Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 20


Kepergian Hansan


Daina tidak habis pikir dengan niat Maisara, yang ingin menggugurkan kandungannya. Namun, ia tak memungkiri kekhawatiran anaknya kalau memang Harlan tidak menyukai anak-anak. Tentu akan sangat menakutkan kalau hal itu terjadi.


“Coba kau beri pengertian pada suamimu itu kalau anak adalah konsekuensi sebuah pernikahan, dan melenyapkan mereka yang tak berdosa adalah, kejahatan terburuk sepanjang sejarah! Kau tidak akan mengambil bagian dari pelenyapan itu, kan? Jangan, Mai!”


Harlan bukan orang yang bisa diberi peringatan oleh Maisara, apalagi mereka menikah secara paksa dan kemarin lusa ia mengharapkan perceraian. Jadi, Maisara tidak punya harapan untuk membesarkan bayinya sendirian.


Apa mungkin Harlan mau menerima anak ini kalau lahir nanti?


“Sudahlah, Bu. Akan aku pikirkan soal anak ini nanti!” kata Maisara sambil mengusap perutnya yang rata.


“Kau tetap harus memikirkannya, Wendi mengharapkan kehamilanmu, tapi kau justru akan menggugurkannya?”


Maisara diam lagi.


“Biasanya, kehadiran seorang bayi akan menyenangkan, walaupun pada awalnya tidak diinginkan, tapi kalau sudah lahir, mau tidak mau kedua orang tuanya akan membesarkannya.”


Malam itu, Maisara menginap di rumah keluarga neneknya hari itu, perjalanan ke Desadee sangat jauh, butuh seharian untuk sampai, hingga ia tidak mungkin langsung pulang.


Ia cukup senang, pada keluarga ibunya yang memperlakukan mereka berdua dengan baik. Selama berbincang malam itu, mereka selalu membicarakan semua kebutuhan pokok yang terus naik dan hidup yang sulit. Mereka seperti memberi isyarat kalau Daina seakan menjadi beban keluarga, karena tinggal bersama mereka, tapi tidak menghasilkan uang.


Keesokan harinya, Daina mengikuti Maisara ke kota, dan memutuskan untuk tinggal di sana. Dua wanita itu memilih apartemen sederhana yang terbilang ramai, banyak anak-anak di mana-mana, tapi harganya murah dan terjangkau.


Maisara pun puas dengan apartemen sederhana, karena dengan begitu, ia bisa memenuhi kebutuhan harian ibunya hanya dari pendapatannya membuat komik.


Daina cukup puas dengan apartemen itu, karena semua fasilitas sudah tersedia lengkap di dalamnya. Termasuk kebutuhan listrik dan air. Hanya saja ia harus berjalan sejauh seratus meter untuk sampai ke jalan raya kalau hendak pergi ke pasar atau ke mana pun.


“Semoga Ibu betah tinggal di sini!” kata Maisara, ketika mereka sudah berada di kamar.


Daina pun mengangguk setuju.


“Kau bisa membiayai hidupku, lalu bagaimana kau akan mengambil kembali kemajuan Hansan Foundation?” kata Daina sambil membereskan pakaiannya ke dalam lemari pakaian yang terbuat dari plastik.


“Ibu jangan kuatir, aku akan mencari infestor!”


“Apa kau yakin bisa? Aku mau memulainya dari awal lagi, menjual barang sisanya, saja!”


“Tidak ada barang sisa, Bu. Semua habis dan aku harus membayar hutang. Ayah tidak bisa diharapkan lagi. Kalau ibu menjual sesuatu di tempat itu, kita tetap membutuhkan biaya untuk membayar listrik dan pajak. Kita bisa memulai usaha baru, tapi tidak sekarang, Bu!”


Baru saja Maisara berhenti bicara, ia menerima telepon. Betapa terkejutnya ia saat menerima panggilan dari Nella, yang memberitahukan tentang kematian Ayahnya.


Maisara pergi dari apartemen ibunya sambil berurai air mata, ia meninggalkan Daina begitu saja. Wanita paruh baya itu tidak mau pergi ke rumah yang dulu pernah ia tempati dengan sang suami.


“Pergilah, aku akan datang ke pemakaman ayahmu nanti!” begitu pesan Daina.


Maisara pergi ke rumah ayahnya dengan taxi, dan di sambut oleh Nella dengan acuh tak acuh. Namun ada sembab di wajah gadis itu seperti sudah lama menangis.


Apa dia menangisi ayahku?


Maisara masuk rumah beriringan dengan Nella di belakangnya.


“Apa kau sudah miskin, sampai kau naik taxi ke rumah duka? Aku kasihan padamu, kalau aku tahu Harlan hanya pria penyakitan, aku tidak akan mendukung Ayah untuk menikahkan kamu, Mai!”


Maisara enggan menimpali, jelas sekali Nella tengah berbohong. Ia mengabaikan sepupunya dan masuk ke kamar Hansan. Namun, baru selangkah saja, Nella kembali memaksanya berhenti.


“Mai! Kemana Lamborgini-mu? Apa kau tidak mendapatkan infentaris? Jangan bilang kau tidak memiliki uang untuk membiayai pemakaman Ayahmu!” kata Nella, terdengar mengejek.


“Apa kalian membawa Ayah ke rumah sakit?”


“Ya, tapi baru sehari di sana, dokter meminta kami membawanya pulang!”


Maisara tidak ingin percaya tapi, ia tetap harus percaya kalau ayahnya memang sudah waktunya pergi meninggalkannya.


Sampai di kamar, Maisara semakin sedih dengan keadaan Hansan yang ditutup selimut, ia membuka penutup jenazah itu sebelum mengambil telepon dan menghubungi beberapa orang untuk mengurusnya. Sejak ia masuk tadi, Sahida menangis tersedu-sedu di sofa dan sudah menghabiskan banyak tisu.


Sahida terharu karena ia berhasil memiliki sesuatu dari pernikahannya dengan Hansan. Meski susah mendapatkan tanda tangannya, tapi akhirnya rumah yang sekarang ia tempati sudah sah menjadi miliknya. Walaupun di sana ada satu mobil Maisara, tapi ia tetap menganggap kendaraan itu pun miliknya, sebab Maisara sekarang sudah jauh lebih kaya.


Selama semalaman Maisara menunggu semua prosesi selesai, dan jenazah ayahnya akan dimakamkan keesokan hari.


Saat pemakan tiba, Maisara pembawa foto ayahnya dan menuju tempat di mana jenazah akan di kuburkan. Ia meminta pada pendo’a agar mendoakan ayahnya agar tidak bersedih lagi karena perusahaannya.


Setelah selesai pemakaman, Maisara tidak juga pergi dari kuburan ayahnya, wajahnya teruse menunduk. Padahal para kerabat dan semua orang sudah pergi. Hanya dirinya seorang, bahkan ia mengabaikan Sahida dan Nella sudah lebih dulu pergi dari sana.


Pada saat itu, Maisara melihat Daina mendekat.


“Relakan kepergian Ayahmu, Haya!” kata Daina sambil memeluk anaknya, sambil mennagis di dekat kuburan Hansan itu.


“Terima kasih Ibu sudah datang, Ibu juga jangan membenci Ayah, dia sudah pergi, aku yakin Ayah sangat menyesal sekali.”


“Ya. Aku sudah memaafkannya sejak kau menyelesaikan kuliahmu. Itu artinya dia memenuhi janjinya. Kalau tidak, aku tidak akan pernah memaafkannya sampai kapan pun juga!”


Daina berdoa sebentar dan menyimpan satu buket bunga segar di atas pusara mantan suaminya itu.


Lalu, dua wanita itu pergi sambil bergandengan tangan meninggalkan makam untuk mencari taxi. Mereka akan segera pulang


Namun, baru saja mereka berjalan beberapa langkah, ada suara tangisan seorang anak kecil yang menangis cukup kuat, di samping makam seseorang tak jauh dari mereka.


Maisara dan Daina mendekati anak perempuan yang duduk di sisi makam, dan ia menaruh tab yang masih menyala di sisinya. Sementara ada seorang wanita berkaca mata hitam, yang hanya melihat anak itu dari jauh. Wanita itu memakai kursi roda, dan seorang pengawal berdiri di sampingnya.


Pemandangan yang tampak janggal itu membuat Maisara dan Daina bertanya.


“Kenapa kau menangis? Apa dia ayahmu? Kenapa ibumu tidak di sini bareng kamu?” tanya Maisara. Saat bicara, ia tersentak karena melihat batu nisan yang bertuliskan nama Mahespati Prawira.


Siapa anak ini? Mengapa dia menangisi makam Ayah Harlan?


Anak itu hanya menoleh pada Maisara sebentar.


“Aku mennagis karena sedih sekaligus bersyukur!” kata


anak itu sambil mengambil tab, dari atas tanah.


Maisara kembali tercengang saat melihat tab yang rupanya sedang menayangkan komik hasil buatannya, pada sebuah aplikasi komik online.


“Kau pemilik, tab itu?” Maisara bertanya, sambil menunjuk tab yang ada di pangkuan anak remaja perempuan itu.


“Ya.”


“Kau menyukai cerita komiknya?”


“Ya, tapi authornya belum update juga, dan sudah dua hari ini aku menunggu. Padahal aku sudah memberinya piala, agar ia cepat update.”


❤️❤️❤️❤️