Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 76


Kebiasaan Setiap Akhir Pekan


Harlan bukan orang yang menemukannya, tapi asisten yang sibuk ke sana kemari mencari gantungan kunci seperti keinginan bos-nya. Asisten juga berhasil menemukan sebuah kotak musik yang terdapat penari balet di atasnya, dengan musik yang menyanyikan lagu Nina Bobo.


Semua itu adalah kenangan masa kecil Maisara, yang sudah hilang sejak ibu tiri menguasai rumahnya. Harlan berhasil mengembalikan kenangan yang hilang itu bersamanya. Ia tahu, kenangan indah akan terukir hanya dengan orang -orang spesial dalam hidup.


Di saat yang bersamaan hatinya sedih, merasakan kenangan bersama ayahnya tidak mungkin kembali. Kenangan bersama ayahnya bukan tentang benda sentimentil, tapi tenang bagaimana pria paruh baya itu terus membuatnya semakin tangguh, ia selalu ditepuk bahunya oleh sang ayah saat berhasil melakukan sebuah terobosan baru.


“Kau luar biasa, anakku! Kau tahu? Tidak mudah melebur sebuah besi baja hingga bisa terbentuk, untuk menjadi sebuah pagar indah dan kokoh seperti di gerbang villa kita! Kecuali harus di tempa dan di bakar di atas suhu lebih dari seribu derajat. Jadi, kita pun sama kalau ingin lebih kuat dan sukses, tidak cukup hanya sekali tempa dan sedikit pemanasan saja!”


Setelah berkata seperti itu, pria itu akan memeluknya erat dan membanggakannya di hadapan semua orang.


Namun, semua hancur dalam sekejap karena Caca! Bahkan, dirinya belum merasa begitu matang untuk ditinggal sendirian.


Jadi, sekarang ia ingin bisa membuat seseorang kembali merasakan kenangan indah bersamanya.


Harlan menyimpan kotak musik itu di atas meja rias, lalu menghabiskan air minum di gelas yang ada di sana.


Keesokan paginya, Harlan akan pergi sebelum subuh datang. Ia menciumi wajah istrinya sampai puas, dan itu sukses membuat Maisara membuka matanya.


Antara tersadar dan tidak, Maisara tahu ada Harlan di sisinya, hingga ia berusaha melindungi diri dengan menarik selimut sampai sebatas leher.


Harlan mengira istrinya masih tidur, dan ia membisikkan sesuatu di telinga gadis itu, membuat Maisara seketika menjadi kaku dan enggan bergerak.


Pria itu mengganti pakaian dengan setelan kemeja yang dibawa asisten semalam, lalu meninggalkan Maisara setelah merapikan selimutnya.


Maisara bangun setelah memastikan Harlan pergi, hingga ia merasa bebas untuk jadi dirinya sendiri. Ia melihat gantungan kunci lucu yang masih bergoyang karena pintunya baru saja tertutup. Juga melihat kotak musik kesayangannya di masa lalu ada di atas meja rias.


Ini tidak mungkin!


Ia masih ingat bagaimana Sahida menghancurkan benda itu karena dianggap sampah dan membuangnya di tempat sampah. Ia berusaha mencari kotak musik dengan model, warna, dan suara yang sama, tapi ia tidak menemukannya di mana pun.


Maisara memutar kotak musik itu dan ia hampir berteriak girang, itu suara yang sama seperti miliknya di masa lalu.


Apa dia yang membelinya untukku? Dia mengerti perasaan sentimentil, tapi dia seperti tidak berperasaan padaku?


Maisara berpikir sambil melihat gantungan kunci dan kotak musik secara bergantian. Ia kembali merebahkan diri dan mencium selimutnya. Ada aroma Harlan tertinggal di sana.


Di saat yang bersamaan, ia mendengar suara helikopter menderu di atas atap rumahnya. Seolah-olah kendaraan itu melayang sangat dekat sebanyak dua kali. Ia menduga jika mungkin helikopter itu ada dua atau mereka terbang bolak-balik.


Tiba-tiba pikirannya kacau saat mengingat royalti yang Harlan minta.


Hmm ... kira-kira, kapan dia akan datang meminta haknya? Tidak, tidak, kenapa aku memikirkannya?


Sejak saat itu, Harlan akan datang setiap akhir pekan sesuai dengan keinginannya. Ia akan menginap semalam untuk tidur dengan Maisara tanpa bisa ditolak.


Semua atas dasar pembayaran royalti sekaligus konsekuensi yang harus ditanggung Maisara, karena membuat poster dengan wajah suaminya. Semua pegawai sudah sangat maklum kalau setiap Horodoki Law asli datang, maka sang bos akan berada di kamarnya seharian.


$$$$$$$$$$


Sementara para pegawai ada yang bertugas mengepak pesanan, mengirimkannya atau menyebarkannya di beberapa toko. Ada yang masih mencetak pesanan milik orang lain juga, atau sibuk di depan monitor komputer. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan, atau pesanan dari para pelanggan dan pembelian secara online.


Maisara sudah membeli sebuah mobil yang bisa digunakan sebagai keperluan pribadi juga untuk keperluan bisnisnya. Kendaraan itulah yang ia gunakan untuk menjemput Putra waktu itu dan ia memuji selera Maisara yang tidak biasa.


Gadis itu membeli mobil Hammer dobel truk 4x4, model dengan mesin silinder terbesar dikelasnya. Ia tetap memilih warna biru muda sebagai warna favorit. Tujuannya membeli kendaraan seperti itu, karena cukup keren untuk membawa empat penumpang. Selain itu, truk di belakangnya bisa digunakan membawa banyak barang.


Daina dan Maisara masih berada di jalanan dan mereka baru saja selesai belanja di pasar. Saat itu mereka melihat kerumunan orang yang tidak biasa di trotoar, membuat Maisara menghentikan laju kendaraannya. Ia penasaran, sebab di jalan Kota Aspala sangat tertib dan rapi, hampir tidak pernah ia menemui para penjual atau sesuatu yang menghambat perjalanan. Namun, kali ini beberapa mobil lain pun terlihat berhenti untuk melihat apa yang terjadi.


Ternyata ada dua pemuda yang berkelahi, dan kerumunan itu berusaha memisahkan mereka. Maisara merasa penasarannya tidak beralasan, karena ia melihat sesuatu yang tidak berguna. Apalagi ia sama sekali tidak mengenali pemuda berseragam sekolah itu.


“Mai! Kau Maisara, kan?” kata sebuah suara yang tiba-tiba menyeruak di antara kerumunan, mengagetkan Maisara. Ia melihat Caca yang tersenyum ke arahnya dengan memakai baju seragam yang sama, dengan para pemuda yang berkelahi di sana.


“Caca? Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Maisara heran.


Mereka berbincang di dekat mobil, sedangkan Daina masih duduk di kursi mobil anaknya.


“Hai! Aku sudah naik kelas dan aku pindah di sini, sekarang. Apa kau juga pindah ke sini, Mai?”


“Ya, bisa dibilang tidak sengaja sampai aku pindah ke tempat ini. Bagaimana denganmu?”


“Akan aku ceritakan, apa ini mobilmu?” tanya Caca sambil menyentuh kendaraan itu dan menepuknya.


“Ya.”


“Kau mau ke mana? Boleh aku menumpang?” tanya Caca lagi sambil tersenyum penuh permohonan.


“Tentu! Akan kuantar kau pulang!”


“Jangan sekarang, kita ke rumahmu saja, oke?”


“Apa kau membolos dan takut ketahuan orang tuamu?”


“Ahk ya! Kau benar, bantu aku ya?”


“Ck! Kau ini, baru bertemu sudah meminta bantuan untuk membolos, aku tidak mau mendapat karma karena menolongmu!”


Caca tertawa, ia merasa Maisara cukup lucu.


“Ayolah!” Caca memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Maisara membukakan pintu mobil agar Caca bisa duduk di belakang Daina, dan memperkenalkan keduanya. Lalu, ia kembali menjalankan kendaraan, sambil memikirkan dirinya sendiri. Ia merasa berat untuk membawa Caca ke rumah, karena dengan begitu, seorang pembaca akan tahu siapa dinnya. Padahal ia lebih tenang tidak mengungkapkan identitas kepada para penikmat komiknya.


Satu lagi harapan Maisara, kalau Caca akan pulang sebelum Harlan tiba di percetakannya, karena sekarang adalah jadwalnya memberi kompensasi pada pria itu. Ia belum siap kalau harus mempertemukan keduanya sekarang juga.


❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa like! 😊