
Semalaman Menahan Rindu
Rapat pun bubar setelah presiden direktur mengetuk palu. Ia memberi keputusan pengurangan harga, khusus untuk Hansan Foundation saja.
Fedi mengejar Harlan yang ke luar meninggalkan rapat dengan cepat, ternyata bos-nya itu sudah sampai di pintu kaca lobby gedung. Ia sudah berhasil meredakan emosi serta menenangkan pikirannya.
“Harlan, aku tahu uangmu banyak, tapi ini tentang industri perusahaan kita ... kau akan merusak reputasimu kalau memberikan diskon sebesar itu, hanya kepada Hansan Foundation saja.” Fedi berbicara untuk mengajak Harlan berpikir realistis. Dan biasanya, Harlan akan berpikir dan bertindak sangat logis di atas segalanya, dalam urusan bisnis.
“Aku tidak peduli soal itu!” katanya.
“Bukankah itu artinya kau tidak adil? Apa kau tahu siapa mereka, sampai kau memberinya diskon sebesar itu?”
Harlan sedikit ragu untuk tidak menjawab pertanyaan Fedi. Namun, keyakinannya bertambah mengenai siapa pemilik Hansan Foundation di distrik Barat.
Setelah melihat tanda tangan di poster itu, Harlan sempat memikirkannya dan ia tercengang begitu menyadari jika tanda tangan yang dilihatnya adalah, milik Maisara. Dalam hatinya berbunga-bunga karena yakin Maisara tidak bisa melupakannya, hingga membuat sebuah sketsa tokoh komik yang jelas-jelas mirip sekali dengan wajahnya.
Istriku itu ternyata benar-benar berbakat! Aku sangat punya alasan untuk menemuinya!
Tiba-tiba Harlan menoleh pada Fedi, dan ia tersenyum lebar, “Apa menurutmu aku sangat tampan dan mirip dengan pendekar yang ada di zaman para Kaisar?” katanya sambil menaik turunkan alisnya.
Seketika Fedi mengerutkan kening, ia heran, apalagi yang terjadi dengan Harlan kali ini, pikirnya. Namun, mau tidak mau ia mengangguk tanda setuju, sebagai lelaki, ia pun tidak memungkiri kalau Harlan memang tampan.
“Ya, bisa dibilang seperti itu! Bahkan kau cocok sekali menjadi kaisarnya dan memiliki selir di mana-mana!”
Harlan tiba-tiba tergelak, suara tawanya terdengar seperti bukan Harlan yang biasanya.
“Telepon divisi transportasi, minta mereka menyiapkan helikopter untukku sekarang juga!” katanya kemudian kepada asisten.
“Kau akan pergi ke mana pakai helikopter? Apa aku boleh ikut?” tanya Fedi, seraya mengikuti langkah Harlan.
“Urus Mahespati, kalau sudah selesai baru kau boleh ikut!” sahut Harlan sambil melangkahkan kakinya ke mobil, yang sudah siap membawanya kembali.
Dia akan menunggu jemputan helikopternya di atas gedung Mahespati Industries.
Fedi berdecap keras sambil bergumam, “Kapan urusan Mahespati akan selesai? Dia akan terus ada setiap hari, seperti bergantinya malam dan siang, tidak akan berhenti kecuali dunia ini hancur!”
Helikopter datang ke atas roof top gedung Mahespati setelah 30 menit kemudian, dan Harlan langsung meminta pilot untuk membawanya pergi ke lokasi Hansan Foundation berada. Namun, setibanya ke distrik Barat, waktu sudah larut malam hingga ia harus mencari hotel untuk menginap. Ia tidak mungkin menemui gadis itu malam ini.
Semalaman menahan rindu, Harlan kembali mengingat masa di mana ia melihat Maisara yang dengan tulus ikut melakukan terapi padanya. Ia memang tidak merasakan apa-apa, tapi ia bisa melihat semuanya dari kamera pengawas di kamar, yang masih ia simpan sampai sekarang.
Mengingat mereka sekarang berada di langit yang sama, ingin rasanya ia berlari ke sana. Ia bisa melihat gedung percetakan Maisara dari jendela hotel yang ia sewa. Itu adalah bangunan yang cukup besar, meskipun tidak terlalu megah. Kalau bukan karena waktu, mungkin ia sudah memeluk istrinya, sekarang juga.
Harlan memesan salah satu kamar hotel yang berada paling atas, yang terdapat di pusat perindustrian Kota Aspala. Dari kamar itu ia bisa menikmati pemandangan di gelapnya malam dan hanya diterangi lampu di mana-mana.
Keesokan harinya Harlan memakai pakaian terbaik demi terlihat menawan di mata Maisara. Ia menyewa mobil bagus milik seorang konglomerat setempat yang menjadi kenalannya.
Pria itu langsung menemui Maisara di kantornya, tak lupa ia mengenakan masker dan kacamata hitam, untuk menutupi sebagian wajahnya. Semula Maisara tidak tahu siapa orang yang masuk begitu saja tanpa meminta izin darinya.
Kedatangan Harlan, sudah di atur sebelumnya oleh sang asisten, yang bernegosiasi dengan para penjaga dan petugas administrasi gedung. Mereka mengaku sebagai tamu penting, yang akan mengurus pesanan percetakan itu. Jadi, ia bisa melenggang dengan tenang ke tempat istrinya.
“Siapa kau? Sembarangan saja masuk!” tanya Maisara.
Saat itu, ia tengah membuat sketsa dan seorang pria masuk tanpa mengetuk pintu, lalu kembali menutupnya setelah mereka hanya berdua saja.
“Ini aku!” kata Harlan sambil membuka masker dan kacamata hitamnya. Ia berjalan mendekati Maisara sambil meletakkan dua benda itu di meja.
Maisara sangat terkejut melihat pria yang ia hindari selama ini. Tiba-tiba ia merasa dunia begitu sempit bagi mereka berdua. Ia segera berdiri dengan gugup dari kursinya dan, berjalan mundur ke arah dinding. Ia sedikit takut juga sekaligus salah tingkah. Ia lupa kalau Harlan memiliki kemampuan seperti itu dalam mencari seseorang. Tentu saja dirinya akan mudah sekali ditemukan.
“Kamu? Untuk apa kamu ke sini? Keluar!” tanya Maisara heran, dengan deburan jantung yang bertubi-tubi, kuat sekali. Ia gugup dan linglung dengan sekujur tubuh yang tiba-tiba gemetar hebat.
Maisara susah-susah menjauhinya selama ini, tapi mereka akhirnya bertemu juga di tempat yang paling ia hindari, dan tidak ingin semua pegawainya tahu siapa laki-laki itu.
“Jangan kuatir aku sudah menutup wajahku biar rahasiamu tidak terbongkar di depan pegawaimu!” kata Harlan dengan melukis senyum jahil di bibirnya.
“Memangnya rahasia apa yang aku simpan? Kamu ini sok tahu!”
“Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang kamu jadikan tokoh komik itu, bukankah itu wajahku?” Harlan bertanya penuh percaya diri.
❤️❤️❤️❤️