
Raina
Gadis itu ingin menangis lagi setelah sampai di kamarnya nanti. Ia tidak bisa menumpahkan perasaannya dengan bebas di rumahnya sendiri, sebab ia selalu disibukkan oleh utusan jenazah ayahnya. Ia yang berada di garis depan untuk menerima para pelayat, yang tidak ada habisnya. Mengingat Hansan adalah orang yang cukup di kenal.
Sampai di villa Harlan, hari sudah malam.
Maisara dikejutkan oleh suasana yang cukup ramai. Ia berdiri di depan pintu masuk, dan melihat banyak orang berkumpul di ruang tamu yang luas itu, dengan musik yang mengentak.
Tatapannya melihat ke sekeliling lalu, berakhir pada Harlan dengan tatapan nanar.
Bagaimana mungkin pria itu bersenang-senang, padahal ayahnya baru saja meninggal dan ia tidak pulang selama tiga hari, tapi pria itu sama sekali tidak mencarinya. Biar bagaimanapun ia adalah istrinya.
Apa tidak ada orang di rumah itu yang menyampaikan berita tentang kematian Ayahnya?
Maisara melotot pada pria yang berstatus suaminya, yang sedang duduk di sofa, bersama seorang wanita cantik. Mereka tampak akrab satu sama lain.
Para pengawal yang memindahkan Harlan ke sofa sesaat sebelum mereka memulai pesta.
Fhedi yang menggagas pestanya, demi merayakan kesembuhan Harlan. Ia mengundang dua orang sahabatnya yang lain, Lepi dan Taupan. Sekaligus untuk memperkenalkan istrinya. Ya sang bos sudah menikah! Hal ini pun secara tidak langsung sebagai isyarat pada Raina agar gadis itu tidak berharap terlalu tinggi pada Harlan lagi.
Fhedi, Lepi dan Taupan, selama ini bekerja sama dalam segala usaha, dengan Harlan. Mereka masing-masing memegang tugasnya sendiri dan tetap setia meski Harlan sakit.
Raina, yang sekarang sedang bergelayut mesra dan duduk begitu rapat, dengan menempelkan dadanya pada Harlan itu, seperti saudara di mata pria itu. Ia bekerja sebagai pegawai pada Mahespati Industries, agar bisa selalu dekat dengannya.
Itulah sebabnya mereka selalu bersama. Riana menyukai Harlan sebagai kekasih, tapi Harlan selamanya akan menganggap gadis itu sebagai adik.
Di atas meja ruang tamu, dipenuhi makanan dan minuman dari aneka rupa, bukan minuman beralkohol karena Harlan tidak boleh mengonsumsi minuman keras itu. Namun, ada beberapa botol wine di sana, yang sengaja disediakan oleh Fhedi untuk dirinya sendiri.
Dan di atas meja itu ada satu benda yang membuat mata Maisara melotot.
Itu buku nikahku? Apa maksudnya ini?
Tiba-tiba hatinya panas membara.
Harlan hanya bermaksud meyakinkan kalau dirinya sudah menikah, saat Fhedi meminta temannya itu menunjukkan buktinya.
Asisten yang membawa buku nikah itu, dan meletakkannya di meja.
Namun, Maisara merasa hal itu penghinaan. Apa tidak cukup hanya mengatakan saja dan tidak harus menunjukkan buku seperti ini.
Apa Harlan tidak tahu kalau ia bersedih karena ayahnya baru saja meninggal? Dan, di rumah ia justru mengadakan pesta?
“Apa kau tidak tahu aku berduka, Harlan?” tanya Maisara tegas pada suaminya.
“Apa maksudmu?” tanya Fhedi, lebih penasaran. Ia berkata sambil berdiri dari duduknya, sementara gelas Wine yang masih terisi penuh berada di tangannya.
Fhedi adalah satu-satunya teman Harlan yang mengetahui tentang latar belakang Maisara dari penyelidikan asistennya
Tiba-tiba Raina berdiri dan berkata, “Hai! Jangan tidak sopan begitu di sini! Memangnya siapa kau?”
“Aku istri Harlan!” jawab Maisara ketus, jiwanya masih lelah hingga mudah sekali tersulut emosi.
“Sepertinya kau harus tahu bahwa, aku adalah wanita yang selalu mendampinginya selama ini! Dia sangat menyayangiku!” kata Raina lagi.
“Dan, kau bangga dengan itu? Walaupun kau wanitanya, tapi aku yang menjadi istrinya yang dinikahinya secara sah! Jadi, siapa yang tidak pantas di sini?” sahut Maisara berapi-api.
“Istri dalam catatan buku ini, maksudmu?” tanya Riana sambil mengangkat botol wine dan hendak menuangkan isinya ke atas buku nikah itu. Ia berniat mengejek.
Maisara merasa pipinya tiba-tiba memanas dan membuat matanya merah karena amarah. Tangannya lebih cepat bergerak untuk merampas gelas di tangan Fhedi, karena pria itu yang terdekat dengan dirinya.
Dan, byuur!
Lalu ... prang!
Maisara melempar gelas ke lantai.
Semua isi dalam gelas itu tumpah di wajah dan pakaian Riana, dan gelas pun pecah berhamburan di lantai. Fhedi sempat menghentikan napas sejenak karena terkejut. Baru kali ini ia melihat seorang perempuan begitu berani di hadapan Harlan.
Harlan sepertinya ibumu sudah membuatmu menikah dengan wanita yang sepadan!
“Lihat! Air itu lebih pantas membasahi mukamu yang tak tahu malu itu!” Begitu kata Maisara seraya menyambar buku nikahnya dan melirik Harlan dengan sudut mata yang sinis.
Lalu, ia berjalan ke kamar tamu di lantai dua, sambil membawa buku nikah dan menyimpannya di dalam laci meja kecil di samping tempat tidurnya.
Maisara langsung meleburkan diri di tempat tidur, menelungkup, dan menangis sejadinya dengan sangat kuat. Toh tidak ada yang peduli padanya, karena hentakan musik masih jelas terdengar.
Sementara itu di ruang tamu.
“Harlan! Lihat apa yang dilakukan perempuan itu padaku apa kau akan diam saja? Dia sangat kurang ajar!” Reina mengharapkan Harlan bersikap lebih baik kali ini, karena ia tahu gadis pilihan Wendy itu tidak selevel dengannya.
“Kau ini! Apa kau tidak berpikir kalau air itu sampai tumpah? Merusak buku itu berarti kau juga merusak namaku!” kata Harlan, sikapnya justru membuat Raina kesal, karena sangat berlawanan dengan apa yang ia inginkan.
Semua pria yang ada di sana selain Herlan, akan sangat kasihan pada Reina yang terlihat begitu kecewa.
Gadis itu sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengejar Harlan. Dari sejak kuliah sampai sekarang, ia sudah menggunakan berbagai cara untuk membuat Harlan jatuh cinta. Ia tidak putus asa, walaupun Harlan sudah jelas-jelas tidak memberikan harapan padanya.
“Apa kalian lihat itu? Wow!” pekik Fhedi pada semua temannya, “Kau menemukan saingan yang cukup kuat kali ini, Rain!”
Lepi dan Taupan pun mengangguk-angguk.
“Coba tebak!” kata Lepi tiba-tiba, sambil merubah posisi duduknya, “Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Raina dan Maisara, seandainya kita bilang kalau Harlan menyukai boneka?”
“Aku tahu!” kata Fedi dengan keras sambil mengacungkan jari telunjuknya.
“Apa?” tanya Lepi dan Taupan.
“Sudah cukup! Kalian jangan mengejekku!” seru Raina.
Ketiga pria itu tidak peduli pada Raina dan mengharapkan Fhedi segera bicara.
“Kalau dilihat dari sikap perempuan itu, maka ...,” Fhedi berhenti sejenak, lalu menoleh pada Raina, “Raina! Kau pasti dengan cepat akan membeli boneka yang terbaik dan termahal yang ada di seluruh dunia ini demi Harlan, ya kan?”
“Tentu saja, aku akan melakukan apa pun untuknya, kau tahu, kan? Harlan, aku sudah berkorban begitu banyak untukmu?” kata Raina manja, wajah dan baju yang basah kuyup tidak dipedulikannya.
Harlan, pria yang menjadi topik pembicaraan itu diam saja. Ia memberi isyarat pada pengawal agar memindahkan tubuhnya kembali ke kursi roda.
“Nah! Tebakanku benar, kan? kata Fhedi lagi, “Dan, kalau kita bilang pada Maisara kalau Harlan menyukai boneka, maka Harlan yang akan dijadikan bonekanya!” kata Fhedi seraya menunjuk Harlan.
Serentak ketiga pria teman Harlan itu pun tertawa.
“Keluar kalian dari rumahku!” kata Harlan setelah ia duduk di kursi roda dan meninggalkan ruang tamu. Ia tidak peduli pada siapa pun termasuk Raina.
Lalu, tanpa menunggu lebih lama, karena sudah diusir oleh tuan rumah yang tidak berperasaan itu, keempat orang itu pergi. Mereka menggunakan kendaraannya masing-masing dengan perasaan yang berbeda-beda.
Ketiga teman pria mengirim pesan pada Raina, memintanya untuk bersabar dan jangan berharap lagi.
Demi melihat kejadian yang luar biasa di mata mereka, seorang gadis dengan berani melempar gelas di hadapan Harlan. Namun, pria itu tidak tersinggung sedikit pun. Semua orang yang ada di sana, melihat bagaimana pengawal yang hendak mengusir dan memberi pelajaran pada Maisara, tapi Harlan mencegahnya.
❤️❤️❤️❤️