Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 59


Tempat Tinggal Baru


“Oh, aku bisa mengenalmu, karena Putra sudah mengirimkan banyak fotomu! Jadi, aku bisa tahu begitu melihatmu berjalan keluar dari kereta tadi. Kau menangis terlalu lama!” Lana tertawa, setelah bicara, ia lalu menunjukkan ponselnya, dan di sana Maisara melihat beberapa fotonya.


Kapan Putra memiliki fotoku?


“Putra yang mengirimkannya padamu?” tanya Maisara dengan alis berkerut, sesekali ia masih menghapus sisa ingusnya.


“Ya!” Lana berkata sambil kembali tertawa, “Dia sangat menyukaimu, kurasa dan ternyata kau lebih cantik dari yang terlihat di foto!”


“Jadi, kau yang akan menunjukkan tempat yang akan kami tinggali?” tanya Maisara.


“Ya! Ayo!” Lana mengajak Maisara sambil membawakan kopernya. Daina mengikuti mereka dari belakang, menuju mobil Hammer yang digunakan Lana untuk mengangkut mereka.


Sepanjang perjalanan, Maisara menjelaskan tentang rencana dan keinginan untuk usahanya dan juga hubungan pertemanan dirinya dengan Putra.


Maisara dan Lana saling berbincang.


“Oh, kukira kalian sudah lebih dari sekedar teman?” komentar Lana sambil melirik Maisara yang duduk di sampingnya, sementara Daina duduk di kursi belakang.


“Oh, tidak mungkin! Aku tidak pantas untuk orang sebaik Putra. Ada banyak wanita yang lebih baik dari aku untuk jadi kekasihnya. Aku dan Putra, selamanya adalah teman baik!”


“Benarkah? Aku pikir antara wanita dan pria kalau sudah dekat pasti ada rasa lain yang hadir, aku tahu itu!”


“Oh, tidak mungkin! Aku tidak pantas untuk orang sebaik Putra. Ada banyak wanita yang lebih baik dari aku untuk jadi kekasihnya. Aku dan Putra, selamanya adalah teman baik!”


“Benarkah? Aku pikir antara wanita dan pria kalau sudah dekat pasti ada rasa lain yang hadir, selain rasa seorang teman, aku tahu itu!”


“Tapi aku tidak punya perasaan seperti itu! Aku bisa jaga hati! Agar kami tidak berhubungan lebih dari sekedar teman.”


Dalam hati Lana sedih, sebab ia bisa merasakan bagaimana Putra, yang begitu antusias setiap kali membicarakan semua hal tentang Maisara. Ia bersedia bersusun payah mencari dan menawar harga sebuah gedung dan tanahnya, hanya untuk wanita yang menganggap dirinya sebagai teman.


Lana mengajak Maisara turun dari mobilnya saat berhenti di sebuah gedung yang cukup besar namun sederhana, terletak di paling ujung, salah satu jalan besar yang ada di distrik barat. Tempat yang cukup strategis meskipun berada di ujung, itu adalah sebuah pertigaan jalan, yang merupakan persimpangan menuju arah tempat pariwisata Lopia dan arah sebaliknya menuju pasar tradisional.


“Apa ini gedung yang ditawarkan Putra?” tanya Maisara sambil menutup pintu mobil. Daina mengikuti Lana yang berjalan ke bagasi dan menurunkan koper mereka.


“Ya! Kau bisa menempatinya sekarang, sementara nunggu Petra, dan kau bisa memilikinya kalau sudah melakukan transaksi jual beli nanti!” kata Daina. Ia kini berjalan untuk membuka kunci.


“Bukan begitu, aku sudah membuat kesepakatan untuk tidak menawarkannya pada pihak lain dan sudah mengenal Putra dengan baik, jadi lebih mudah kalau ada dia!”


“Apa gedung ini milikmu?”


“Secara kasarnya, iya! Gedung ini milikku dan aku mendapatkan karena sebuah sengketa!”


“Kalau aku tahu gedung ini masih sengketa, aku tidak akan membelinya!”


“Sekaramg bukan lagi, ini sah milikku dan aku akan menjualnya! Hasil penjualan akan kubagi dengan dua adikku mereka tinggal jauh di sini!”


Lana mempersilakan Maisara dan ibunya masuk untuk melihat-lihat rumah kosong itu, hanya ada satu tempat tidur dan sebuah bufet kecil di sana, selain itu tempat seluas itu kosong.


“Maaf, kalian harus membersihkannya sendiri karena tempat ini di kosongkan sejak sengketa berlangsung antara saudara tiriku!” kata Lana lagi sambil mengangkat bahunya.


Maisara mengerti tentang masalah yang dialami Lana mungkin, mirip dengan pengalaman dirinya, tapi karena gadis itu enggan menceritakannya lebih lanjut, maka Maisara pun tidak ingin mempermasalahkannya. Itu urusan pribadi Lana dan keluarganya. Dulu, kalau bukan kesiapannya saat Ayahnya meninggal, bisa jadi ia pun akan bersengketa dengan Sahida atau Nella, atas kepemilikan perusahaan ayahnya.


“Tidak masalah, terima kasih!” sahut Daina dan Maisara hampir bersamaan.


“Kalau kalian membutuhkan keperluan lainnya, ada pasar tidak jauh dari sini, aku sering berjalan kaki ke sana!” kata Lana lagi, sambil mengusap rambutnya yang mirip laki-laki, gayanya pun persis seperti pria.


“Oh ya?” tanya Maisara antusias.


“Ya, hanya sekitar seratus meter dari sini!” tandas Lana, “Kalau begitu, silahkan istirahat, aku pergi dulu, hubungi aku kalau kalian ingin menanyakan sesuatu!” kata Lana sambil mengeluarkan ponselnya.


Mereka saling bertukar nomor ponsel setelah itu, dan menempatkan diri untuk melakukan panggilan video pada Putra. Pria itu tampak begitu gembira di balik layar.


“Baiklah, terima kasih Lana, atas kebaikanmu! Oh ya! Kau tinggal di mana?” Maisara bertanya setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Putra.


“Tidak jauh dari sini, aku akan siap jadi pegawaimu kalau kau sudah memulai usaha nanti!”


“Tentu!”


Lana pergi setelah itu, meninggalkan dan Maisara serta ibunya yang langsung memilih, untuk istirahat dan tidur dari pada mengisi perut mereka.


❤️❤️❤️❤️