Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 38


Dikurung Lagi


Tidak ada gunanya mengandalkan harta suami yang ingin cerai dari istrinya. Maisara tidak ingin berhutang pada Harlan seperak pun. Apalagi laki-laki itu tidak menyukai anak-anak, padahal dirinya sedang hamil, membuatnya dalam dilema. Namun, ia sudah memutuskan untuk merawat bayinya jika lahir suatu hari nanti.


Makan malam berakhir dengan pesan dan nasihat Wendi tentang kehidupan, terutama pada Maisara--menantunya. Ia berujar jika terkadang hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang manusia inginkan. Tuhan akan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya tanpa bisa dicegah. Contohnya Harlan yang lumpuh akibat kecelakaan, ia curiga ada seseorang yang terlibat hingga membuat mobil anaknya kehilangan kendali. Bahkan, sopir kehilangan nyawa saat itu juga.


“Lihat saja, mungkin orang itu menghendaki anakku mati, tapi semua tidak terjadi. Bahkan, sekarang Harlan sehat dan baik-baik saja ... Ada juga orang yang melakukan penipuan di perusahaan ayahmu, Mai! Ternyata kau bisa memperbaikinya dengan bantuan teman, itu sungguh di luar dugaan! Jadi, jangan kalah dengan ujian hidup sebelum kita benar-benar dikalahkan oleh kematian!” Begitu kata Wendi diakhir kalimatnya.


Setelah itu, semua orang yang hadir di sana, mengucapkan terima kasih dan pamit. Makan malam sangat menyenangkan dan hangat. Semua harapan terlampaui, terutama harapan beberapa anggota keluarga yang ingin tahu bagaimana sikap Maisara dengan kekayaan Harlan. Mereka benar-benar lega karena tidak perlu khawatir, Maisara tidak akan bergantung pada suaminya.


Secuil pun aku tidak akan berhutang pada Harlan, batin Maisara saat perjalanan pulang. Ia berada dalam satu mobil dengan suaminya tapi mereka seperti tidak saling mengenal satu sama.lain.


Maisara menelepon ibunya dan meminta maaf kalau malam ini ia tidak pulang karena Harlan langsung mengurungnya saat tiba di vila.


“Apa kau yakin tidak masalah di rumah itu lagi?” tanya Daina.


“Tidak, Bu! Aku baik-baik saja, aku tidak bisa melawannya!” kata Maisara sambil mengingat saat Harlan langsung menggandeng tangannya dan membawanya ke kamar di lantai dua, lalu mengunci pintunya rapat-rapat tanpa mengucapkan apa-apa.


“Kenapa kau tidak tanya kenapa dia mengurungmu?”


“Percuma!”


“Bagaimana kamar yang kau tempati?” tanya Daina, ia terdengar menghela napas berat saat bicara.


Maisara dengan antusias menceritakan bagaimana keadaan kamarnya yang jauh lebih besar dari kamarnya di perumahan Aneovile, semua perabotan yang ada di dalamnya pun bisa diganti sesuai selera, dan pelayan memberinya makanan serta mengurus semua keperluan dengan baik.


“Apa dia memberimu pakaian dari desainer juga?”


“Ya!”


Tiba-tiba Maisara seperti tersadar jika semua pakaian yang Harlan berikan dari perancang bahkan edisi terbatas Prada dan chenel ia memilikinya.


“Ibu pikir dia bukan hendak mengurungmu, tapi dia ingin menjagamu dari sesuatu, tapi dia tidak bisa mengatakannya padamu!”


“Tidak mungkin!”


“Mungkin saja, coba ingat lagi dari semua benda yang sudah dia berikan, kau pikir untuk apa seorang laki-laki menghambur-hamburkan uang? Padahal kau wanita yang tidak dia cintainya? Aku kira dia hanya takut kalau kau melakukan sesuatu yang tidak dia suka!”


“Baiklah, tapi Ibu pikir dia tidak seburuk yang kau bayangkan!”


Maisara melemparkan ponsel ke sisi tempat tidur, setelah ibunya mengakhiri panggilan. Ia merebahkan diri, karena lelah sudah melingkupi diri hingga ia lebih cepat tertidur.


Tidak ada hal yang menyita pikiran, ia sudah sangat masa bodoh dengan semua sikap Harlan. Lebih baik mendamaikan hati demi kenyamanan diri sendiri.


Sementara itu di ruang kerja, Harlan sedang bicara dengan seseorang.


“Kapan kamu pulang?”


Setelah itu, hening.


“Aku ingin kamu melakukan sesuatu, tapi ini antara kita berdua saja, jangan sampai temannya atau siapa pun tahu siapa dirimu!”


$$$$$$$$$$$


Pada dua hari berikutnya, Maisara dihubungi Sanaya kalau ada seseorang kenalannya yang ingin menawarkan bantuan.


“Ini soal pembelian ruko milikmu!” kata Sanaya di ujung telepon.


“Siapa dia?” tanya Maisara dengan antusias. Ia bicara sambil bercermin dan menyisir rambutnya, sedangkan Hara tengah menyiapkan sarapannya di meja dekat tempat tidur.


Maiasara masih menjadi seorang tawanan hingga tidak bisa ke mana pun kecuali Harlan mengizinkannya. Kali ini, mungkin tidak bisa lari lagi.


Hara melirik Nawa dan membantunya berdandan hingga gadis itu, bisa menerima panggilan dari sahabatnya, dengan leluasa. Sanaya mengajaknya bertemu, untuk membuat janji dengan seorang yang dikenalnya secara tidak sengaja dan akan memberikan bantuan modal pada Maisara. Itu sebuah kebetulan yang mencengangkan.


“Bujankah itu aneh? Dia bertemu secara tidak sengaja denganmu, tapi langsung menawarkan bantuan untukku?” tanya Maisara. Kini dia sudah duduk di meja kecil untuk menikmati sarapan.


Membeli sebuah gedung tidak bisa sembarangan, akan ada banyak pertimbangan sebelum seseorang berniat memiliki benda sebesar itu, dengan jumlah uang yang tidak sedikit pula.


“Tidak, kau akan tahu kalau dia itu lucu, aku tertarik padanya begitu dia tersenyum padaku!” sahut Sanaya sambil terkekeh keras.


“Aku tidak percaya!”


❤️❤️❤️❤️