Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 78


Bertemu Harlan Lagi


 


“Itu memang gambar wajahku!” kata Harlan membuat dua wanita yang tengah menatap ke arah sketsa menoleh, dan reaksi keduanya langsung berubah drastis menjadi terkejut.


“Harlane!”


“Pak Harlan!”


Seru dua orang itu hampir serempak dan secara refleks mereka berdiri dari duduknya.


Sementara Harlan yang melihat wajah Caca langsung mengepalkan tinju, dengan mata memerah bagai bara api yang menyala. Langsung tertuju pada gadis remaja itu seolah ingin membakarnya hidup-hidup.


Caca segera beringsut dengan cepat ke arah punggung Maisara dan memegang erat lengan baju wanita hamil itu, dengan tangan yang gemetar. Pikirannya berkecamuk, mempertanyakan kenapa Harlan bisa ada di sana dan langsung masuk ke ruang pribadi Maisara tanpa izin, lalu mengapa pula ia mengaku jika wajah yang ada dalam poster itu adalah dirinya.


Apa jangan-jangan mereka suami istri? Mengapa Maisara banyak berbohong padaku selama ini? Apa maksudnya? Dan itu ... perutnya juga sedikit buncit, apa jangan-jangan dia sedang hamil dan itu adalah anak dari—astagaa! Ini tidak bisa ku percaya!


Sementara Maisara tersenyum manis, menutupi kesalahan dan berusaha membuat suasana sedikit mencair. Ia belum siap dengan apa yang harus dikatakan jika dua orang ini bertemu suatu saat nanti. Ternyata sekaranglah waktunya dan ia belum mempersiapkan diri kalau-kalau pria itu berbuat kasar pada mereka berdua.


“Kamu berteman dengan anak ini?” tanya Harlan, ia protes keras pada istrinya dan tatapan matanya kini beralih pada Maisara dengan raut wajah tak percaya.


“Ya. Kenapa? Dia Caca, salah satu pembaca setia aku, kamu sudah lama saling kenal sejak—“


“Cukup!” suara Harlan sangat keras membentak Maisara dan membuat gadis itu seketika terdiam, kemudian ia bertanya, “Kamu tahu siapa dia?”


Maisara diam ia tidak ingin salah dalam menjawab atau bersikap. Jadi, diam adalah tindakan yang paling tepat.


“Katakan pada istriku! Apa yang sudah kau lakukan pada Ayahku sampai dia tiada!” kata Harlan membuat Maisara tercengang, bukan karena Harlan mengakui di hadapan Caca kalau ia adalah istrinya. Namun, karena pria itu meminta anak remaja itu untuk mengulangi kisah yang baginya sangat menyakitkan.


Harlan tidak akan pernah tahu, betapa gadis itu merasa bersalah selama ini. Walaupun, saat kejadian di mana ayah Harlan tiada ia masih kecil, tapi ia sangat pengertian dengan rasa kehilangan yang Harlan alami.


Namun, reaksi Caca hanya menarik lengan baju Maisara dan gadis itu bertanya, “Apa kau istri Pak Harlan?”


Maisara menoleh dan ia hanya bisa mengangguk, mengakui semuanya akan terasa lebih ringan dari pada harus memendam sebuah rahasia sendirian.


Rahasia tidak akan pernah menjadi rahasia selamanya. Ini hanya soal waktu saja. Apalagi ia masih punya kesempatan untuk membukanya, sebelum semua semakin runyam. Biar bagaimanapun juga arah berjalannya waktu tidak pernah bisa dibayangkan, ia mampu memutar balikkan nasib manusia, bahkan membuat semua yang tidak mungkin kadang menjadi nyata.


Melihat anggukan kepala dari Maisara, Caca mengambil sebuah kesimpulan sederhana, secara naluriah anak-anak dan gaya berpikirnya. Ia sangat memaklumi keadaan, di mana seseorang berbohong karena sesuatu. Kalau saja Maisara jujur waktu itu, maka tidak akan menjadi lebih  baik dari sekarang! Kemungkinan mereka berdua sedang ada masalah hingga tidak berani mengakuinya.


Kalau mereka memang suami istri, kenapa tidak ada satu pun media yang mengabarkan pernikahan mereka, apa ini maksudnya Maisara berbohong? Mereka keterlaluan, kenapa status mereka di sembunyikan? Atau aku adalah orang paling beruntung di dunia, yang mengetahui rahasia ini jauh sebelum orang lain.


“Pak Harlan! Maafkan aku, sebenarnya aku sudah bercerita pada Maisara tentang masalah kita ...,” kata Caca dengan suara rendah dan gemetar menyiratkan ketakutan khas anak-anak.


Harlan mendekati dua wanita itu selangkah dan berkata, “Kau bilang masalah kita? Kau yang jadi sumber masalah—“


Harlan menarik tangan Caca dari balik tubuh Maisara. Seketika wanita itu menghalanginya, sambil memegang tangan Harlan yang mencengkeram keras pergelangan tangan gadis remaja itu.


“Harlan! Apa yang akan kamu lakukan sama dia?” katanya.


“Jangan ikut campur, aku tidak akan membebani kamu dengan apa pun yang akan aku lakukan ke dia!”


“Kamu seharusnya maklum kalau aku benci melihat dia! Aku berusaha menahannya selama ini dan aku sudah memintanya untuk pergi, tapi ternyata justru dia di sini sama kamu?”


“Itu bukan salahnya! Takdir yang membawa dia ke sini!”


Harlan melepaskan pegangan tangan Maisara dari tangannya, di saat yang sama ia menarik tangan Caca dan melemparkan tubuh gadis itu ke samping.


Buk!


Suara tubuh Caca yang terjatuh dengan keras.


“Pergi kau!” kata Harlan kasar.


Caca langsung menangis sesenggukan, sambil berusaha bangkit dari lantai, ia terjerembap tanpa bisa dicegah. Maisara melihatnya kasihan karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Saat itu, Maisara berkata dengan nada menantang suaminya, “Kalau memang nyawa Caca bisa mengembalikan Ayah kamu, kenapa tidak kamu bunuh saja dia?” sambil menyerahkan gunting yang ada di meja kepada Harlan.


Harlan melihat Maisara nanar, ia tak percaya dengan kelakuan istrinya yang seolah mengejek dirinya, mana ada nyawa manusia bisa kembali dengan membunuh seseorang.


“Apa kamu bercanda?” tanya Harlan tegas.


Caca masih menangis dan kini percakapan hanya antara Harlan dan Maisara.


“Aku tidak bercanda, aku bertanya, kalau memang dengan membunuhnya bisa membuat Ayahmu kembali, kenapa kamu tidak melakukannya?”


“Itu tidak mungkin!”


“Kalau begitu tidak ada gunanya membenci atau menyakitinya, kan?”


“Jadi kamu membela dia?”


“Aku tidak membela dia, aku hanya berpikir logis pada kecelakaan mobil yang dialami Caca, kalau dia bisa memilih mungkin lebih baik selamat dari pada diselamatkan oleh orang, yang justru membawa kematian pada orang yang menolongnya ... Anak itu tidak pernah meminta ayah kamu untuk menyelamatkannya, kamu tidak harus membenci dia.”


“Omong kosong!”


“Bukan omong kosong, tapi sebenarnya berisi sebuah pesan bahwa kamu seharusnya menyayanginya, seperti Ayahmu yang memberikan pertolongan padanya karena belas kasih, dan bukan membencinya. Jadi, maafkanlah dirimu sendiri!”


“Ahk! Yang bener saja! Aku tidak bersalah, bagaimana aku harus memaafkan diriku?”


“Kesalahan kamu adalah membenci seseorang yang seharusnya kamu sayang, menyalahkan orang lain atas kematian Ayah kamu, merasa kamu benar, padahal Caca sama sekali tidak tahu menahu!”


Melihat Harlan tidak memberi tanggapan Maisara kembali melanjutkan ucapannya.


“Apa kau tahu? Dialah orang yang paling menyukai poster buatanku, dia pembaca setia dan semua hadiah serta koin yang dia sumbangkan untuk komik buatanku, bisa membuatku bertahan selama aku mengurus perusahaan ayah ... tanpa uang dari komik, aku tidak bisa memberi makan ibuku! Bahkan kau pun tidak memberiku uang walaupun kita sudah nikah!”


“Pak Harlan, aku tidak pernah berharap kau memaklumi semuanya. Aku hanya ingin minta maaf darimu! Karena aku kau jadi kehilangan seorang ayah. Kalau kau memang tidak bisa memaafkan aku, tidak apa-apa ... Mungkin memang kesalahan itu harus aku tanggung selamanya, kalau memang kau ingin aku pergi lagi dari sini, baiklah! Aku akan pindah lagi ke selatan sekarang!”


 


❤️❤️❤️❤️