Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 30


Menjadi Tahanan


Hanya benda-benda di kamar itu yang tahu bagaimana akhirnya kedua yang menikah secara paksa sama-sama sudah tak berbusana.


Harlan kembali mencium Maisara sambil membawa tubuh istrinya itu ke dekat tempat tidur.


Sementara satu tangannya masih menekan pinggang dan satu tangan ia gunakan memegang dagu hingga wanita itu tidak bisa bergerak. Cengkeraman tangannya sangat kuat.


“Ahk!” teriak Maisara saat Harlan tiba-tiba menariknya dengan kuat ke atas tempat tidur yang luas, hingga mereka terjerembab secara bersamaan.


Lagi-lagi Harlan kembali mencium bibir dan melakukan beberapa hal lain pada tubuh Maisara setelah wanita itu benar-benar pasrah berada dalam kekuasaan di bawahnya.


Kami sudah menikah, kan? Ya sudah, terserah! Dia lembut, apa dia menyukaiku?


Maisara seolah linglung, dengan ciuman sehangat itu, hingga ia terbawa arus di dalamnya. Ia tidak bisa menolak sentuhan tangan Harlan di area tubuh lainnya. Ia pasrah.


Suasana menjadi hening saat bibir bertemu bibir, lidah berbelit lidah, kulit beradu kulit, saling memberi kehangatan. Tak lama setelah itu yang terjadi adalah penyatuan tubuh.


Mereka seperti sebuah lagu yang saling melengkapi antara nada dan syair dalam nyanyian kenikmatan, yang hanya tercipta melalui irama. Mereka saling bersahutan antara suara kecupan dan gerakan sesuai tangga nada, pada lagu yang mereka ciptakan sendiri alunannya.


Harlan tidak bisa bertahan lebih lama dengan lututnya, tidak boleh lebih dari 30 menit. Itulah yang dikatakan dokter sore itu, saat ia bertanya tentang hubungan badan.


Jadi, ia harus menyelesaikan hasyrat itu dengan segera dan mengeluarkan semuanya tepat sebelum waktu 30 menit itu berakhir. Ia pun berhasil.


Setelah itu, ia terkulai lemas lagi di samping Maisara yang masih bengong tak percaya. Gadis itu seolah berada dalam dunia nyata dan khayalannya. Ia baru saja terbuai meski hanya sebentar, tapi semua itu dilakukan oleh Harlan, pria yang lumpuh sebelumnya.


Jadi, dia sudah sembuh? Astaga!


Maisara beringsut untuk duduk dan memperhatikan wajah Harlan yang terpejam, ia yakin kalau pria itu sudah tidur. Seperti itulah dalam artikel yang pernah ia baca kalau lelaki akan lebih mudah tertidur, sehabis bercinta. Tingkah mereka itu disebabkan oleh hormon endolpin, hormon yang memicu rasa bahagia, keluar dari dalam otak. Hormon itu muncul setelah para pria mencapai puncak dan berhasil melakukan pelepasannya.


Gadis itu tidak khawatir hamil karena ia memang sudah hamil anak suaminya. Ia hampir saja tertawa cukup keras, memikirkan bahwa mereka baru saja melakukan prosesnya. Maisara mengalami hal terbalik dari kebanyakan wanita, di mana ia hamil lebih dahulu baru melakukan proses yang membuat kehamilan. Sementara pada seorang wanita lain, akan melakukan dahulu prosesnya barulah mereka mendapatkan kehamilan.


Namun ia melakukan bayi tabung hingga bisa hamil, ia bukan perawan Maria yang memiliki anak hanya dengan perantaraan Tuhan.


Maisara mendecak keras sambil mencubit paha Harlan dengan kesal, tapi pria itu tidak bergerak, ia tidur seperti bayi! Sementara gadis itu melihat bekas cubitan yang pernah ia buat hingga memar beberapa hari lalu. Lalu, sekarang ia membuat cubitan keras yang menimbulkan memar yang sama di sebelahnya.


Setelah puas mencubit, Maisara memakai pakaiannya dan tidur berjauhan dari Harlan.


Sampai keesokan harinya, Maisara terbangun dengan perasaan tidak menentu ada suatu yang berbeda, pada organ sensitifnya. Ia ingin marah, tapi Harlan sudah tidak ada di sebelahnya. Sementara ia mendapati dirinya tertutup selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Akibat kejadian pergumulan mereka berdua, Maisara merasa bingung, bagaimana harus bersikap pada Harlan kalau mereka bertemu nanti di lantai dasar. Apakah ia harus malu atau menganggap semua tidak pernah terjadi? Biar bagaimanapun juga, ia tidak merasa begitu murahan sebagai seorang istri. Memang awalnya ia ingin perceraian dan menolak walau akhirnya ia pasrah. Perbuatan Harlan semalam, tidak memberinya cukup waktu untuk berpikir jernih.


Gadis itu segera membersihkan diri dan berpakaian, ia harus bersiap karena hari ini memiliki janji bertemu dengan Putra. Mereka akan membicarakan soal kerja sama, dalam perjanjian memberi bantuan modal yang akan dikucurkan pria itu untuk perusahaannya.


Namun, saat ia sudah siap dan hendak keluar kamar ...


Ceklek!


Apa? Kenapa pintunya terkunci? Aku tidak menguncinya! Apa dia yang menguncinya? Astaga! Sialan kau, Harlan!


Maisara mencari kunci di semua penjuru kamar hingga ruangan itu berantakan, tapi ia tidak menemukannya di mana pun, hingga ia putus asa. Sialnya lagi, ia tidak memiliki nomor telepon Harlan, untuk mengatakan sumpah serapah. Ia tidak mungkin menghubungi Sanaya atau ibunya untuk mendapatkan bantuan.


Akhirnya ia hanya melihat nomor pengawal, laki-laki itu pernah sekali mengiriminya pesan dan sampai sekarang ia belum menghapusnya. Dengan putus asa ia menekan nomor telepon dan menghubunginya.


“Kurang ajar sekali kamu! Awas kamu ya, Pengawal!”


Maisara kesal, marah dan bingung tidak tahu harus bagaimana memberi alasan pada Putra jika tidak bisa bertemu hari ini. Ia takut temannya itu akan kecewa.


“Aku harus membuat alasan apa? Kalau aku bilang sakit pasti dia mau nengok, kalau aku bilang di rumah sakit pasti dia bisa mendatangi rumah sakitny, kalau bilang alasan ibuku yang sakit dia bisa mendatangi rumah ibu juga!” gumam Maisara sambil memandang ke langit-langit kamar.


Kebingungannya semakin menjadi sampai siang hari dan Maisara baru merasa lega saat Hara datang, sambil membawakannya makanan. Saat pintu terbuka, ada dua pengawal lain berdiri di depan pintu. Mereka menutupnya rapat setelah Hara menyimpan nampan berisi makanan di atas meja.


Apa-apaan itu? Aku bukan tahanan!


“Silakan dimakan, Nyonya, Anda membutuhkan tenaga, biar tetap sehat!”


Maisara duduk di atas tempat tidur dan hanya melirik Hara serta makanan yang di bawanya.


“Bawa saja makanan itu, aku tidak mau makan!”


“Nyonya harus makan, Tuan berpesan kalau saya harus memastikan Nyonya menghabiskan makanannya ....”


“Tapi, aku tidak mau makan!”


“Nyonya, Tuan menyayangi Anda, saya melihat perubahan itu. Dia tidur dengan Anda tadi malam!”


Hara hanya memikirkan kebiasaan dan sikap Harlan selama ini, meskipun Raina sering datang berkunjung ke rumah itu, tapi perempuan itu tidak pernah diizinkan masuk ke kamarnya atau tempat yang lain selain ruang tamu dan ruang makan.


“Mana ada hal seperti itu bisa dijadikan ukuran suka atau tidak, apalagi mengukur rasa sayang atau tidak! Akh! Yang bener saja! Banyak orang melakukan hubungan lawan jenis tanpa cinta dan banyak manusia tidur bersama walau bukan suami istri.”


Hara diam, dalam benaknya ia berpikir bahwa, Nyonya mudanya itu masih belum memahami siapa lelaki yang menjadi suaminya. Harlan bukan pria pemain wanita, selama ini ia tidak pernah melihat tuannya itu bergonta-ganti perempuan. Satu-satunya orang yang pernah diajak ke rumah adalah Raina. Dan satu-satunya wanita yang tidur di kamar utama adalah Maisara.


Sementara Maisara tidak perlu bingung, sebab sekarang ia sudah punya keputusan. Ia hanya merasa perlu dan cukup untuk membenci suaminya. Sekarang, ia dengan terpaksa menurut dan makan, karena tatapan mata Hara begitu memelas padanya. Setelah selesai, wanita setengah baya itu pergi dengan meninggalkan sejuta penasaran dihatinya.


Maisara tinggal di kamar utama, sampai malam tiba dan ia hanya menghabiskan waktu dengan memainkan game di ponselnya. Di kamar laki-laki itu, tidak ada perlengkapan pribadinya hingga ia menggunakan pakaian dan perlengkapan Harlan yang kebesaran di tubuhnya.


Namun, ia merasakan bagai dipeluk laki-laki itu, aromanya memenuhi Indra penciuman Maisara dan menempel di mana-mana. Meskipun begitu, malam ini ia sudah menyiapkan sumpah serapah terbaik saat pria itu masuk dan akan kabur begitu pintu terbuka.


Namun, hingga keesokan harinya, Harlan tidak datang dan ia tetap tidak diizinkan ke luar kamar. Perlakuan ini terjadi selama beberapa hari berturut-turut. Hingga Maisara merasa begitu direndahkan. Bagaimana tidak? Setelah ia digauli dan puas, ia pun ditinggalkan.


Memasuki hari ke delapan, tampak sedikit berbeda, pengawal tidak menutup pintu setelah Hara keluar membawa nampan berisi makanan. Mereka membiarkan Maisara bisa berkeliaran di sekitar rumah, meskipun hanya halaman samping di mana terdapat kolam renang atau taman belakang di mana ada banyak tanaman buah-buahan yang tumbuh.


Maisara masih sering menggunakan kemeja Harlan, dan beberapa pakaian yang di bawa Hara dari kamarnya pun tidak banyak. Tidak ada pakaian lain lagi yang ia kenakan. Kalau pun ganti, itu hanya berupa piyama panjang atau panjamas, sejenis baju tidur berbentuk jubah dengan satu tali di pinggangnya, yang juga kepanjangan di tubuhnya.


Ia tahu di beberapa area rumah sedah terpasang kamera pengawas hingga ia tidak bisa kabur atau Harlan akan mempermalukannya. Apalagi pengawal menempati beberapa bagian rumah dengan patuh menjaga dan menjalankan perintah sang tuan rumah.


Ini berlebihan sekali, aku bukan penjahat! Tidak perlu membawa senjata, kan?


Maisara segera memakai pakaiannya sendiri begitu pengawal membolehkannya keluar kamar, hanya sebatas halaman yang bisa ia datangi dan Ia ingin berenang hari ini.


Maisara memakai kaos tanktop putih yang melekat dengan pas di badannya serta celana pendek sebatas paha, saat berenang. Ia dengan bebas melakukan beberapa gaya dan sesekali muncul untuk istirahat dan menghirup napas dalam-dalam. Saat ia muncul dari dalam air untuk ke sekian kalinya, ia terkejut begitu melihat seseorang yang berdiri dengan angkuh di sisi kolam renang itu.


“Kau? Ahk ... yang benar saja ... kau di sini?”


❤️❤️❤️❤️