
Bersabar Selama Tiga bulan
“Ya, kami baik. Sebentar lagi juga sampai di rumah!” jawab Lana dari ujung telepon.
“Oh benarkah? Jadi, tidak ada insiden apa pun di taman kota?”
“Tidak! Eum ... sebenarnya ada sedikit kejadian tidak pantas tadi, tapi tidak masalah! Aku akan ceritakan nanti.”
“Baiklah, cepat pulang, hati-hati!”
“Tentu!”
Telepon ditutup setelah pembicaraan itu.
Sesampainya Lana di rumah, ia menceritakan hal memalukan yang dilakukan oleh seorang laki-laki aneh, kepada semua orang yang ada di ruangan itu. Ia mengakui jika tadi sempat terjadi sebuah insiden di mana bayi Mahes dibawa oleh seseorang pria tanpa izin.
Saat itu Daina sedang sendiri karena Lana pergi untuk membeli permen kapas. Namun, ia segera meninggalkan penjual permen kapas begitu mendengar suara nenek Mahes itu berteriak.
Dainah tampak sedang berdebat dengan seseorang yang tengah menggendong bayi Mahes secara paksa. Suasana dan keadaan di tempat itu cukup ramai, hingga seseorang tidak akan berbuat gegabah dengan menculik bayi secara terang-terangan.
Lana kemudian mengejar orang itu di tempat yang kebetulan tidak terlalu jauh, dan ia berhasil mendapatkan bayi Mahes kembali.
“Kakian tahu apa yang dikatakan pria itu saat aku memergokinya?” tanya Lana di tengah-tengah ceritanya.
“Apa?” tanya semua orang.
“Dia hanya mau berfoto dengan Mahes!”
“Haha!”
Serentak semua tertawa, karena mereka merasa wajar kalau seseorang ingin berfoto dengan seorang pria tampan, meskipun itu anak bayi.
Jadi, foto itu hanya diperlukan oleh Sahida untuk menekan Maisara agar mau menuruti keinginannya. Padahal, selain karena tidak pandai, penculik itu kalah oleh Lana hingga ia gagal.
Meisarah merasa lega karena ia mendapati anaknya baik-baik saja. Semua karena Lana yang bisa dipercaya sebagai penjaga. Apalagi ia yakin kalau temannya itu tidak mungkin membiarkan anaknya dianiaya oleh seseorang. Perempuan itu memiliki kemampuan bela diri yang cukup bagus, selain pemberani, ia juga sayang pada Maisara yang dianggap sebagai penolongnya. Jadi, ia pasti menyayangi Mahes juga.
Hal yang melegakan juga bagi Maisara adalah, saat mengetahui bahwa Sahida ternyata hanya menguji kesabarannya, dan tidak serius tentang penculikan Mahes. Nyali perempuan itu tidak sekuat yang ia kira. Untung saja ia sudah mengambil sikap yang tepat, untuk tidak terprovokasi oleh permintaannya yang akan sangat merepotkan jika dilakukan.
Sementara itu di villa, Harlan tampak serius saat membaca semua pesan, juga beberapa foto yang dikirimkan kepadanya. Semua berita di ponsel itu tentang segala aktivitas yang dilakukan oleh Maisara. Ia mengepalkan tinju sambil menatap foto itu nanar. Ia tak berdaya.
“Dia pasti membenciku ...,”keluhnya seorang diri. Ia menatap kakinya yang di perban dan di beri pengaman. Iya tidak bisa bergerak ke mana-mana karena kondisinya itu.
Ponselnya ikut hancur saat ia terjatuh hingga ia belum bisa menghubungi istrinya sampai saat ini.
“Ingat, bersabarlah satu pekan lagi, biar kakimu sembuh benar, baru kau boleh pergi ke Aspal, aku akan ikut bersamamu nanti,” pesan Wendy berulang kali, wanita itu terus tinggal di villa Harlan sejak anaknya keluar dari rumah sakit. Setelah dua bulan melihat anak itu terbaring di ruang ICU perasaannya sudah hancur lebur, seolah dirinya yang ikut menderita. Lalu, ia harus menjaganya dengan baik.
Wendy sengaja melarang Harlan untuk pergi bertemu Maisara, sebagai memotivasi agar ia segera pulih. Seandainya ia mengizinkan anaknya menemui wanita itu, atau membawa Maisara ke villa tentu semakin membuat Harlan akan mengabaikan rasa sakitnya, demi melakukan sesuatu, hingga membuatnya justru lebih lama sembuh.
Kakinya patah, sebagai harga yang harus dibayar untuk kematian Hansen, dan akhirnya masalah di antara mereka benar-benar selesai. Pria yang putus asa itu telah membuat Harlan kembali mengalami sakit, seperti saat dirinya koma. Itu peristiwa naas kedua, setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawa. Semuanya disebabkan oleh pria yang menyukai Raina. Padahal, Harlan tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya.
Raina menjadi gila, demikian kabar yang Harlan dengar dari desas-desus yang ramai di perbincangkan waktu itu. Harlan tidak peduli, tapi setidaknya ia merasa tenang, tidak akan ada wanita yang mengganggunya lagi. Bahkan, soal anak Raina, ia tidak peduli apakah bayi itu masih hidup atau mati.
Penyakit mental atau kegilaan yang dialami Raina, disebabkan oleh ibunya terus menerus menekan dan menyalahkannya atas kematian Hansen. Ia kini tidak memiliki siapa pun, sedangkan ia tidak bisa pindah ke lain hati. Sementara anaknya tidak ada lagi, padahal anak itu yang kelak akan ia pergunakan untuk meminta haknya pada Harlan. Namun sekali lagi nasib baik tidak berpihak padanya.
Sekarang, Harlan tengah berada di bawah pengawasan ibunya dengan ketat. Patah tulang kakinya memang hanya sedikit, tapi kalau tidak diawasi dengan ketat, maka lelaki itu bisa semaunya.
Pria itu susah diatur dan keras kepala, sedangkan Wendy, sebenarnya wanita yang penuh otoritas atas anaknya, tetapi lebih banyak mengalah demi kedamaian. Berbeda dengan saat ini, ia menampakkan otoriternya di hadapan pria yang kakinya patah demi kebaikan juga.
Satu pekan kemudian, seperti ucapan Wendi yang ingin pergi bersama dengan Harlan untuk menemui Maisara di kota Aspala. Namun, wanita itu gagal ikut karena ia justru yang jatuh sakit, encok di kakinya kambuh. Terpaksa ia mengurungkan niatnya, karena tidak bisa berjalan dan hanya duduk di kursi roda.
Wanita itu sampai menangis tersedu-sedu ketika melihat Harlan—anaknya, sudah berdiri, sambil memegang erat tangannya untuk menenangkan agar ia berhenti.
“Sudahlah Bu, aku berjanji akan membawa dia kembali ke sini!”
“Baiklah, tapi kau harus bersumpah akan membawa cucuku juga walau kamu tidak suka!”
“Tentu, aku akan membawanya!”
Harlan berjalan meninggalkan ibunya, menaiki helikopter dan kemudian ia benar-benar pergi meninggalkan wanita yang masih menangis itu, untuk menemui Maisara.
Ia sudah banyak bersabar kali ini, dalam menghadapi sakit dan juga mendengarkan omelan ibunya, setiap kali ia berbuat sesuatu yang tidak disukai wanita itu di rumah.
Pengendalian emosionalnya juga sangat baik sejak mengenal Maisara. Bahkan, ia tidak lagi marah saat Wendy memperlihatkan foto anaknya, yang ia dapatkan dari beberapa orang yang sengaja dikirim untuk mengawasi Maisara.
Pertama kali melihat foto bayi Maisara, ia mencibir dan memalingkan muka. Walaupun, ibunya berulang kali mengatakan jika wajah Mahes, sangat mirip dengan dirinya ketika masih bayi, tapi ia terlihat sangat tidak peduli.
Bagaimana bisa mirip padahal aku tidak pernah membuatnya secara langsung dengannya, begitu pikir Harlan pada dirinya sendiri.
❤️❤️❤️❤️