Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 61


Pembicaraan Para Lelaki, Cinta Diujung Waktu


“Tuan, apa aku harus membawa Nyonya pulang?” tanya asisten, ia adalah orang yang berhasil menyusun data tentang kepergian Maisara dan ibunya di hadapan Harlan, “Kebetulan aku tahu tempat itu karena ibuku pernah tinggal di sana.”


Tiba-tiba Harlan menyeringai, dan berkata, “Hubungi Sunni, suruh dia ke sini!”


“Baik, Tuan!”


Saat itu hampir tengah malam dan Sunni sudah bersiap hendak tidur saat pengawal Harlan menghubunginya.


Sekitar 30 menit kemudian, Sunni sudah duduk di sofa ruang tamu, dekat dengan Harlan termasuk teman lainnya, Lepi, Taupan dan Fedi. Merasa semua sangat kompak, datang hanya memakai piama tidur mereka.


Harlan berdecak saat melihat kekompakan gaya pakaian teman-temannya, yang seolah mengatakan secara jelas jika sekarang sudah waktunya istirahat.


Percakapan antara semua orang terdengar saling menimpali, satu sama lain.


“Apa kita mau mendapatkan emas sampai kita dikumpulkan tengah malam begini?”


“Bukan emas, kita akan mendapatkan warisan dari Harlan masing-masing satu buah perusahaan!”


“Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak, ya?”


“Apa kalian sudah bersiap untuk mati karena terkejut?”


“Mungkin Tuan kita ini lupa sekarang sudah jam berapa?”


“Mungkin dia baru bisa minum anggur dan sekarang akan merayakannya.”


“Bukan! Bukan semuanya, mungkin dia mau bercerita pada kita bagaimana rasanya bercinta dengan dua wanita sekaligus!”


“Diam! Kalian semua berisik!” tiba-tiba Harlan berteriak karena ucapan dan bisik-bisik beberapa temannya itu. Ia kemudian mengambil sebotol Fanta besar dan menuangkannya pada gelas semua temannya dan untuk dirinya sendiri.


Mereka tercengang, baik Sunni, Fedi, Taupan dan Lepi langsung mengambil gelas mereka dan meneguk minuman berkarbonasi itu sampai habis.


“Apa ada perbedaan dari anggur ini setelah dituangkan oleh Tuan Harlan?”


“Oh! Tolong! Aku langsung mabuk walau hanya meminum satu tegukan!”


“Wow! Ini adalah anggur yang sama saja rasanya seperti anggur lainnya walaupun dituangkan oleh orang seperti Harlan!”


“Tidak, tidak! Kalian salah ... Nama dari rasa minuman ini adalah, mencurigakan! Tapi aku senang, untuk pertama kalinya aku minum anggur dari tangan Harlan!”


“Itu bukan anggur, itu Fanta!” seru Harlan kesal pada semua temannya, “Apa kalian sudah puas mengejekku?”


Empat teman Harlan saling berpandangan sambil mengangkat bahu. Mereka mengatakan minuman anggur adalah sebuah sindiran, sebab Harlan memang tidak bisa bertoleransi dengan minuman itu sejak koma. Semua pria berwajah malas yang mengelilingi Harlan itu hanya berkelakar dan Taupan adalah pengomentator yang paling jujur di antara mereka.


“Aku ingin meminta pendapat pada kalian semua!” Harlan mulai bicara.


“Soal apa?” tanya keempat pria dengan wajah yang serius. Mereka hampir bersamaan saat mengatakannya.


“Soal istriku!” kata Harlan lagi.


“Istri yang mana?” tanya Sunni membuat Harlan berpaling muka dan masam.


“Maisara ... dia pergi lagi, tapi aku mengucapkan cinta padanya di tempat tinggalnya sekarang, dan melamarnya, lalu aku akan membuat pesta pernikahan yang mewah, bagaimana menurut kalian, apa itu rencana yang bagus? ”


“Apa kau pikir itu lucu? Kenapa tertawa?” tanya Harlan masih kesal.


Bukan lucu ....


Mereka pikir Harlan sudah terlambat untuk menyatakan cinta, setelah istrinya pergi. Wanita seperti Maisara tidak akan menerima walau, suaminya memohon dengan sepenuh hati. Kalaupun ia mau kembali, itu karena cintanya mungkin benar-benar tulus atau Harlan sudah berada di ujung waktu, sebelum tiada di dunia ini.


Wanita seperti Maisara hanya menerima sesuatu sesuai akal, apalagi ia sudah pernah mendapatkan cobaan besar hingga memaksanya untuk menjadi lebih kuat. Jadi, kalau ada lelaki seperti Harlan yang tega menduakan cintanya, maka akan ia tinggalkan dengan mudah. Masih banyak pria yang jauh lebih baik dan setia di dunia ini.


Cinta Harlan muncul diujung waktu, membuat semuanya seolah sia-sia dan percuma. Walaupun, ia melamar dengan cara yang romantis sekalipun, Maisara terlanjur patah hati, dan hati yang sudah patah akan sulit untuk disambungkan lagi.


“Tapi, kau tetap bisa mencobanya Tuan!” kata Taupan lagi, ialah yang paling tulus dalam memberi pendapat, sedangkan teman yang lain mengangguk saja dalam menanggapi. Hanya Taupan dan Lepi yang memanggil Harlan dengan sebutan Tuan, karena usia mereka jauh lebih muda darinya.


“Semua patut di coba. Apa pun jawaban Maisara ... kau harus mempersiapkan hatimu!” sahut Fedi.


Dalam pikiran Harlan, tidak ada yang tidak mungkin, sebab sebenarnya Maisara menyukainya. Ia tahu dari tatapan mendamba gadis itu saat melihat wajahnya. Ia merasa jadi laki-laki yang terlalu menarik untuk ditolak pesonanya oleh wanita.


“Aku punya usul!” kata Sunni tiba-tiba, “Bagaimana kalau kau membuat jeda waktu untuk Maisara berpikir dan menenangkan hati agar ia tahu persis jalan mana yang harus ia tempuh ...! Oh ya, apa kau sudah resmi bercerai darinya?”


“Belum, aku tidak menandatangani surat cerai dari pengacaranya!” kata Harlan.


“Kalau begitu, kau harus menyelesaikan dulu semua masalahmu di sini, termasuk soal Hansen ... agar kalian bisa hidup tenang kalau bersatu kembali nanti. Jangan dulu mendatanginya sebelum urusanmu selesai dengan Raina!” Jelas Sunni dengan tenang.


Semua setuju dan mendukung Harlan untuk menahan perasaannya dan memberi waktu bagi Maisara.


“Biarkan kerinduannya padamu bertumpuk dan dia akan langsung memelukmu kalau kalian kelak bertemu!” kata Fedi.


“Harlan, urusan perusahaan dan semua yang menyangkut organisasi kita, kamu bisa mengandalkan kami untuk menanganinya tanpa bantuanmu! Tapi kalau soal perasaan dan wanitamu, kami tidak berhak mengaturnya! Kamu yang paling tahu tentang kebutuhan pribadimu, kami hanya sekedar memberi saran, sedangkan keputusan tentang cinta dan hidupmu, semua ada di tanganmu!” kata Sunni.


Semua teman memberinya tepuk tangan.


“Aih! Kalian ini berlebihan sekali! Ayo pulang! Aku ngantuk!” kata Sunni lagi sambil menguap.


“Kalian bisa tidur di sini!” Kata Harlan.


“Nah, usul yang bagus, kita bisa tidur berpasangan! Taupan, ayo! Kita tidur sekamar!” kata Lepi sambil merangkul bahu Taupan, tapi pria itu menepis tangannya.


“Aku harus pulang ... istriku sedang datang bulan, aku tidak mau kena omelannya!”


“Bukannya waktu datang bulan kau justru tidak bisa menyentuhnya? Kenapa dia harus marah?” tanya Lepi.


“Itulah dilema laki-laki kalau iatrinya sedang datang bulan, ia memang tidak bisa melayani soal urusan ranjang, tapi mereka justru menuntut perhatian lebih tinggi!” sahut Taupan gamblang.


“Wah! Kau profesor wanita sekarang! Tuan Harlan, mungkin Anda harus belajar pada Taupan soal perempuan kalau menikahi Nyonya Haya nanti!” usul Lepi.


“Ck! Mana ada gelar seperti itu! Lagian Nona Haya sudah menjadi istrinya!” sahut Taupan.


“Haha! Aku lupa ... Lalu, untuk apa kita berkumpul di sini membicarakan wanita itu, kalau dia sudah menikah?” Lepi berkata pura-pura bodoh.


Sunni yang mendengar percakapan antara Taupan dan Lepi itu berbisik, “Mungkin dia sudah gila karena baru sadar kalau dia jatuh cinta!”


“Aku dengar!” sahut Harlan.


❤️❤️❤️❤️