
Part Tambahan (Uwu 1)
Maisara dan Harlan terus bergandengan tangan ketika mereka keluar dari ruangan pesta itu. Bahkan, sampai mereka memasuki mobil pun tetap menjadi pusat perhatian. Sanaya dan Sunni, melepas kepergian mereka, dengan tatapan penuh rasa haru.
Sunni tahu bagaimana awal pernikahan dua orang itu, ia pun tak menyangka jika Harlan bisa dengan mudah menunjukkan rasa cintanya. Namun, ia tetap merahasiakannya dari media, siapa Maisara sebenarnya.
Beberapa spekulasi hadir ke permukaan beberapa akun gosip yang menangkap kebersamaan dua sejoli itu, mereka menebak jika wanita yang dibawa Harlan ke pesta pernikahan sahabatnya hanyalah seorang rekan atau calon pasangan yang belum tentu akan bertahan lama. Mereka menayangkan berita seperti itu, karena tidak berhasil mewawancarai keduanya.
Harlan duduk di kursi penumpang belakang, sambil memeluk bahu dan menggenggam tangan Maisara. Sementara asisten melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang. Hari ini adalah pertemuan pertama Maisara dengan asisten itu sejak terakhir mereka bertemu, dan ia menjadi sopir pribadinya. Beberapa bulan yang lalu, atau tepatnya sebelah Maisara pindah.
Harlan menaikkan pembatas antara ruang sopir dan penumpang.
“Apa yang kalian bicarakan tadi, aku lihat kalian selalu saja berbisik-bisik!” Harlan bertanya untuk meluapkan perasaan cemburunya, saat ia melihat Maisara berbicara dengan Sanaya.
“Dengan siapa, Sanaya maksud kamu? Bukan apa-apa ... kami hanya membicarakan tentang malam pertama, dia tanya sama aku gaimana malam pertama kita?” kata Maisara datar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang ia bicarakan dengan Sanaya, sebab itu sama saja membuka kembali luka lamanya.
CK!
Harlan berdecap karena tidak percaya, ia pikir Maisara hanya mencoba memancing emosinya, sebab pembicaraan Maisara dan Sanaya, seperti mencoba mengungkit kembali kebodohannya.
“Mana ada bicara hal yang memalukan begitu?” katanya.
“Makanya, kan? Aku bilang tidak ada, ya tidak ada!”
Ya, maklum karena memang aku tidak mengalami pernikahan seperti orang pada umumnya. Jadi, tidak ada malam pertama setelah pesta pernikahan.
Harlan pun memiliki kekecewaan yang sama, saat mulai jatuh cinta pada Maisara. Ia menyesal mengapa tidak memulainya dari awal kebersamaan mereka.
Akh! Tapi untuk apa menyesalinya, yang penting bagaimana membahagiakan istriku mulai sekarang!
“Apa kamu menginginkan pesta pernikahan seperti itu dan memakai gaun pengantin juga?” tanyanya kemudian.
“Apa kita boleh melakukannya? Pakai gaun pengantin, atau punya baju seperti putri raja itu impian semua wanita!”
“Hmm ....” Harlan hanya bergumam, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi, aku rasa tidak perlu! Rasanya memalukan memakai pakaian pengantin padahal kita sudah punya anak!”
“Apa salahnya? Ayo! Kita pakai baju pengantin nanti waktu hari pernikahan kita!”
Maisara tertawa, membuat Harlan bertanya, “Kenapa kamu tertawa?”
Maisara lalu menjawab, “Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya malu saja, lagi pula, tanggal pernikahan itu sudah lewat!”
Harlan diam dan melemparkan pandangan ke samping jendela, ada perasaan bersalah hadir di hatinya. Ia tidak ingat kapan tepatnya Wendi menikahkan mereka. Apalagi saat itu ia sedang koma.
“Maaf ...,” gumam Harlan lirih, hampir tak terdengar.
Maisara melihat perubahan di wajah suaminya. Ia tahu Harlan sudah berusaha sebaik mungkin, untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Lalu, ia mengulurkan tangannya untuk memegang rahang agar wajah pria itu menghadapnya.
“Bagiku tidak masalah hari pernikahan itu sudah lewat atau belum. Kamu ingat, kan? Aku dan Sanaya setiap hari selalu merayakan hari ulang tahun, tidak peduli hari lahirnya siapa, kamu pikir itu kurang kerjaan, tapi nyatanya setiap hari adalah awal dari segalanya dilahirkan, termasuk tanggal pernikahan kita!” ucapan Maisara. Walau sederhana, tapi bisa menghibur hati suaminya.
Seperti itulah bagi Maisara dan Sanaya saat masih kuliah, setiap hari adalah awal dari segalanya di mulai. Itu artinya mereka harus berusaha yang terbaik untuk mewujudkannya dengan baik, sebab saat matahari tenggelam, maka segala sesuatu itu akan berakhir. Belum tentu akan menemui waktu yang sama di keesokan harinya.
Lalu, Maisara mengatakan secara sejujur, bagaimana perasaannya ketika menikah. Saat ia harus berdampingan dengan orang yang terbujur kaku di atas tempat tidur, dan orang yang seharusnya menyelipkan cincin kawin itu tidak bisa apa-apa. Bahkan, setelah malam pertama mereka, pun tidak melakukan hal seperti pengantin pada umumnya. Tidak ada yang bisa dilakukan olehnya, selain memeluk tubuh sang suami yang diam, tapi hangat.
Harlan memejamkan mata, merasakan bagaimana perasaan Maisara dari setiap cerita yang diungkapkannya, pada saat pernikahannya dulu. Bukan hanya Maisara yang menyesal, tetapi dirinya juga. Namun, ia tidak bisa menyalahkan siapa pun termasuk ibunya. Kalau pun bukan karena Wendy yang menikahkan mereka, mungkin ia tidak akan pernah menemukan cinta sejatinya.
Dua nenek si bayi pun tidur sama pulasnya dengan cucu mereka, di kasur lantai yang sengaja mereka hamparkan, di tengah-tengah ruang yang terdapat televisi.
Harlan melepaskan sepatu dan jasnya, lalu berbaring sambil menunggu Maisara yang masih berada di kamar mandi.
“Kemarilah!” kata Harlan begitu Maisara sudah keluar dan masih mengenakan gaun pesta, yang melekat indah di tubuhnya. Itu adalah dress pesanan dari seorang desainer ternama. Harlan sengaja memesan pakaian mereka dengan warna senada.
“Apa kamu lelah?” tanya Maisara, sambil mendekati Harlan yang berbaring di atas tempat tidur. Ia tahu kalau tubuh suaminya itu sudah dua kali terhempas dengan keras dalam tragedi. Ia bukan kucing yang memiliki sembilan nyawa, hingga jika mengalami hal seperti itu lagi, tidak akan ada yang tahu apakah ia bisa kembali bertahan atau tidak.
“Sekarang, ceritakan padaku ...,” kata Harlan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Maisara dengan satu tangan, lalu menariknya secara perlahan untuk mendekat.
“Cerita apa lagi?” kata Maisara sambil mengusap pipi suaminya dengan lembut.
Harlan mencium keningnya, lalu menjawab, “Gimana perasaan kamu, waktu mijit aku?”
“Akh! Aku tidak mau!” sambil menarik tangannya dari pipi Harlan dan pindah ke dada sambil mendorongnya. Ia ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya atau setidak-tidaknya, tubuh mereka tidak terlalu rapat.
“Kenapa?” Harlan berkata sambil mengeratkan pelukannya.
“Tidak ada, aku hanya berharap kamu bangun, itu saja!”
“Kamu tidak berharap aku mati dan mendapatkan warisanku?”
Maisara tertawa.
“Aku bukan Roni dan Nela! Aku tahu ... tidak akan mendapatkan warisan kecuali aku hamil anak kita, waktu itu aku hanya heran, bagaimana bisa hamil kalau kamu tidak bangun!”
Maisara duduk, lalu ia memijat pelan punggung Harlan yang berbaring miring. Itu pijatan yang pernah ia lakukan sesuai petunjuk terapis dan perawat yang mengajarinya. Ia berkata jujur bahwa, ia memang mengharapkan kesembuhannya.
“Aku hanya berpikir, bagaimana rasanya kalau dipeluk laki-laki seperti kamu, makanya aku yang peluk kamu duluan ... kamu harusnya tahu, kamu hangat, padahal tidak bergerak, yang dingin itu hanya bagian telapak kaki!”
Maisara berkata sambil bergeser ke arah kaki dan memijat telapaknya dengan cukup keras, karena bagian itu memang membutuhkan pijatan dengan tekanan kuat.
“Apa sakit?” tanya Maisara saat ia merasakan kaki Harlan bereaksi.
“Tidak terlalu sakit!” jawab Harlan.
“Tapi kamu dulu tidak merasakan apa-apa, padahal perawat dan aku menggunakan alat pemijat khusus dari besi bulat, itu bisa menekan kuat tapi tidak melukai!”
“Oh!” gumam Harlan, kemudian ia duduk dan melihat tangan Maisara yang memerah setelah memijat kakinya. Ia meraih tangan istrinya itu dan menciuminya.
“Sudah cukup, nanti tanganmu sakit!” katanya.
“Tidak sama sekali!” sahut Maisara, sambil tersenyum malu diperlakukan hangat seperti itu.
“Lalu, apa kamu juga pernah menciumiku?” tanya Harlan.
Seketika pipi Maisara memerah dan hangat, ia tidak tahu apakah akan mengakui atau tidak. Namun, ia tahu kalau Harlan sudah melihatnya melalui kamera waktu itu. Jelas sekali ia pernah menciumnya beberapa kali, bahkan dalam keadaan tanpa busana. Bukan hanya itu ia juga pernah menepuk-nepuk pipi, mengoles wajahnya dengan krim malam, serta memulas bibirnya dengan lipstik.
Saat itu yang ia pikirkan hanyalah dugaan kalau pria itu tidak tahu. Pikiran lainnya adalah, mencoba menarik hasrat kelelakian Harlan, yang mungkin akan segera bangkit kalau diperlakukan begitu.
“Kamu kan sudah tahu lewat kamera pengawas itu!” kata Maisara.
❤️❤️❤️❤️