Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 50


Cinta Tulus Seorang Ibu


“Kenapa Nyonya tidak mengatakannya langsung pada Tuan?’ kata sopir itu saat Maisara selesai memberinya pesan.


Meisara hanya mengangkat kedua bahu, ia merasa enggan untuk menghubungi Harlan apa pun alasannya. Selagi ia butuh untuk bicara, maka akan bicara, tapi selagi ia bisa diam, maka tidak akan berkata apa pun pada suaminya.


Sopir pergi dengan perasaan yang rumit ia takut Harlan akan memarahinya lagi. Selama ini ia hanya mengikuti keinginan Maisara tanpa bisa menolak, sebab tidak mungkin memaksa wanita itu, hanya karena khawatir pada dirinya sendiri. Mau tidak mau Ia menyampaikan pesan itu pada tuannya dan bersiap menerima segala risiko.


Gadis itu menangis di tempat tidur Daina dengan tangisan yang kuat, melepaskan semua kepenatan karena harus menjual peninggalan ayahnya yang sangat berharga.


“Menangislah sampai kau puas, tapi setelah itu ... jangan terlalu lama bersedih, karena hidupmu harus terus berlanjut, ingat anak-anakmu mendengar tangisanmu yang buruk itu! Apa kau mau mereka ikut sedih?” Daina berkata untuk menasihati putrinya.


Maisara berhenti menangis tak lama, kemudian ia mengeluarkan beberapa benda yang ia temukan, saat membuka brankas besi di kamar kerja ayahnya.


“Ini cincin milik Ayah, selama ini dia menyimpannya dengan baik di brankas kita, Bu!” kata Maisarah sambil memberikan satu buah cincin pria dengan berlian biru, pada ibunya, Daina.


“Tidak ada gunanya kau memberikannya padaku sekarang, orangnya juga sekarang sudah terkubur di dalam tanah?” kata Daina dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini ia menyimpan kesedihannya rapat-rapat, hingga tidak ada orang yang melihat kesedihannya. Wanita mana yang kuat kehilangan cinta dari pasangannya.


“Ibu bisa menjualnya kalau mau, cinta ayah tulus padamu, Bu. Buktinya dia menyimpan cincin itu. Apa Ibu masih menyimpan cincin punya Ibu sendiri?”


“Masih.”


Tiba-tiba Maisara memeluk ibunya erat, ia menangis lagi di bahu wanita itu. Ia tahu bahwa cinta ayah dan ibunya tidak akan terpisahkan kecuali, oleh maut dan ini sudah terbukti ... ibunya tetap setia, sampai sekarang tidak menikah lagi. Ia berharap akan mendapatkan cinta yang tulus seperti cinta sang ibu.


“Tetaplah panjang umur Bu, dan lihatlah aku berhasil kelak, sisa uang ini akan aku gunakan untuk modal membuat percetakan komik dan poster tokoh kartun, apa Ibu setuju?” kata Maisara dengan suara yang kembali ceria, harapan besar seakan telah berpendar di hatinya.


“Bagaimana dengan suamimu? Haya, kau lebih membutuhkan persetujuannya daripada aku.”


“Lupakan saja dia!”


Daina tampak bingung dengan keputusan Maisara yang mengabaikan suaminya. Walaupun, ia tidak menyetujui dan tidak tahu menahu tentang pernikahan itu, juga belum mengenal suami anaknya, tetapi ia tidak mungkin memberikan nasihat dan mendukung anaknya untuk sebuah keburukan.


“Hati-hatilah, dan tetap temui suamimu!” kata Daina saat mereka sama-sama berbaring di tempat tidur malam itu.


“Dia tetap memiliki hak atasmu sebelum kalian resmi bercerai, hargai Wendi juga. Biar bagaimanapun, dia wanita yang baik!”


Maisara tidur dengan ibunya dengan nyenyak dan tenang, ia merasa begitu nyaman di sana, tanpa ada kekhawatiran kalau Harlan akan mengganggunya.


$$$$$$$$$$$


Sampai beberapa hari kemudian, Maisara sudah siap kembali menghadapi aktivitas sehari-hari. Ia bisa mengatasi hatinya sendiri dengan baik, dan bersiap mencari tempat baru untuk bisnis. Selain itu, ia akan bersikap baik pada Harlan seperti nasihat ibunya.


Maksud hati Maisara adalah mempertahankan haknya yang lebih besar sebagai istri sah, di Villa Harlan. Apalagi, pernikahan suaminya dengan Raina hanya sebagai penutup aib dan anaknya bukan milik Harlan. Seharusnya Raina lebih tahu diri, ia harus diberi pelajaran, pikirnya penuh percaya diri.


Pada saat Maisara keluar dari apartemen sederhana itu, ia mendapatkan teleponnya berbunyi, Sanaya menghubungi, lalu mereka berjanji akan bertemu di cafe yang menjadi langganan mereka, seperti biasa.


“Patah hati kenapa? Kita tidak punya hubungan sesama jenis, kan, Mai?"


“Kau tidak bilang kalau sudah jadian sama Sunni!”


“Oh! Soal itu ... haha! Mai, seharusnya kau senang aku punya pacar!”


“Aku tidak peduli! Aku cemburu ... Sunni itu keren sekali!”


“Aih! Kau ini! Aku terharu kau setuju!” kata Sanaya sambil melihat-lihat ponsel. Tiba-tiba gadis itu berteriak sambil menepuk keningnya.


“Mai! Astaga! Dia keterlaluan!”


“Apa!” tanya Maisara yang sedikit terkejut.


Sanaya menunjukkan pada sahabatnya sebuah foto tangan perempuan dan laki-laki dalam suasana pernikahan. Maisara tahu tangan pria itu adalah milik suaminya.


Foto itu terlihat di ambil dari kejauhan, tanpa menunjukkan wajah dan badan mereka. Hanya tangan yang saling bertaut dengan motif cincin yang sama.


Selain satu akun itu, yang meng-upload sebuah foto, ada sebuah wawancara dalam satu tayangan life streaming yang menunjukkan Raina memakai gaun pengantin. Ia mengakui kalau sudah menikah suaminya adalah Harlan Mahespati Prawira.


Maisara mengepalkan tangan dan urat lehernya seakan menegang, sedang jantungnya berdetak lebih cepat. Ia sebenarnya ingin berteriak dan mengumpat saat itu juga, tapi tidak ia lakukan karena Sanaya ada di hadapannya.


Haruskah aku menangis lagi kali ini?


Maisara kesal dan amarah memenuhi rongga di kalbunya. Bagaimana tidak? Ia menikah dengan lelaki yang sedang koma, dan diminta untuk merahasiakan pernikahannya. Bahkan, cincin pernikahannya disematkan oleh ibu mertua. Ia menahan diri tidak membicarakan keburukan Harlan, dan tidak mengumumkan siapa dirinya di hadapan semua orang. Namun, wanita lain bisa melakukannya! Ini tidak adil!


Tiba-tiba Maisara mual, dan ia segera berlari ke toilet umum menumpahkan semua isi perutnya di wastafel. Sanaya mengikutinya dari belakang dan ia mengoleskan minyak kayu putih, di tengkuk sahabatnya, sambil memijiti dengan lembut.


“Apa kau masuk angin?” Tanya Sanaya, ia terlihat khawatir.


Maisara hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan mencuci wajah serta mulutnya dengan air. Gejala seperti itu selalu ia rasakan setiap kali mengalami sesuatu, yang menyakitkan dan memalukan. Anak dalam rahimnya ikut merasakan apa yang dirasakan ibunya.


“Apa kau pernah menyerahkan dirimu pada laki-laki?” tanya Sanaya, secara tiba-tiba, saat mereka keluar dari toilet.


“Apa maksudmu?” Maisara balik bertanya sambil mengusap mulutnya dengan tisu.


“Mungkin kau hamil!”


❤️❤️❤️❤️


"Jangan lupa Like"