
Baju Yang Terkoyak
Maisara melangkah dengan terpaksa menuruti perintah, karena pengawal memelototinya.
Harlan menarik tangan Maisara, begitu sampai di samping kursi rodanya. Gadis itu terjerembap di pangkuan suaminya, seraya berteriak karena terkejut. Ia khawatir kursi roda tidak bisa menopang dua orang sekaligus.
Oleh karena itu Maisara meronta, “Lepaskan! Aku takut jatuh!” katanya.
“Takut jatuh, tapi kamu tidak takut di nodai laki-laki lain?” sahut Harlan ketus.
Pria itu melihat istrinya dengan tatapan membara, ia tidak suka melihat Maisara mengenakan pakaian minim dan terbuka untuk menemui laki-laki lain, yang bermaksud buruk dengan alasan memberi bantuan dana. Ia sudah mendapatkan informasi bahwa, pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan apa-apa. Meskipun begitu ia tetap kesal karenanya.
“Apa maksud kamu?” tanya Maisara.
“Jangan pura-pura, lalu kenapa kamu pakai baju seperti ini? Apa kamu sengaja menggoda laki-laki?”
Mereka berada pada posisi yang sangat dekat satu sama lain, embusan napas dari hidung pun bisa mereka rasakan secara bersamaan. Bahkan dada mereka saling menempel.
Maisara dengan jelas melihat kemarahan pada wajah Harlan, dan ia menebak kalau suaminya mungkin mengetahui pertemuannya dengan Banusi yang berakhir buruk. Bisa-bisanya ia tertipu pria hidung belang itu dengan alasan investasi. Pengalamannya soal bisnis memang minim, ia mengakui kekurangannya, tapi sampai kapan pun ia tak akan meminta bantuan Harlan.
Semua urusan perusahaan tidak ada hubungannya dengan dia? Tidak ada! Jangan sok jadi suami yang sebenarnya, dasar plin-plan!
“Apa kamu cemburu?” tanya Maisara tak kalah ketusnya.
“Aku hanya tidak suka kau memakai ini!” Harlan berkata sambil merobek bagian belakang pakaian itu hingga punggung Maisara terlihat sampai batas pinggulnya.
Ahk! Justru dia terlihat semakin seksi!
“Tutup mata kalian!” perintah Harlan pada asisten dan pengawal yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Dua laki-laki itu pun menutup matanya.
Maisara begitu manis dan menarik dengan pakaian itu. Ia tampak bagai sungai berair bah, yang bisa menghanyutkan pandangan semua pria. Bagian atas dress ity terbuka memperlihatkan pundaknya yang putih dan leher jenjang. Apalagi rambutnya diikat ke belakang dengan syal berwarna merah muda sebagai hiasan.
Harlan yakin, Banusi pasti begitu terpesona dan ia tidak rela, karena Maisara masih berstatus sebagai istrinya.
“Lane! Apa kamu sudah gila, aku menyewa pakaian itu dan kamu merobeknya?” Maisara berkata keras di dekat telinga Harlan, sebagai bentuk protes. Lalu, ia berdiri sambil memegangi bajunya yang terkoyak agar tidak melorot dari tubuhnya.
Harlan membiarkan Maisara merapikan pakaian itu, sedangkan ia melepaskan jas, dan memakaikannya pada Maisara untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka.
Walaupun bagian tubuh itu masih tertutup karena Maisara memakai pakaian dalam, tapi justru tampak lebih seksi. Ia melihat perubahan pada wajah suaminya dan berniat membuatnya semakin marah.
“Aku tidak perlu pakai jas kamu!” kata Maisara sambil melemparkan jas Harlan ke atas pangkuannya. Lalu, tanpa segan berjalan ke kamarnya dengan tetap memakai baju yang terkoyak.
“Tunggu! Aku belum selesai bicara!”
“Tapi aku sudah!”
Sesampainya di kamar, Maisara melempar baju sobek itu ke keranjang pakaian kotor. Lalu, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia menggosok pipinya yang sudah disentuh Banusi dengan kuat. Rasanya ia putus asa apakah harus membuat proposal lagi atau tidak. Gadis itu tidak tahu mana laki-laki yang tulus atau sungguh-sungguh, dalam membantunya menyelesaikan masalah perusahaan.
Setelah selesai, Maisara keluar dengan memakai handuk saja dan bersenandung. Ia harus berpikir positif walaupun banyak masalah sedang mengimpitnya. Ia tidak mungkin ceroboh dan berbuat hal yang sama seperti tadi, dengan bernyanyi adalah salah satu cara membuatnya tetap terlihat baik-baik saja.
Tiba-tiba ia terkejut karena melihat Harlan sudah duduk di sisi tempat tidurnya tanpa kursi roda. Ia melihat ke sekitar dan mendapati kursi itu berada di dekat pintu yang tertutup.
“Kamu, bisa berjalan sendiri ke sini?” tanya Maisara heran, ia acuh tak acuh pada dirinya.
“Kenapa? Apa kau tidak suka aku bisa berjalan, dan kau berharap aku mati seperti harapan Roni agar kalian bisa bersatu lagi?”
Maisara meludah ke samping, lalu berjalan mendekat Harlan dan membungkuk hingga kepala mereka sejajar. Ia pikir seorang pria yang membenci tidak akan memiliki minat secara pribadi.
“Apa kamu pikir aku pantas berbuat seperti itu setelah kita menikah? Kalau kamu memang senang aku kembali padanya, maka ceraikan aku!”
Hap!
Harlan menangkap dagu Maisara dengan kuat dengan jari-jarinya yang ramping. Semua rasa benci seolah mengalir melalui pegangan tangan itu.
“Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun! Itu hukumanmu karena berani menemui laki-laki lain di belakangku!”
Ya Tuhan! Benarkah dia cemburu?
“Memangnya kenapa, bukannya kamu tidak suka sama aku? Jadi, bukan urusan kamu, aku mau bertemu siapa saja!” saat berkata, Maisara menepiskan tangan Harlan dengan kuat.
Tiba-tiba, bruk!
Harlan limbung dan badannya terjatuh di tempat tidur dengan kaki masih terjuntai ke lantai. Ia bisa kuat duduk tanpa bersandar hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Ia sudah cukup lama menunggu Maisara keluar dari kamar mandi, dalam keadaan duduk di atas tempat tidur tanpa bersandar seperti tadi.
“Ahk!” Maisara berteriak, karena ia tidak sadar dengan gerakan tangannya yang mengakibatkan Harlan terjerembab di kasur.
“Lane! Apa kamu baik-baik saja?” Maisara berkata lagi sambil membungkuk dan menaikkan kaki Harlan hingga seluruh tubuhnya kini berbaring lurus di tempat tidur.
Tiba-tiba Harlan menarik lengan Maisara dengan kuat. Gerakan itu begitu cepat, hingga tubuh mereka berdua sama-sama terbaring di tempat tidur.
Maisara dalam posisi berada di atas tubuh Harlan dan suasana menjadi sedikit canggung.
“Akh! Lane! Apa yang kamu lakuin?” Maisara kembali bicara sembarangan pada pria yang selayaknya lebih tua darinya.
Dia sekuat itu, padahal dia lumpuh! Apa dia sudah sembuh? Ahk! Apa aku harus bersyukur atau harus menangis?
“Kamu sekali lagi mau ketemu sama laki-laki lain, maka kamu tidak akan melihat gedung Hansan Foundation lagi! Kamu harus tahu itu!”
Maisara ingin bangkit, saat ia berkata, “Kamu mengancam? Aku tidak akan bilang sama kamu!”
Maisara tersenyum menyeringai, ia merasa menang karena ia tidak bodoh, kalau mau bertemu pria lain, untuk apa mengatakannya pada Harlan, suami yang jelas-jelas tidak mencintainya.
Namun, Maisara tidak bisa bergerak karena kedua tangan Harlan melingkari tubuhnya dengan kuat. Ia bahkan tidak sadar kalau handuknya sudah terlepas.
CK!
Masa bodoh, dia sudah melihat seluruh tubuhku dari kamera pengawas itu, tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Apalagi dia lumpuh, tidak akan melakukan hal lain lagi padaku, kan?
Maisara memalingkan pandangannya sambil membuang napas kasar.
“Jangan main-main denganku, Maisara ....!” teriak Harlan.
Maisara tercengang saat Harlan menyebut namanya, lalu ia tidak tahu saat tiba-tiba bibir mereka sudah bersatu.
Harlan mencumbu bibirnya dengan kuat, ia membalikkan posisi Maisara berada di bawahnya. Ia mengulum penuh dengan keinginan naluriah laki-laki yang menuntut untuk dipuaskan selama sekian lama bertahan dalam kelumpuhan. Namun, ia belum bisa melakukannya dan malam ini memberinya ciuman cukup dalam, sampai bibirnya berdarah itu sudah cukup.
❤️❤️❤️❤️