Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 34


Daina Sakit


Setelah selesai memuntahkan semua isi perutnya, Maisara berpikir untuk pergi dari villa Harlan. Apalagi, lama-kelamaan perutnya akan terlihat membesar, iya tidak mungkin terus-menerus menyembunyikannya. Dalam pikirkan polosnya, kemungkinan dia hanya memiliki waktu selama tiga bulan lagi, sampai kehamilannya menginjak masa lima bulan, hingga perutnya benar-benar tidak bisa disembunyikan.


Pada saat yang bersamaan Maisara mendapat telepon dari Daina dan mengatakan jika ibunya itu sedang tidak enak badan. Ia ingin bertemu dan membelikannya obat.


Ini sebuah kebetulan bukan?


Maisara segera berlari ke bawah, setelah berpakaian rapi, ia mencari Hara guna meminta izin dan memohon pada asisten itu agar bisa ke luar rumah. Ia ingin menengok ibunya yang sakit keras.


“Ayolah Bibi ... aku mohon izinkan aku pergi, hanya sebentar saja!”


“Maafkan saya, Nyonya!”


“Aku tidak akan membawa apa-apa, aku hanya sebentar dan nanti malam aku pasti pulang .... kalau bukan karena mau menengok ibuku sakit, aku tidak akan keluar!”


Hara diam dan menimang-nimang ponsel di tangannya.


“Izinkan aku pada Harlan kalau aku sudah pergi, ya?”


Hara tetap dia.


“Bibi, apa kau tega kalau anakmu atau ibumu juga sakit dan kau akan membiarkannya?”


Maisara menggunakan sisi kemanusiaan Hara untuk memberinya izin keluar dan akhirnya wanita setengah baya itu pun mengizinkannya, karena pertimbangan jika Ibu atau anaknya sakit, maka ia tidak akan membiarkan mereka hingga kehilangan nyawa.


“Apa ibu Anda ada di sini Nyonya?”


“Tentu saja tidak ... dia ada di Desadee, tapi aku tidak akan menginap!”


“Kenapa Nyonya tidak bisa melakukan panggilan video saja?”


“Aku ingin memeluknya, membeli bubur yang terbaik dari kota dan juga obat!”


Maisarah tersenyum puas ketika ia berhasil mengelabui Hara hingga wanita itu mengizinkan dan menginstruksikan pada pengawal untuk membiarkannya pergi.


Maisara pun berterima kasih kepada Hara penuh dengan sukacita. Ia tidak menggunakan jasa sopir villa Harlan, dengan alasan tidak ingin merepotkan, ia menggunakan taksi hingga sampai ke apartemen ibunya.


Setelah itu, yang terjadi adalah Maisara tidak pernah kembali lagi ke rumah villa Harlan, sampai keesokan harinya.


Tentu saja Harlan mencari dan menyalahkan Hara, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa pada wanita paruh baya yang sudah sangat berjasa padanya itu.


Hara dengan sungguh-sungguh meminta maaf, memohon sambil menangis pada majikannya, dan ia bersedia apabila Harlan mengusir atau menghentikan dari pekerjaan yang sudah puluhan tahun ya jalani dengan sepenuh hati.


Namun Harlan tidak mengabulkannya, ia memaklumi sisi kemanusiaan Hara yang mengizinkan Maisarah keluar dari rumah. Bukan Hara yang bersalah, tetapi Maisara yang sudah menipu mereka.


Harlan memanfaatkan segala koneksi yang ia miliki untuk mencari keberadaan Daina, Ibu Maisara di Desadee, tapi selama dua hari para detektif itu tidak menemukan mereka di mana pun di semua area desa. Nama dua wanita itu tidak tercatat di catatan sipil dan orangnya pun tidak ada.


Setelah tidak menemukan Daina dan Maisarah di Desadee, asisten mengusulkan untuk mencarinya di kota. Selama beberapa hari pula Harlan mengerahkan detektif di sana. Benar saja setelah penyelidikan dilakukan selama tiga hari kemudian, keberadaan Maisara dan Daina pun ditemukan.


“Mereka berada di apartemen sederhana itu, Tuan!” begitu laporan salah satu detektif kepada Herlan.


Selama ini Daina rela bekerja kasar menjadi pengasuh paruh waktu, hingga ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Meskipun Maisara mencukupinya dari penghasilannya membuat komik, tetapi wanita itu tidak membebani anaknya. Ia ingin memiliki tabungan sendiri. Walaupun sedikit, tapi akan berguna suatu saat nanti.


Rindukah ia?


Harlan berharap Maisara bisa mengerti tujuannya menahannya selama beberapa hari di dalam rumah, karena ia tidak ingin isertemu dengan laki-laki lain. Apalagi hanya membicarakan investasi atau bantuan dana, seharusnya ia cukup mengandalkan suaminya.


Harlan tahu, kalau Putra berhasil menginvestasikan dana di Hansan Foundation, maka Maisara harus menuruti semua keinginan pria itu tanpa ampun. Tidak ada pria yang boleh memanfaatkan wanita itu selain dirinya.


Selama di sekap oleh Harlan, Maisara tidak mengaktifkan ponsel, karena ia tidak ingin membuat macam-macam alasan pada semua temannya. Ia yang sudah membatalkan perjanjian untuk bertemu dengan Sanaya dan Putra.


Ia tidak tahu lagi di mana Putra sekarang. Saat ia berhasil keluar rumah, barulah ia mulai menghubungi Sanaya dan menanyakan keberadaan Putra.


Dari sahabatnya itu Maisara pun tahu jika Putra sangat kecewa, karena dirinya menghilang secara tiba-tiba. Laki-laki itu sudah pergi ke luar negeri dan kembali menjalani bisnisnya seperti biasa.


Namun, pria itu masih mengharapkan Maisara meminta bantuannya, karena ia siap sedia kapanpun Maisara membutuhkannya.


Hari itu, Maisara sedang menikmati es krim dengan Sanaya di sebuah kedai es krim.


“Apa hp-mu rusak sampai susah sekali dihubungi?” tanya Sanaya sambil menyendok es krim ke mulutnya.


“Ya, begitulah! Kau punya pekerjaan bagus tidak? Aku sudah menyelesaikan komik dan bekerja, paruh waktu juga boleh.”


“Lebih baik buat komik, tidak perlu bekerja!”


“Aku tidak punya ide, dan aku ingin pergi dari sini!”


Saat itu Maisara berpikir bila suatu saat nanti Harlan pasti akan menemukannya. Padahal ia harus menghindar sebelum perutnya membesar.


“Apa kau gila, urus saja perusahaan Ayahmu dan kau tinggal di tempat itu, untuk apa pergi?”


“Tidak ada modal, tidak ada biaya yang cukup kalau harus tinggal di sana!”


“Kau bisa masuk aplikasi biro jodoh, dan cari jodohmu orang yang bisa melunasi semua hutangmu!”


“Oh! Sialan, kau! Apa kau mau aku ditertawakan Roni dan Nella karena aku mencari pria di situs seperti itu?”


“Kenapa tidak? Persetan dengan pengkhianat itu! Kalau kau berhasil dan menemukan pria idamanmu? Memangnya dia bisa apa?”


Maisara diam dan ia mengangguk, menyetujui usul Sanaya. Sudah saatnya merendahkan harga diri demi mencari sebuah investasi. Toh, harga dirinya sudah dihancurkan oleh Harlan tanpa hati nurani. Ia sudah dinodai, dan dikurung di rumah hanya untuk membiarkannya menikah lagi.


Nasib macam apa itu?


Maisara pulang ke apartemen sederhana yang ia sewa bersama ibunya, ketika hari sudah menjelang sore. Ia menghentikan tadi yang ia tumpangi di jalan masuk menuju gedung. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti, tepat di sampingnya berjalan.


Kaca mobil bagian penumpang perlahan turun, dan Maisara menoleh dengan mata terbelalak sempurna.


“Hai!” sapa seseorang sambil tersenyum ramah.


“Kau?”


❤️❤️❤️❤️