Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 29


Harlan Bisa Berdiri


 


“Dari mana saja kamu?” tanya Harlan dari kursi rodanya. Ia berada di ruang tamu, dan sengaja menyambut kedatangan Maisara dengan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa tidak suka.


“Bukan urusanmu!” kata Maisara seraya melirik Harlan sekilas dan kembali melangkah. Ia mengabaikan suaminya.


Pengawal melotot karena melihat betapa kurang ajarnya sang Nyonya pada suaminya.


Namun, Harlan hanya terlihat berwajah masam tanpa memalingkan pandangan.


“Berhenti di sana!” seru Harlan lagi sambil menjalankan kursi rodanya mendekati Maisara.


“Untuk apa?” Maisara menoleh


Tatapan mata kini saling terkunci dan menunjukkan raut wajah yang berbeda dari keduanya.


Maisara kecewa karena harapannya agar tidak bertemu Harlan saat pulang, ternyata tidak terwujud. Pria itu justru muncul begitu ia sampai di depan pintu.


Sementara Harlan begitu kesal, karena semua yang dilakukan Maisara, selama dirinya tidak ada. Gadis itu bukan hanya melanggar aturan, tetapi menemui laki-laki lain hari ini. Kemarin ia dilaporkan bertengkar di halaman parkir dan seenaknya saja mengakui kalau ia adalah istri presdir. Padahal beberapa hari lalu ia meminta perceraian.


Bukan hanya itu, demi bisa keluar rumah, Maisara membuat alasan menemui ibu mertua di rumah sakit. Padahal Wendi merasa tidak melihat Maisara sekalipun di ruangannya. Kesalahannya sangat banyak kalau menurut ukuran Harlan, orang yang tidak bisa menerima kesalahan, apa lagi dilakukan dengan sengaja seperti kelakuan Maisara.


Wanita ini sudah banyak berbohong dan melanggar aturan.


“Duduk!” Harlan berkata sambil menunjuk pahanya. Itu artinya ia menyuruh Maisara duduk di atas pangkuannya.


Ahk! Yang benar saja. Hukuman apa itu? Batin pengawal sambil mencebik, ia pikir Harlan sudah lemah karena Maisara.


Maisara melihat arah jari  suaminya  dan tatapan tak percaya.


“Sudah aku bilang, kan? Aku takut jatuh!”


“Duduk!”


Maisara terpaksa mengikuti perintah dan duduk, di atas pangkuan Harlan sambil melingkarkan kedua tangan di leher pria itu saat kursi roda mulai digerakkan berjalan ke arah kamar.


Setelah kedua orang yang saling berpelukan itu masuk, pengawal menutup pintunya rapat-rapat.


 Harlan mengehentikan kursi roda di dekat tempat tidur, ia menatap Maisara dengan mendongak karena posisi gadis itu lebih tinggi darinya.


Maisara balas menatap tanpa melepaskan belitan tangannya di leher Harlan, ia sudah biasa sedekat ini tapi jantungnya masih saja tidak mengerti, karena berpacu lebih banyak dari biasanya. Ia merasa tidak normal.


“Masih takut?” tanya Harlan lembut, sambil melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Maisara.


Seketika Maisara melepaskan tangannya dari leher Harlan dan hendak berdiri sambil menggelengkan kepalanya. Ia gugup, tapi tidak bisa membebaskan diri karena ia bagai di penjara dalam pelukan pria itu.


Maisara masih ingat kejadian di kamarnya saat Harlan menciumnya secara paksa, pria itu sangat kuat.


“Apa yang kau lakukan tiga hari ini?” tanya Harlan sambi merapikan rambut Maisara di belakang telinga.


Apa yang sudah merasuki si Lane ini kira-kira? Kenapa dia lembut?


Maisara salah tingkah, karena ia  memaksa pergi padahal Hara sudah memintanya tetap tinggal di rumah beberapa hari ini.


Harlan sengaja melarang dengan maksud ingin melihat reaksi gadis itu jika dirinya melakukan pelarangan melalui orang lain.


Sementara ia sendiri tengah konsentrasi melakukan terapi, yang berkesinambungan setiap dua jam sekali, untuk memperoleh hasil secara maksimal dalam waktu singkat.


“Aku tidak di rumah, jadi aku tidak tahu apa kegiatanmu!”


Maisara menjawab dengan gugup, ia memandang ke sekeliling kamar yang dulu pernah ia tempati, dengan perasaan campur aduk.  Mereka tidur bersama saat Harlan belum sadarkan diri, selama satu bulan lebih. Ia heran mengapa Harlan membawanya ke sana.


“Maaih berbohong?” tanya Harlan.


“Aku tidak bohong!”


“Oh, jadi Raina yang berbohong, kalau begitu aku akan menghukumnya besok!”


Aih! Menghukum Raina padahal aku yang bohong? Terserah!


Harlan mengangguk melihat reaksi Maisara yang cuek dan tak peduli. Lalu, ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sebuah video dimana ia tengah adu mulut dengan Raina.


Maisara membelalakkan matanya dan menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Ia menyesal mengapa ia dengan gamblangnya menyebut dirinya sebagai istri pemilik perusahaan.


Ini tidak mungkin, kan? Apa sopir merekamnya? Kurang ajar sekali dia!


“Coba ulangi sekali lagi ucapanmu pada Raina! Dan, ceritakan padaku siapa laki-laki itu?”


Maisara diam, ia tahu siapa yang di maksud Harlan dengan ‘laki-laki itu’. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Putra hingga akhirnya ia mau mengaku.


“Dia putra, kami cuma teman!” kali ini ucapan Maisara jujur, karena ia memang hanya menganggap Putra dan semua lelaki yang dekat dengannya sebagai teman.


Perasaan memang tidak bisa dipaksakan pada siapa rasa itu berlabuh, tapi Maisara menganggap semua teman lelakinya tampan dan luar biasa. Ia tidak mungkin menjadikan mereka sebagai pacar, karena kasihan pasti mereka iri kalau hanya menjatuhkan pilihan pada satu orang. Oleh karena itu ia tidak pernah menjadikan mereka sebagai kekasih. Apalagi mereka masih kuliah.


Ibunya pernah bercerai karena wanita lain, hingga ia pikir semua lelaki sama saja seperti ayahnya.


Sopir memberi informasi pada Harlan tentang siapa yang Maisara temui di taman, lalu dengan cepat ia mencari informasi tentang Putra. Dari situ ia tahu bahwa, mereka dulu adalah seorang sahabat dekat di kampus. Ayah putra orang yang berhasil di dunia pariwisata. Kedatangannya ke Asnakawa tidak punya hubungan sama sekali dengan bisnisnya di dalam negeri, kecuali karena Maisara.


Harlan jelas paham sebagai sesamanya, seorang pria tidak mungkin melakukan hal sebesar itu kalau bukan karena cinta.


“Kau pikir aku percaya kalau kalian hanya sebagai teman?”


“Ya. Kau harus percaya karena aku memang menganggapnya hanya sebagai teman, tidak lebih. Apa kau cemburu lagi?”


Kali ini Maisara tertawa cukup keras. Namun tiba-tiba tawanya berhenti karena Harlan mencengkeram dagunya dengan kuat, lalu mendekatkan kepala hingga tanpa Maisara sadari, ciuman pria itu mendaratkan ciumannya penuh gairah.


Maisara tidak bisa mengelak dan hanya bisa pasrah atas ******* bibir Harlan yang begitu panas. Setelah cukup lama, ciuman itu pun berhenti, dan kedua orang itu sama-sama menghirup udara secara cepat.


Setelah itu Harlan mendorong tubuh Maisara untuk berdiri dari pangkuannya, begitu pula dengan dirinya sendiri pun berdiri.


Maisara begitu terkejut hingga mulutnya terbuka, melihat Harlan berdiri gagah dengan kedua kakinya dan ia tampak begitu tinggi.


“Harlan! Kau bisa berdiri, tapi sejak kapan?”


“Sejak sekarang!”


Dengan cepat ia membuka kancing kemeja dan pakaian bagian bawahnya tanpa memberi waktu jeda sedikit pun pada Maisara. Sebelum gadis itu tersadar dari keterkejutannya, ia sudah berhasil menguasai si pemilik sikap keras kepala berada dalam pelukannya.


“Apa yang akan kau lakukan?” Maisara berkata sambil meronta untuk melepaskan diri dari pelukan Harlan yang hampir telanjang.


Pria itu hanya memakai kemeja yang seluruh kancingnya sudah terbuka dan ****** ***** saja.


“Kau bilang aku suamimu dan kau istriku, kan? Jadi, lakukan seperti yang pernah kau lakukan dulu padaku!” kata Harlan sambil melucuti pakaian Maisara satu persatu.


“Tapi untuk apa? Aku tidak perlu melakukan hal itu pada orang yang sekarang sehat!” kata Maisara sambil melihat apa yang dilakukan Harlan pada bajunya yang mulai terlepas satu-persatu. Maisara seperti terhipnotis hingga ia hanya bisa membiarkan seluruh pakaiannya tidak ia kenakan lagi.


 


❤️❤️❤️❤️