Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 89


Sedikit Perhatian


Harlen menarik nafas panjang mendengar ucapan istrinya dia meneruskan untuk melepas semua pakaian dan berjalan ke kamar mandi.


“Kamu tidak mengisi bak mandinya?” tanya Harlan setelah berada di dalam, ia menjulurkan kepala melalui pintu, dan dilihatnya Maisara sedang mengganti sprei.


“Tidak! Rambut kamu basah! Jadi, sebaiknya mengguyur kepalamu dengan air shower, sudah aku atur suhunya ... kalau kamu berendam di bak mandi, itu tidak akan menghilangkan air hujan yang ada di rambutmu! Kepalamu bisa pening, nanti!” kata Maisara panjang lebar.


Mendengar ucapan Maisara, Harlan tersenyum senang, ia merasa kalau istrinya itu masih memperhatikan dirinya, walau sikap dan kata-katanya sedikit ketus.


Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi, ia tidak mendapati Maisara dalam ruangan itu. Namun, tempat itu sudah rapi dan spreinya pun sudah diganti. Pakaian bersih yang dulu pernah ya kenakan di sana, tergeletak di atas tempat tidur.


Harlan memakai pakaian dan memutuskan untuk tidak mencari istrinya. Ia berpikir jika kemungkinan Maisara tidur dengan ibunya di kamar sebelah. Itu tidak masalah, yang penting ia bisa menerimanya dengan baik.


Namun, baru saja ia merebahkan diri dan hendak memejamkan mata, ia melihat pintu kamar terbuka. Tampak istrinya masuk dengan membawa sebuah nampan, yang terdapat semangkuk sup hangat untuknya.


“Makanlah dulu, biar badan kamu hangat setelah itu baru istirahat ... Aku tidur dengan ibu di kamar sebelah!” kata Maisara sambil meletakkan semangkuk sup hangat itu, di atas meja kecil yang ada di pinggir tempat tidur.


“Temani aku sebentar! Aku tidak akan makan kalau kau tidak duduk di sini!”


Aih kerjaannya memerintah saja seenaknya!


Akhirnya dua orang itu duduk berhadap-hadapan dengan satu meja yang menjadi pembatas di antara mereka. Di atasnya terdapat sup hangat yang dinikmati oleh Harlan dengan lahapnya. Ia menikmati tanpa bicara atau melihat ke arah Maisara sedikit pun.


Sementara wanita itu, sibuk memperhatikan wajah Harlan dan menikmatinya, dengan begitu kerinduannya sudah terbalaskan. Diam-diam dalam hati ia ingin menikmati ciumannya lagi, sedangkan debaran jantungnya tidak beraturan dan hanya bisa ditenangkan dengan sebuah pelukan.


“Kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi.” Harlan berkata, secara tiba-tiba mengejutkan Maisara, tapi laki-laki itu tidak meliriknya.


“Pertanyaan apa?”


“Apa kamu merindukan aku, Maisara ...?” kata Harlan lembut, sambil menghabiskan suapan terakhir dari mangkuk supnya. Namun, ia sama sekali tidak menatap sang istri yang menjadi lawan bicaranya.


Harlan pikir, kalau ia menatap mata Maisara, maka wanita itu akan memalingkan pandangannya ke arah yang berbeda. Jadi, ia pun memilih membiarkan pertanyaannya tidak terjawab, karena wanita itu enggan mengakuinya.


Itu pertanyaan yang sama yang menjebak, hingga masyarakat enggan menjawab.


Apa susahnya bilang iya?


“Kenapa kamu tidak makan?” tanya Harlan masih tidak menatap Maisara.


Wanita itu gugup lalu menjawab sekenanya, “Eum ... sudah, aku sudah makan tadi dengan anak-anak!”


Harlan tidak berkomentar, lalu, ia menyudahi makan malamnya yang singkat, sambil mengusap mulutnya dengan tisu. Setelah itu ia berdiri, sedangkan tatapan Maisara masih mengikuti gerakannya.


Hal itu membuat Harlan gereget atau gemas. Ia segera menarik tangan Maisara, membawanya dalam pelukan erat, seolah-olah ia ingin membenamkan tubuh itu menjadi satu ke dalam dirinya. Dua insan yang sama-sama merindu itu melepaskan deburan nafas yang sesak, karena mereka saling mengimpit dalam diam.


“Terima kasih ... Maisara, sub buatanmu enak ...!” kata Harlan, suaranya rendah di telinga Maisara.


Saat itu Maiara ingin mengelak, dengan mengatakan jika sup itu buatan ibunya, tetapi sebelum sempat ia menjawab Harlan sudah menjatuhkan ciuman di bibirnya.


Laki-laki itu pun mengalah, hingga ia mengakui perbuatannya setelah ciuman mereka selesai. Ia membisikkan kata-kata yang sulit dipercaya oleh pendengaran istrinya.


“Aku merindukanmu Maisara ...” katanya. Lalu, diam sejenak untuk menarik napas dalam, sambil menyimpan kepala di pundak istrinya.


“Aku bilang, betapa tersiksanya aku selama tiga bulan ini tanpa kamu, aku hampir mati! Aku hampir mati, Maisara, dan kakiku patah karena itu aku tidak bisa bertemu denganmu, ponselku juga hancur!”


Meisara hampir tak percaya tapi dia juga tidak mampu berkomentar apa-apa, bibirnya seolah terkunci mendengarkan laki-laki itu mencurahkan segala isi hati.


“Apa kamu percaya kalau aku bilang, aku jatuh di tebing karena laki-laki yang dulu pernah mencoba membunuhku, dialah yang sudah membuatku lumpuh di sekejur tubuh selama hampir satu tahun lebih? Lalu, kamu hadir ...,” kata Harlan membuat degup jantung Maisara semakin tak beraturan.


“Kamu tahu tidak, aku terkejut sekali waktu Ibu bilang kamu sudah sah menjadi istriku? Bagaimana tidak, karena aku baru saja membuka mata dan aku hampir tidak percaya, ada wanita secantik kamu yang mau menikah dengan pria lumpuh seperti aku! Jadi, aku berusaha menolak kamu karena aku tidak ingin kecewa, aku pikir kamu cuma mau mempermainkan aku, dan sebelum aku sakit hati aku memilih untuk menceraikan kamu lebih dulu.”


Maisara tercengang dan punggungnya tiba-tiba menjadi kaku, demi mendengar ucapan Harlan di telinganya. Udara yang keluar dari mulut pria itu, terasa di sekitar leher hingga bulu kuduknya meremang. Ia bagai terpaku di atas lantai.


Itu pengakuan atau penipuan, Maisara tidak bisa membedakannya. Namun, ia percaya.


Tiba-tiba Harlan menyudahi bicara dan ia mengangkat kepalanya dari pundak Maisara. Lalu, tersenyum sedikit. Tanpa diduga ia langsung mengangkat tubuh Maisara yang kaku ke atas tempat tidur.


Seketika Maisara tersadar dari hipno speaking yang dilakukan oleh Harlan.


“Apa yang akan kamu lakukan? Lane, kamu sudah membiusku, ya?” kata Maisara, setelah dirinya terbaring di atas tempat tidur dan Harlan pun berbaring di sampingnya. Kaki serta tangan pria itu berada di atas tubuhnya, seolah memenjarakan hingga ia tidak bisa lari ke mana-mana.


“Tenanglah Aku tidak akan melakukan apa pun padamu! Aku hanya ingin ditemani sampai aku tidur, oke?” kata Harlan, ia memahami sang istri yang sangat keras kepala.


Maisara diam, ia justru mencoba menenangkan dirinya sendiri yang justru gelisah dengan posisinya saat ini. Ia berpikir dengan diam maka akan lebih cepat membuat Harlan tidur dan itu lebih baik.


Benar saja setelah sekitar 15 menit berlalu, ia merasakan dekapan tangan pria itu, semakin mengendur sedikit. Namun, ia tidak bisa bergerak, karena kakinya masih cukup kuat mengimpit. Akhirnya Maisara hanya bisa pasrah dan mencoba memejamkan matanya juga.


Tidak berapa lama, Maisara sudah berada antara alam sadar dan tidak. Di saat yang sama, ia seperti mendengar seseorang bicara di telinganya, dengan suara lirih yang disertai suara gerakan bibir seperti mengunyah sesuatu.


“Aku mencintaimu Maisara ...!” Suara gumaman itu.


Antara sadar dan tidak pula, Maisara berkata lirih, sambil tersenyum pada seseorang yang dilihat sedang tersenyum pula, di alam nyata dan mimpinya.


“Aku juga!”


❤️❤️❤️❤️


Tersenyum dulu ya, walau Cuma satu bab 😊😊😊 jangan lupa like 👍🥰