
Terjebak Obrolan Sendiri
Suni pernah melihat Sanaya yang melihatnya secara tidak sengaja, saat keluar dari sebuah hotel beberapa hari yang lalu. Ia tahu seperti apa mulut wanita itu kalau bicara pada Maisara. Jadi, ia merasa tidak perlu menutupi beberapa hal lagi. Ia sudah sangat siap untuk menjelaskan semuanya jika Maisara curiga, dengan siasat Harlan atau ia pun siap jika Maisara menolak kesepakatan.
“Apa kau masih ada masalah dengan itu, Nona Haya?” tanya Suni
Maisara menatap lurus-lurus ke arah bola mata Suni, tapi pria itu begitu tenang seperti tidak tergoyahkan walau ia menggebrak meja sekali pun. Gadis itu sulit menebak pria itu sedang bersekutu atau tidak dengan Harlan.
“Tidak masalah! Aku hanya tahu kalau dia bertanggungjawab di Industri Mahespati!”
“Ya, kau benar sekali Nona Haya! Kalau tidak masalah, itu artinya aku bisa mengajaknya kalau kita bertemu suatu hari nanti!”
Apa akan ada kesempatan seperti itu? Ahk! Terserah.
“Apa kau juga mengenal Tuan Harlan?”
“Pasti aku mengenalnya juga, dia teman seangkatanku waktu aku kuliah di luar negeri.”
“Oh! Itu seperti kebetulan, kalian sama-sama berteman di masa lalu, lalu bertemu lagi di masa kini, apa kau melihat mereka mengalami perubahan? Kalau aku, merasakan hal seperti itu, teman-teman selalu berubah setiap kita bertemu beberapa tahun kemudian!”
“Ya. Fedhi tidak banyak berubah, tapi Harlan ..., aku melihat banyak sekali perubahannya, aku pikir itu karena wanita yang ia nikahi!”
“Oh, begitu? Aku tahu tentang Tuan Harlan dari media bisnis, aku pikir orang seperti dia tidak butuh pendamping, karena hidupnya sudah sempurna tanpa cinta, kalaupun ada wanita yang berada di sisinya pasti dia adalah orang yang luar biasa.”
“Kau ini bicara apa? Justru orang-orang seperti dia lah yang membutuhkan pendamping hidup, untuk tetap bisa bertahan dalam persaingan bisnis yang sangat kuat. Orang seperti dia akan mengalami tantangan yang lebih besar pula, contohnya waktu dia mengalami kecelakaan. Mungkin orang biasa kan mengalami kecelakaan biasa, tetapi kecelakaan yang dialami adalah sebuah konspirasi, hal yang sangat mengerikan bukan? Dan, kalau dia tidak kuat, mungkin dia sudah mati!”
Maisara mengangguk sambil tersenyum getir, mengetahui kenyataan dibalik kecelakaan dan lumpuhnya tubuh sang suami.
“Aku tidak percaya ketika mendapatkan berita kesembuhannya, itu sungguh keajaiban! Aku pikir semua itu karena wanita yang dijodohkan oleh ibunya!” Sunni melanjutkan obrolannya.
“Benarkah dia sudah menikah? Kenapa Aku tidak mendengar pernikahannya di media manapun?” tanya Maisara.
“Aku pikir mungkin ada banyak pertimbangan yang dia pikirkan, mengapa harus merahasiakan istrinya, itu adalah demi kebaikan wanitanya sendiri. Coba bayangkan, seandainya diumumkan di depan semua orang jika dia memiliki istri, sebelum masalah kecelakaannya selesai, maka apa yang akan dilakukan pendendam itu pada istrinya?”
Sunni menggelengkan kepala sambil menjeda ucapannya sejenak, “Aku justru khawatir kalau istri dan anak-anaknya kelak, akan dijadikan alat untuk memerasnya! Harlan, ketika mencintai seorang wanita, maka dia akan sungguh-sungguh mencintainya. Aku pikir dia akan menyembunyikan istrinya itu di lubang semut agar tidak ada orang yang bisa menemukannya!”
Misara tertegun mendengar semua pemikiran dari Sunni, tapi ia memilih tidak membicarakan laki-laki itu lagi, sebelum terjebak pada obrolannya sendiri.
“Jadi, Sunni ... apa kau sudah melakukan survei terhadap harga tanah di distrik timur kota?” katanya.
“Ahk ya Tuhan, aku tidak membawa semua berkas itu, kuharap kau mau menunggu seseorang, aku akan memintanya datang membawa dokumen yang kita butuhkan!”
“Tentu!”
Maisara menghubungi Jaka dan meminta pria itu membawa semua salinan dokumen Hansan Foundation.
Sekitar lima belas menit setelah itu, Sanaya datang ke lokasi yang dibagikan Maisara, hampir bersamaan dengan kedatangan Jaka yang membawa beberapa dokumen salinan, sebab dokumen aslinya ada di dalam brankas di kamar kerja ayahnya dan sampai sekarang belum terbuka.
Saat Maisara membereskan semua berkas dan pembukuan perusahaan kecil ayahnya waktu itu, tidak menemukan salinan aslinya. Ia yakin ayahnya menyimpan semua benda berharga itu di tempat yang aman itu.
“Lebih baik kau tidak usah datang!” seru Maisara pada Sanaya yang terlihat begitu cantik dan harum. Gadis itu melenggang dengan anggun mendekati meja kafe di mana Maisara dan Suni berada.
Dia mandi dulu rupanya, menyebalkan!
“Sunni, bagaimana penampilanku, apa kau suka?” tanya Sanaya begitu ia duduk di samping Suni dan di dekat Maisara.
Sunni melihat Sanaya seperti orang yang tidak pernah melihat wanita, rahangnya terbuka sedikit dengan bibir yang dibasahi oleh ludahnya sendiri.
“Sanaya, kau selalu terlihat cantik sejak pertama kita bertemu, mungkin aku tidak akan bosan melihatmu!” seru Sunni sambil menggeser kursi untuk di duduki Sanaya.
Ucapan Sunni terdengar seperti orang yang berkelakar, tapi di telingan Maisara, pujian pria itu tulus untuk sahabatnya.
“Kalian kalau mau berkencan, jangan di sini!” kata Maisara sambil menerima dokumen dari Jaka. Pria itu duduk di samping Maisara.
“Nona, apa kita akan langsung bertransaksi sekarang?” Jaka bertanya setelah menggeser duduknya agak menjauh dari gadis itu, hatinya sungkan. Ia menghargai Maisara seperti ia menghormati ayahnya.
“Tergantung kesepakatan kita dengan Tuan Suni, Pak Jaka!” sahut Maisara seraya melirik Sunni dan Sanaya yang masih saling menatap mesra.
“Oh! Jadi, begitu, baiklah ...! Saya tidak akan ikut campur!” kata Jaka.
“Hai kalian, apa sudah puas saling pandang? Aku akan bicara serius mulai dari sekarang!” Maisara berteriak pada dua sejoli yang sedang kasmaran di hadapannya.
“Mai! Kau ini ...!”
“Apa?”
❤️❤️❤️❤️