Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 53


Semakin Kuat


Tok tok tok! Suara ketukan pintu semakin keras terdengar.


“Siapa sih? Berisik!” kata Maisara sambil melangkah dengan cepat ke arah pintu. Begitu terkejutnya gadis itu saat ia membuka pintunya ia melihat Harlan berdiri dengan gagah di hadapannya.


“Kau?” tanya Maisara.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Harlan, terlihat khawatir. Ia menatap Maisara dari ujung rambut sampai ujung kaki, memastikan wanita itu baik-baik saja dan tidak berniat pergi.


“Untuk apa kemari? Pergi! Kami tidak terima tamu!” pekik Maisara, sambil melotot penuh kebencian.


Pria itu bergeming, pandangan di depannya membuat hatinya terenyuh. Bagaimana tidak? Ia melihat Maisara matanya bengkak, karena bekas menangis terlalu lama, suaranya saja masih bindeng karena hidung tersumbat ingus. Rambut dan pakaiannya kusut seperti tidak diganti dari pagi.


“Apa kau tidak menawariku masuk?” Harlan bertanya lagi, sambil melirik ke dalam.


“Tidak!” Maisara berteriak, lalu ...


Blam!


Suara pintu ditutup dengan keras dari dalam, tepat sebelum Harlan sempat melangkah. Hampir saja daun pintu itu mengenai hidungnya yang mancung.


“Siapa yang datang, Haya?” teriak Daina dari dalam, saat ia baru keluar dari toilet, dan mendengar pintu di banting dengan sangat keras.


“Orang salah alamat, Bu!”


“Tapi, kenapa harus dibanting, bagaimana kalau pintunya rusak?”


“Dia menganggap rumah ini rumahnya!” kata Maisara asal, sambil melangkah ke kamar, dan kembali menangis. Ia merasa telah di perlakukan tidak adil.


“Oh begitu.”


Daina membiarkan kelakuan Maisara agar anak perempuannya itu merasa lega setelah menangis sampai puas. Baginya, menangis itu boleh, sekedar untuk meluapkan perasaan sampai tidak ada lagi kesedihan yang tertinggal di benaknya.


Hari itu Daina sangat sibuk karena harus mengasuh dua anak, sampai lupa membuang sampah. Ia melangkah ke dapur untuk mengemas semua sampah sesuai golongan seperti biasa, lalu memakai sarung tangan untuk menjinjingnya keluar. Ia terkejut saat membuka pintu, ada seorang pria berdiri di sisi pintu sambil bersandar.


“Oh! Astaga! Mau mencari siapa?” kata Daina sambil mengusap dadanya untuk menenangkan hati yang terkejut.


“Selamat malam!” kata Harlan, sambil menunduk sopan, “Saya mencari Maisara Hayati, apa dia ada di dalam?”


Daina menganggukkan kepalanya sambil berpikir kalau pemuda yang ada di hadapannya adalah suami anaknya. Wanita itu menilai Harlan dengan pandangannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dugaannya benar, Harlan tidak seburuk yang dikatakan Maisara. Apalagi di tampan, sulit bagi wanita untuk tidak jatuh hati pada pria seperti dirinya.


“Tunggu sebentar di sini, aku akan membuang sampah!” Daina berkata sambil berlalu, tapi seorang pengawal mengambil kantong sampahnya dan ia yang membuang benda itu ke tempatnya.


“Terima kasih!” kata Daina pada pengawal.


Lalu, ia kembali menghadap Harlan, “Apa ada yang ingin kau bicarakan? Akan kusampaikan nanti, aku Ibunya!” Daina berkata sambil melepas sarung tangan yang tadi dipakainya. Ia kembali menatap Harlan yang cukup tinggi, karena tubuh Daina tergolong mungil.


Mereka berdiri di dekat pintu saat bicara, dan pintu rumah Daina kebetulan menghadap ke area luar gedung. Saat itu gerimis mulai turun sehingga airnya memercik sampai ke teras yang sempit. Angin berembus perlahan dan petir di langit tiba-tiba bersahutan, seperti mendukung suasana hati Maisara yang mendadak mendung.


“Tidak ada,” sahut Harlan singkat, sebenarnya ia ingin bicara banyak hal, tapi bukan pada Daina.


Harlan diam, Daina pun melanjutkan ucapannya.


“Dia terus menangis dan aku tidak tahu kenapa? Jadi, beri dia waktu sebelum bicara ... pergilah! Tidak ada gunanya terus berdiri di sini sekarang!”


Setelah itu Daina masuk kembali ke rumah dan saat menutup pintu, ia masih melihat Harlan bertahan di tempatnya.


Harlan tetap berdiri sampai lewat tengah malam dan hujan di luar menjadi semakin deras, ia masih berharap Maisara membuka pintu dan mau bertemu dengannya. Ia mengirimkan pesan beberapa kali pada Maisara, menanyakan bagaimana keadaannya. Kalau ia mendapatkan satu balasan yang mengatakan kalau wanita itu baik-baik saja, itu sudah cukup baginya.


Pengawal mengumpat dalam hati, pada dua orang yang sama-sama keras kepala itu. Ia mengingatkan Harlan, kalau kakinya masih memiliki keterbatasan dalam kurun waktu beberapa jam. Namun, pria itu justru di usir pergi. Bagaimana ia mau pergi kalau tuannya sendiri masih tetap berdiri, meski pakaiannya basah kuyup.


Pengawal berteduh di sisi dinding yang lain yang tidak terkena hujan, sedangkan asistennya tetap berada di mobil. Begitu menjelang subuh, barulah dua orang itu mendapati Harlan sudah tergeletak dilantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mereka membawanya ke rumah sakit, menemui dokter yang biasa menangani majikan mereka.


Setelah berada di kamar perawatan yang biasa digunakan Harlan, pakaian pria itu diganti dengan baju rumah sakit.


“Haha! Dia mengalami perkembangan yang bagus!” kata dokter setelah memeriksa Harlan dan menemukan kalau pasiennya sudah bisa berdiri selama itu.


“Buat dia terus bermasalah dengan wanita itu, mungkin akan lebih cepat pulih!” kata dokter lagi, sambil memeriksa selang infus.


“Tapi sekarang, biarkan dia istirahat, besok dia akan baik-baik saja!” Dokter berkata sambil menoleh pada pengawal, “Kalian makan sana! Wajah kalian pucat. Beri aku nomor Maisara, aku akan menjalin hubungan dengannya dan kita bisa lihat Harlan akan semakin kuat! Haha!”


Pengawal berwajah masam, sedang asistennya menunjukkan ketidak sukaan, saat mendengar kelakar dokter. Kalau Harlan bermasalah dengan Maisara, mereka yang akan repot karenanya.


$$$$$$$$$


Maisara bangun tidur keesokan harinya dengan wajah sembab dan rambut yang kusut, ia melihat dua anak balita yang di titipkan pada ibunya sedang bermain, mereka menangis saat melihat Maisara.


“Kau menakuti mereka, mandilah!” kata Daina sambil menenangkan dua anak itu, ia membawa mereka ke dapur untuk diberi makanan dan susu.


Maisara berbalik ke kamar, belum melihat pantulan dirinya di cermin, wajahnya mirip hantu Kali Cimulung. Ia ingat cerita lama orang kampung, kalau sungai besar yang berair keruh dan berada tak jauh dari rumahnya, itu ternyata berhantu. Kalau hantu yang dilukiskan orang mirip dengan keadaan dirinya sekarang.


Mata dengan lingkaran hitam, wajah pucat tapi hidungnya memerah, bibirnya pecah-pecah karena sering di gigit dan rambutnya seperti kribo tak beraturan.


Maisara memalingkan muka, ia melakukan cara-cara memotivasi yang diberikan Daina. Di depan cermin itu ia duduk santai, lalu, memejamkan mata sambil menepuk dada sebelah kiri, di mana jantung berada. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali membuka mata dan melihat pantulan dirinya, sambil tersenyum. Ia memberi senyum pada dirinya sendiri.


Maisara menepuk dadanya perlahan, sambil bergumam lirih, “Aku cantik ... aku berharga ... aku berhak bahagia ... dan aku hebat, aku kuat ...!” dan ia mengucapkannya secara berulang, sampai ia lega. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi.


(Teman-teman bisa pakai cara ini buat memotivasi diri kalau lagi sedih yaa 😊😊😊 ini tips dari psikolog, loh)


Maisara melihat ponselnya yang mati setelah ia selesai mandi dan setelah menyambungkan benda pipih itu pada kabel penambah daya, ia duduk di depan meja rias ibunya.


“Bu! Apa tidak ada warna lipstik yang lain?” tanya Maisara sambil melihat dua lipstik berwarna merah menyala. Ia harus mengaplikasikan pewarna bibir itu tipis-tipis saja kalau tidak ingin terlihat, seperti habis meminum darah segar.


“Pakai saja yang ada!” teriak Daina dari dapur, menjawab pertanyaan anak perempuannya.


Maisara mulai berdandan dan merapikan rambut, ia memakai pakaian lama yang ada di lemari ibunya. Ia tersenyum melihat penampilannya yang sederhana, dengan polesan lipstik tipis, dress warna coklat muda selutut dan jam tangan kesayangan hadiah dari sang ayah sebelum ia menikah.


“Bu, ayo kita belanja!”


❤️❤️❤️❤️