
Makan Malam 1
“Siapa yang bilang aku mau nikah lagi?” tanya Harlan seraya mengerutkan alisnya.
“Kamu masih mau berbohong, hai Aku bukan anak kecil Harlane Mahespati!”
Pengawal mendengar dan melihat sikap Maisara dan lagi-lagi dia kesal dengan wanita yang dinilai begitu berani pada Tuan Mudanya.
Panggilan apa itu? Apa dia tidak belajar dari Raina, dia sampai rela meminum pil anti hamil setiap kali bersama Tuan, walau Tuan tidak pernah menyentuhnya, dia tetap bersikap sangat lemah lembut, hormat dan memanja demi mendapatkan cintanya, tapi wanita ini?
“Aku melihatnya di internet! Kamu menikahi Raina hari Sabtu!” kata Maisara sambil mengeluarkan ponsel, lalu ia menunjukkan sebuah gambar berisi akta nikah bertuliskan nama Raina dan dirinya di hadapan Harlan.
Melihat foto itu, Harlan menoleh pada asisten dan mengepalkan tangan dengan kuat, pandangan matanya dipenuhi api yang membara.
Sementara Asisten mengerutkan bibir dan wajahnya pucat, ia memilih merahasiakan foto bohong yang tersebar dari Harlan. Namun, ia sudah membereskan kekacauan itu, semua akun, situs dan sosial media yang menayangkan foto palsu tersebut sudah di hapus dan diblokir. Ia tentu tidak menduga kalau si Nona muda yang menyusahkan ini benar-benar menyusahkan.
Oh! Kuharap Tuan tidak benar-benar jatuh cinta padanya! Untuk apa dia menyimpannya?
Asisten kemudian maju selangkah begitu juga pengawal yang tidak henti-hentinya memelototi Maisara.
“Nyonya! Itu foto palsu, sebaiknya Anda menghapusnya!”
Maisara mengabaikan asisten dan mendekati Harlan, lalu berkata, “Memangnya kenapa? Apa kamu takut ketahuan berbohong padaku dan Bibi Wendi kalau kamu menikah lagi, padahal kita belum bercerai!”
Dasar rakus! Tidak tahu malu!
Asisten menyela bicaranya, “Bukan, Nyonya! Itu memang bohong! Tuan tidak akan pernah memiliki dua istri!”
“Kalian pikir aku percaya? Jangan kemari lagi! Aku tidak akan pernah kembali!” Sedetik setelah ia berhenti bicara, Maisara berbalik badan, hendak kembali ke apartemen ibunya.
Namun, secara bersamaan tiba-tiba ia merasakan tangannya seperti disengat lebah, ia tidak tahu dengan apa yang terjadi. Kakinya lemas seperti jeli dan pandangan matanya kabur, dia tidak ingat apa-apa lagi.
Harlan menopang tubuh Maisara dengan cekatan ke dalam dekapannya, saat ia hampir terjatuh, tepat di hadapannya. Wanit itu kini terpejam. Tubuhnya lemah dan pasrah saat Harlan membawanya masuk ke dalam Mercedes Maybach C class hitam miliknya.
Setelah mereka berada di dalam mobil, barulah asisten menceritakan semua perbuatan Raina yang putus asa, tak lupa Asisten memberikan pandangannya dalam masalah Raina yang apabila dibiarkan maka akan berbuat yang lebih tidak etis lagi.
Harlan tidak marah, dengan semua tindakan Raina dan juga tidak berkomentar atas tindakan asisten dan pengawal. Walaupun, mereka merahasiakan dengan maksud membuatnya tenang, tapi dua pria itu sudah berbuat yang terbaik untuk dirinya.
“Apa tembakanmu tadi tidak akan jadi masalah?” tanya Harlan saat mereka sudah menepi dan tiba di vila Harlan.
“Tidak, saya menembak di area yang paling aman dan saya menggunakan obat bius yang paling rendah, sebentar lagi juga Nyonya akan bangun!”
“Hmm ...” Harlan bergumam sambil menyelipkan anak rambut Maisara di belakang telinga.
Mereka harus membius Maisara demi permintaan Wendi yang ingin menemuinya. Kalau tidak begitu, maka akan memakan waktu lama hanya untuk bernegosiasi, karena gadis itu pasti menolak untuk kembali ke vila.
Harlan bersyukur, dapat menemukan rumah Daina bertepatan dengan permintaan Wendi yang ingin bertemu dengannya. Wanita paruh baya itu sudah sehat dan mengundang Maisara makan malam bersama keluarga besarnya.
Maisara membuka mata secara perlahan sesaat sebelum sampai di vila. Ia mengumpulkan nyawa sambil mengusap-usap matanya. Ia tidak mengalihkan pelukannya di dada Harlan. Ia merasa nyaman berada dalam pelukan pria itu.
“Tidurlah saja kalau masih mengantuk!” Harlan bicara setelah tahu Maisara membuka matanya.
Suara berat dari Harlan itu meyadarkan Maisara sepenuhnya, hingga dia berusaha menjauh, tapi dekapan Harlan begitu kuat, apalagi pria itu harum dan hangat. Akhirnya ia tidak bisa memberontak lagi.
“Kamu mau bawa aku ke mana?”
“Pulang!”
“Aku tidak mau! Itu bukan rumahku!”
“Jadi, kalau itu rumahmu, kau mau pulang ke sana?”
“Ya. Tentu saja, di mana aku punya rumah, di situ aku akan pulang!”
Maisara pikir vila Harlan bukanlah rumah pribadinya, maka dia tidak perlu berlama-lama di sana, diakui jadi nyonya Mahespati juga tidak. Kalau bukan karena Wendi, mungkin ia sudah ditendang jauh keluar sejak saat pertama kali Harlan sadar.
“Ibu sudah pulang dari rumah sakit, jadi kita harus makan malam di sana!”
❤️❤️❤️❤️