
Benci Sama Kamu
“Apa kau pernah menyerahkan dirimu pada laki-laki?” tanya Sanaya, secara tiba-tiba, saat mereka keluar dari toilet.
“Apa maksudmu?” Maisara balik bertanya sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
“Mungkin kau hamil!”
Maisara berjalan lebih dulu meninggalkan Sanaya, tanpa menjawab pertanyaannya agar sahabatnya itu tidak melihat raut wajahnya yang keruh. Ia akan terlihat berbohong kalau sedang sedih, tapi mengatakan bahagia. Sejenak ia diam dan setelah bisa menguasai diri, ia kembali duduk di meja, lalu menenggak habis jus pesanannya.
“Mai, pesanlah makanan kalau kau lapar, isi perutmu habis di toilet tadi!” kata Sanaya, sambil mendekati meja mereka kembali dan melihat tingkah Maisara.
“Apa aku terlihat seperti orang hamil?” tanya Maisara saat Sanaya sudah duduk di hadapannya.
“Tidak juga!” jawab Sanaya singkat, sambil mengedikkan bahu.
“Apa kau percaya dengan berita itu? Apa mungkin orang sekelas Tuan Harlan mau menikah secara diam-diam? Sebenarnya siapa wanita itu, dia mengumumkan pernikahannya seorang diri, dan sepertinya wawancara itu tidak dilakukan oleh media?” Maisara membuka topik pembicaraan lain.
Sanaya tampak berpikir dan melihat ulang tayangan yang tadi ditontonnya, “Hmm ... Sepertinya kau benar, Mai, dia orang terhormat dan terpandang di kota, tidak mungkin melakukan pernikahan diam-diam, itu akan merendahkan rekan bisnisnya, kecuali perempuan itu hamil duluan!”
Maisara tersenyum masam dan mengalihkan pandangannya.
“Kalau memang anak itu anaknya kenapa dia harus malu dan menyembunyikan pernikahannya?”
“Nah, lagi-lagi klagi-lagi kau benar, Mai, sepertinya Tuan Harlan sudah bertindak tidak masuk akal! Aku kecewa padanya!”
“Untuk apa kau kecewa? Dia bukan artis!”
“Tapi dia lebih terkenal dari artis, dan wajahnya juga lebih tampan dari Shinoyu!”
“Siapa Shnoyu?”
“Dia pemeran utama drama perahu cinta impian, apa kau ingat? Kan, kita pernah nontonnya waktu itu!”
“Aku lupa!”
Sanaya tampak cemberut karena kecewa dengan jawaban Maisara.
Maisara pamit untuk pulang, ia mengaku pusing dan ingin tidur. Sanaya mengantar sahabatnya itu setelah membayar tagihan.
Mereka sampai ke apartemen, dengan mobil Sanaya yang dikendarai dalam kecepatan sedang.
“Jadi, di sini kalian tinggal?” tanya Sanaya saat mobil berhenti, ia membuka mobil tuanya dan turun.
“Hm, hm,” gumam Maisara sambil menganggukkan kepalanya, “Ayo mampir!”
“Lain kali saja, aku ada janji dengan Suni nanti sore!” Sanaya menyahut sambil memeluk Maisara, “istirahat saja, aku akan ke sini besok kalau kau belum baikan!”
“Tidak perlu ...! Pergilah! Jaga dirimu baik-baik! Dan terima kasih!”
“Tentu!”
Sanaya pergi dengan mobilnya, dan Maisara masuk rumah itu, setelah melambaikan tangan kepada Sanaya.
Sanaya menemui Suni, sore itu, di sebuah taman kota. Mereka duduk berdampingan sambil memakan es krim. Meski bagu Suni terlihat ke kanak-kanakkan, ia tetap melakukannya.
“Ternyata enaknya makan es krim itu kalau sama kamu, Naya!”
“Gombal, apa kamu belum pernah makan es krim sebelumnya?”
“Jarang!”
“Kau menyukainya? Ingat, ini aku yang traktir, aku punya uang! Kau tahu, kan? Aku kerja paruh waktu, tapi aku masih tinggal sama ibuku, jadi tidak perlu keluar biaya apa-apa!”
Suni mengangguk, “Ya. Aku suka, terima kasih!”
“Anggap saja ini sogokan!”
“Sogokan untuk apa?”
“Tentang ini! Jangan bilang kau tidak tahu, ya?” kata Maisara sambil memasukkan es krim terakhir ke mulutnya.
Setelah itu, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman video, serta foto pernikahan Harlan dengan Raina. Itu hasil foto layar.
Suny seketika terkejut melihatnya, secara refleks ia membuang es krim di tangannya. Ia sama sekali tidak tahu kalau pernikahan mereka akan dilakukan secepat itu. Padahal, semula ia anggap Harlan akan menolak keinginan Sanaya yang konyol.
Apa maksudnya ini, Har? Kau berhutang penjelasan padaku!
“Aku tidak tahu!” kata Suni ketus. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari akun yang menayangkan video dan foto, tapi sudah tidak ada.
Sunni tahu kalau akun itu pasti sudah diblokir oleh Harlan karena menayangkan berita yang tidak relevan, atas diri pribadinya.
“Kenapa? Maisara sudah tahu soal ini! Dan, aku tidak takut nomorku di blokir, karena aku tidak menayangkan ulang!”
“Oh! Jadi begitu, aku hanya khawatir kalau ternyata berita itu tidak benar ... kalau pun benar, pasti sudah ramai di bicarakan di televisi, kan?”
Sanaya curiga karena Sunni terus menerus membela Harlan.
“Kau ini hanya teman Tuan Harlan atau kekasihnya?”
Seketika Sunni melihat Sanaya gemas, dan mencubit kecil dagunya.
“Apa yang ada dalam otakmu itu, Naya? Kalau aku kekasihnya, buat apa aku menyukaimu? Dia cuma teman!”
“Tapi, kenapa kamu membelanya? Aku kecewa! Aku mengidolakan dia karena kemampuannya dalam bisnis, apalagi dia tampan! Seharusnya dia tidak perlu sembunyi-sembunyi menikahi kekasihnya atau dia bisa menggelar pesta rakyat. Jadi, aku bisa memberinya selamat dan mendoakan kebaikan untuknya!”
“Jadi, Cuma seperti itu kekecewaanmu?”
“Ya. Apalagi memangnya? Maisara sampai muntah karena sangat terkejut dan kecewa!”
Sunni tertegun, mungkin ia akan memberitahu kabar ini pada Harlan.
“Di mana dia sekarang?” tanya Sunni tenang.
“Dia sekarang tinggal di rumah ibunya!”
“Oh!”
Sanaya dan Sunni berpisah setelah makan malam.
Suni langsung menghubungi Harlan, sambil mengendarai mobil. Ia sudah menahan beberapa pertanyaan sejak tadi, tapi tidak mungkin menelepon selama Sanaya masih bersamanya.
“Kau ada di mana?” tanya Sunni . begitu Harlan mengangkat teleponnya.
“Di rumah! Kau sendiri di mana? Jangan bilang kau kencan lagi dengan perempuan itu!”
“Itu urusanku! Kau membuat berita besar hari ini?”
“Kau tahu apa soal beritaku? Ayo! Kita bicara di luar, aku bosan!”
Telepon di tutup secara sepihak oleh Harlan. Setelah itu Sunni mengirimkan lokasinya. Kebetulan ia tengah melintas di sebuah cafe kecil, yang bernuansa perkampungan unik namun menawarkan ketenangan. Ia mengajak Harlan ke sana. Sebenarnya ia ingin ke vilanya untuk melihat apakah Raina tinggal bersama setelah menikah.
Namun, Harlan memilih bertemu di tempat lain. Jadi, di sanalah dua orang itu berada, duduk di kursi paling sudut saling berhadapan. Baik Harlan maupun Sunni, hanya memesan segelas late saja, untuk menemani obrolan mereka.
“Bukannya kau punya dua istri sekarang? Bagaimana kau bisa bosan?” tanya Sunni sambil mengaduk-aduk minuman di gelasnya, “Ini sudah malam, seharusnya kau menggilir mereka!”
Sunni tertawa, tanpa mengalihkan tatapannya pada Harlan.
“Maisara tidak pulang sejak transaksi denganmu selesai! Dia bilang kalau mau menginap di rumah ibunya, tapi dia tidak pernah bilang langsung padaku.”
“Dan, kau membiarkannya?”
“Ya! Dia pernah bilang kalau dia hamil, tapi dia bilang begitu karena membenciku ... dia tahu aku tidak suka anak-anak!”
Sunni diam, ia menatap Harlan tanpa ekspresi, karena ia mau mendengar sahabat yang jarang bicara itu mengungkapkan isi hatinya.
“Kalau tahu bagaimana cerita kalian bisa menikah, aku rasa wajar kalau dia membencimu!” kata Sunni, “Apalagi dia sudah tahu, kalau kau menikah lagi hari ini, aku yakin dia semakin membencimu!”
CK! Harlan memalingkan muka.
“Kau mau membela siapa, hah? Ingat, karena aku, kau punya pacar sekarang!” katanya sambil menatap tajam wajah Sunni yang diam saja, ia menanggapi ucapan Harlan sebagai candang semata.
Padahal Sunni mengenal Sanaya, karena Harlan memintanya pulang dan menjadi wakilnya untuk Maisara. Kalau bukan karena wanita itu, Harlan tidak akan meminta Sunni pura-pura menabrak Sanaya agar ia punya alasan bertemu dengan Maisara.
Apanya yang karena dia?
“Jadi, apa yang akan kau lakukan kalau Maisara tahu kau menikahi Raina?” tanya Suni sambil mengambil gelas kopi dan meminumnya.
“Tidak akan ada yang tahu, aku sudah berpesan pada Raina tidak macam-macam, aku mau menikahinya hanya karena surat nikah, dan dia bisa mendapatkan akta kelahiran anaknya secara sah!”
“Jadi, cuman seperti itu perjanjian kalian?”
“Ya!”
“Kakau begitu, biarkan Nona Haya di rumah ibunya! Kalau bertemu denganmu sekarang, dia akan lebih membencimu!”
“Kenapa?”
“Dia sudah tahu berita pernikahanmu!”
❤️❤️❤️❤️