia tahu kalau Maisara hamil, tapi menyembunyikannya dari Harlan. Hanya Wendi dan dirinya yang tahu, tapi ia bertekad akan menjaga anak itu jika lahir kelak, dan membela Maisara jika Harlan menolaknya.


“Aku pasti pulang kalau Harlan tidak membawa wanita lain ke rumah!”


“Nonya, Tuan tidak—“


“Siapa yang bawa wanita ke rumah?” Suara seseorang memutuskan ucapan Hara.


Maisara menoleh dengan cepat, begitu juga dengan Hara, kedua wanita itu melihat ke arah seseorang yang baru datang dan membuat sabotase pada obrolan mereka.


Jantung Maisara tiba-tiba berdetak kencang, ia masih ingat cerita ibunya tentang Harlan yang jatuh pingsan, menunggunya di depan pintu rumah tadi malam.


Tiba-tiba Maisara tersadar kalau Harlan memakai pakaian para pasien pada umumnya.


Apa dia baik-baik saja?


Harlan mendekati Maisara dengan langkah cepat dan menariknya ke batas dinding, sedangkan Hara dan pengawal sangat pengertian pada sang majikan, hingga mereka menjauh.


Harlan mendengar apa yang dikatakan Maisara jika ia tidak mau pulang kalau ada wanita lain. Ia tahu siapa yang dimaksud Maisara dengan sebutan wanita itu. Ia memang tidak akan membawa Raina ke rumah sampai kapan pun juga. Pria itu tidak menyadari perasaannya sendiri jika justru sejak kepergian Maisara, benaknya selalu dipenuhi oleh wajah istrinya dan bagaimana rasa dari ciuman mereka.


Sementara Maisara menganggap Harlan harus bertanggung jawab atas sakitnya Wendi, ialah penyebabnya, karena sudah melakukan hal yang menyakiti hati ibunya.. Sebagai anak, laki-laki ia tidak mengerti keadaan Wendi yang memang sering sakit-sakitan.


Keputusannya menikah dengan Raina, tidak rasional, hingga menekan pikiran sang ibu. Padahal, kalau dilihat dari penampilan dan kedudukannya, seharusnya Harlan menjadi orang yang sangat rasional.


Mana ada seorang ibu yang rela anaknya menyakiti wanita lain, itu memalukan, bukankah mereka sama-sama wanita? Pantas saja Wendy pingsan. Pernikahannya yang tidak masuk akal.


Menurut empat teman yang mengomentari pernikahan Harlan, harusnya ia tidak menikahi Raina, karena ia termasuk wanita yang sulit untuk ditaklukkan.


Harlan berkata di dekat telingan Maisara, “Jadi ... kau mau pulang, kalau aku tidak membawa siapa pun ke villa?”


“Apa maksudmu? Aku tidak mau pulang, walaupun cuma ada kamu!”


Maisara merinding dan kepalanya menggeleng kuat, saat napas Harlan terasa di lehernya. Ia ingin suaminya menjauh. Namun, ia tidak bisa ke mana pun karena kedua tangan pria itu menguncinya di dinding.


Sementara itu kedua tangan Maisara menekan dada Harlan dengan kuat, untuk menahan agar tubuh mereka tidak saling menempel.


Hai! Ini tempat umum tahu!


“Tidak ada orang lain di rumah ... kalau mau pulang, ya pulang saja ....” kata Harlan masih dengan gaya mengintimidasi dan ia menempelkan keningnya pada kening Maisara.


“Aku tidak mau!”


“Dengar, hanya aku yang bisa mengambil keputusan ...! Kamu mau pulang atau tidak itu terserah aku! Jadi, pulang sekarang atau—“


“Atau apa?”


“Atau aku akan melakukan itu padamu sekarang juga, dan melucutimu di depan orang-orang!”


“Apa kau sudah gila? Di mana otakmu, kenapa mau berbuat seperti itu di sini?”


“Kau yang membuatku gila, kau juga yang membuatku kehilangan otak!”


Maisara tidak percaya jika laki-laki di hadapannya yang keras kepala itu mengatakan bahwa dirinya bisa gila dan otaknya pun bisa hilang entah ke mana, disebabkan olehnya.


Maisara tertawa cukup keras, dan Harlan senang melihat tawanya.


Ahk! Seandainya benar-benar bisa membuat dia gila dan kehilangan otak! Kira-kira apa yang akan terjadi dengan perusahaannya?


“Kenapa kau menertawakan aku?” tanya Harlan, menghentikan tawa Maisara. Gadis itu melirik tajam.padanya.


“Kamu pantas ditertawakan! Sudah pergi sana, lihat ibumu! Siapa tahu mendengar ucapanmu dia bisa sembuh ....”


“Siapa yang bisa menjamin itu?”


“Jadi, apa harapanmu sekarang? Berdoalah kebaikan untuk Ibu. Aku tidak bisa menjamin apa pun, aku cuman bilang, siapa tahu dengan kedatanganmu, dia bisa sembuh ... kamu kan anaknya!”


Harlan melepaskan kuncian tangannya pada Maisara dan ia pergi ke ruangan dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan ibunya.


Setelah mengetahui perkembangan kesehatan Wendy dari para dokter, Harlan pun pergi dan Maisara menunggunya. Ia sebenarnya ingin pergi sejak laki-laki itu berada di ruangan dokter, tetapi para pengawal menahannya.


Gadis itu heran bagaimana para pengawal itu bisa tahu tentang keinginan Harlan, yang menginginkan istrinya tetap bertahan di sana, dan menunggunya sampai selesai.


“Kalian ini memang benar-benar, ya!” gerutu Maisara.


Harlan tiba-tiba saja keluar dari ruangan dokter.


“Ayo! Ikut aku!” katanya ketus sambil menggandeng tangan Maisara.


“Ke mana?” Maisara berkata, sambil mengikuti suaminya dengan terseok-seok, karena langkah kaki Harlan lebih panjang.


“Ahk! Lepaskan aku! Ini sakit!”


 


 


 ❤️❤️❤️❤️