Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 68


Aku Tidak peduli


“Apa? Hansan Foundation yang pernah bangkrut?” tanya Fedi sambil memperhatikan data para pembeli pada berkas yang ditunjukkan kepala pemasaran di atas meja.


“Bukan, mereka ada di Distrik Barat, kita akan memerlukan biaya pengiriman lebih ... Jadi, kurasa kita harus menaikkan harganya!”


“Nanti dulu soal harga kita tidak bisa memutuskan sembarangan kita perlu membicarakannya dengan pihak keuangan dan juga penyedia bahan baku.”


“Ah ya! Kau benar! Tapi anehnya aku berpikir Hansan foundation yang sekarang sama dengan perusahaan yang dulu pernah bangkrut itu, padahal tidak mungkin, kan? Hansan yang dulu dan sekarang bergerak di bidang yang berbeda, mana mungkin milik orang yang sama. Hansan ini percetakan besar, bahkan beberapa hasil karya mereka, menjadi best seller di berbagai kota!”


“Ternyata kau tahu banyak hal tentang Hansan?” Fedi berkata seraya tersenyum kecut, menyadari kepala pemasaran yang sudah sedikit tua itu, tahu perkembangan baru di bidang seni dan percetakan.


“Ya. Menurutku mereka terlalu curang!”


“Apa maksudmu?”


“Semua buku yang mereka terbitkan adalah hasil karya pemiliknya, begitu juga poster-poster yang mereka jual. Jadi, mereka tidak perlu membayar karya orang lain, untuk mendapat keuntungan besar-besaran!”


Fedi tampak berpikir keras, lalu ia menghubungi seseorang karena ia membutuhkan kepastian. Pembicaraannya dengan kepala pemasaran sudah berakhir, dan ia kini sendirian di ruangannya.


“Ada yang harus kita bicarakan. Apa kau sibuk?” Fedi menghubungi Harlan.


Saat itu Harlan sedang berada di ruangan dokter yang biasa menangani kesehatan pribadinya. Mereka duduk berhadapan, tengah membicarakan perkembangan kakinya. Meskipun ia sudah dinyatakan 70 persen normal kembali, tapi masih membutuhkan terapi beberapa kali lagi.


Harlan menghentikan pembicaraannya dengan dokter untuk sejenak menerima panggilan telepon dari Fedi.


“Apa yang penting?” tanyanya pada telepon di telinganya.


“Masalah pembelian mesin baru kita!”


“Apa ada yang aneh?”


“Tidak, tapi ada nama Hansen foundation sebagai salah satu pembeli. Apa kau tidak curiga?”


Herlan diam sejenak lalu berkata, “Apa yang harus aku curigai? Baiklah, kita bicarakan lagi nanti!”


Telepon ditutup secara sepihak oleh Harlan, dan kembali bicara dengan dokter bahwa, ia akan mencoba kembali secara rutin melatih bagian lututnya. Semula pria itu hendak melatih bagian tubuhnya dengan cara yang menyenangkan, tetapi kepergian sang istri membuatnya harus berlatih dengan cara yang biasa dan ia enggan.


“Lalu, bagaimana kabar dari temanmu, apa dia bertugas seperti yang kau katakan?”


“Ya. Ia bertugas seperti biasa, tetapi belum mendapatkan kabar apa pun dari wanita yang kau titipkan ... sepertinya wanita itu memang tidak pernah memeriksakan kandungannya di rumah sakit itu atau di tempat lain!”


Harlan terlihat kesal, mendengar ucapan dokter itu. Ia pergi dari ruang konsultasi setelah berjanji akan datang seminggu lagi di hari yang sama.


Saat Harlan keluar dari rumah sakit, ia tertegun, karena melihat seseorang yang familiar sedang menaiki kendaraan tak jauh dari mobilnya di parkiran. Walaupun sudah lama tidak bertemu, tapi ia merasa sangat mengenali sosoknya.


Harlan segera masuk ke mobil, setelah asisten membukakan pintunya.


Begitu duduk, ia memberi perintah, “Ayo! Cepat ikuti mobil yang di depan!”


Asisten menurut, dan ia menjalankan kendaraan mereka dengan hati-hati, menjaga jarak dari mobil yang sedang ia ikuti.


Sesampainya di sebuah rumah yang sederhana, mobil itu berhenti. Begitu juga dengan asisten, yang menepikan kendaraannya sesuai perintah Harlan.


Setelah si pengendara mobil ya iya ikuti itu turun, Harlan pun mengikutinya. Ia berjalan tenang di belakang pria itu dengan kedua telapak tangan berada dalam saku celana. Pengawal dan asisten berjalan pula dengan hati-hati di belakang tuannya.


Merasa dirinya diikuti, laki-laki itu pun menoleh dengan cepat. Begitu ia melihat siapa orang yang ada di belakangnya, salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Lalu, ia berdecak dengan keras.


“Hansan!” seru Harlan dengan senyum sinis yang ia lemparkan pada laki-laki di hadapannya.


“Harlan! Kebetulan sekali!” sahut laki-laki itu dengan tatapan mengejek, wajah dan postur tubuhnya tidak banyak berubah sejak terakhir pertemuan mereka, dua tahun yang lalu. Ia sengaja memancing Harlan agar mengikutinya ke sana.


“Kau berani kembali lagi rupanya! Apa kau akan mengulangi kesalahan yang sama? Aku tidak akan mengampunimu kali ini!”


“Aku kembali bukan tanpa alasan! Kau tidak bisa seenaknya menghukumku! Lihat, kau sudah sembuh, lihat dirimu sekarang!” Hansen berkata sambil menatap Harlan dari ujung rambut sampai ujung kaki, dengan pandangan mencemooh, dan ia kembali mencibir.


“Kenapa kau selalu ingin dihargai Har? Bahkan Kau tega menyakiti orang-orang di sekitarmu, hanya karena penghargaan!”


Harlan diam untuk mengoreksi dirinya sendiri, apakah benar seperti yang dikatakan Hansan.


Aku tidak pernah menuntut penghargaan dari mereka secara berlebihan, bukan tanpa sebab, beda lagi dengan orang seperti dia yang bahkan tega menyakiti orang di sekitarnya dan membuatku hampir mati!


“Kenapa kau pulang, apa modal dariku tidak cukup?”


“Hah! Kota ini bukan milikmu, aku berhak kembali kapanpun aku mau!”


“Kau!”


“Oh ya! Har, aku punya hadiah untukmu!” Hansan berkata sambil berbalik kemudian membuka kunci pintu rumah sederhana itu. Ia masuk diikuti oleh Harlan dan pengawalnya.


Mereka melihat Roni dan Nella yang terikat masing-masing berada di sebuah kursi dengan mulut yang tertutup rapat dengan lakban.


Harlan dan pengawal sedikit terkejut, tapi sebentar kemudian kembali tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, sambil melirik Hansan yang tampak menyeringai.


“Kenapa kau memperlakukan mereka seperti ini?” tanya Harlan datar.


Reaksi Harlan yang tenang dan dingin, membuat Hansan heran. Ia pikir Harlan akan panik, atau menuntut untuk membebaskan mereka, mengingat kedua orang itu adalah sepasang kekasih dari sepupunya. Jika hal itu terjadi, maka ia akan memberi Harlan berbagai syarat yang harus dikabulkan sebagai jaminan kebebasan.


“Bukankah dia saudaramu? Seharusnya kau berusaha membebaskannya!” Hansan berkata dengan ketus dan penuh penekanan.


“Aku tanya, kenapa kau mengikatnya? Apa mereka memiliki kesalahan?”


“Kesalahan mereka adalah kesalahanmu!”


“Tapi kesalahannya tidak harus aku tanggung dan harus menebusnya sebagai kesalahanku! Kalau memang kau punya masalah, selesaikan saja, Terserah! Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan pada mereka!”


“Apa kau juga tidak peduli kalau aku membunuhnya?”


“Ya!”


Seketika wajah Roni dan Nella begitu ketakutan, kedua orang itu menggelengkan kepala dengan keras dan berusaha untuk membebaskan kedua kaki dan tangan yang terikat di kursi. Namun usahanya sia-sia karena ikatan itu begitu kuat melilit tubuh mereka.


Pagi hari tadi baik Roni maupun Nella, mendapatkan pesan yang sama dari nomor yang tidak dikenal. Tapi ajakan itu sangat menyenangkan yaitu mengajak untu bertemu dan minum anggur. Pemberi pesan mengaku sebagai teman yang sudah lama tidak pernah bertemu, hingga mereka mau mendatanginya. Tentu saja Roni mengenal Hanson, hingga dalam sekejap mereka menjadi begitu akrab.


Roni berpikir jika pria itu berada dalam pihak yang sama untuk memusuhi Harlan, hingga Ia pun membicarakan semua yang terjadi pada Harlan.


Namun, ia tidak mengatakan secara rinci tentang rencananya yang bodoh, dengan memanfaatkan Maisara. Ia hanya bercerita jika Harlan dijodohkan dengan wanita lain, tapi wanita itu meninggalkannya.


Hansan begitu marah karena mengetahui sikap Harlan yang telah menelantarkan Reina, demi wanita lain. Namun, Roni tidak mengatakan tentang kenyataan bahwa, Raina sekarang hamil dengan laki-laki lain.


Roni tidak mengetahui keadaan dan fakta yang sebenarnya.


Hansan pun menganggap bila Harlan adalah orang yang benar-benar tidak bertanggung jawab serta serakah. Tidak mungkin seseorang meninggalkan seseorang tanpa sebab.


Pria itu tidak mungkin menggunakan wanita yang dinikahi oleh Harlan sebagai alat, karena pria itu tidak mencintainya. Buktinya, wanita pergi tanpa alasan dan Harlan membiarkannya begitu saja.


Akhirnya Hansan berinisiatif untuk memberikan campuran minuman kepada Nella dan Roni hingga mereka pingsan, setelah itu, barulah ia mengikatnya dan dijadikan sandera agar Harlan mau memberikan tebusan.


Harlan pergi setelah berkata begitu dan sikap yang diluar dugaan Hansan, membuat pria itu frustrasi.


“Apa kalian mau berteriak? Cobalah!” kata Hansan sambil menarik lakban yang digunakan untuk menutup mulut Roni dan Nella, dengan keras.


“Aaw!” pekik Nella, saat lakban hitam itu lepas dari mulutnya, karena rasanya sangat sakti.


“Jangan bunuh aku! Harlan! Tolong, maafkan aku! Harlan! Aku mengaku aku salah!" Roni berteriak.


"Kau punya masalah apa dengan Harlan?" tanya Hansan.


❤️❤️❤️❤️