Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 91


Cinta Bukan Cinta


“Jadi menurutmu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” sambil menatap laki-laki yang masih merengkuh erat pinggangnya itu.


“Soal apa?” Harlan balik bertanya.


“Mengusirmu pergi dari sini!”


Halan mengerutkan alis dan lebih kuat mencengkeram pinggang Maisara.


CK!


Harlan berdecap keras.


“Bagaimana kalau aku tidak mau pergi?” katanya.


“Kalau kau tidak mau pergi, lakukan apa yang aku bilang!” sahut Maisara.


“Oke!”


“Lepaskan aku! Cepat rapikan dirimu sana!”


Harlan tersenyum jahil, ia pikir kalau ia mengikuti keinginan Maisara, maka wanita itu pasti menurutinya juga.


“Apa kau sungguh-sungguh dengan jawabanmu semalam?” tanyanya, masih menolak untuk menuruti istrinya.


“Jawaban soal apa?”


“Jawaban yang kamu kasih waktu aku bilang sesuatu!”


Seketika Maisara mengingat tentang mimpinya yang terlalu nyata. Suara Herlan terdengar begitu jelas di telinganya, tetapi ia heran, karena sebelumnya melihat pria itu sedang tertidur pulas. Bahkan, bergumam seperti tengah bermimpi, bagaimana mungkin ia mengatakan hal itu secara sadar. Atau justru dirinya yang berada di alam fana, hingga ia perlu memastikan apa yang ia dengar tidak salah.


“Memangnya kamu bilang apa?” tanyanya sambil mengerutkan kening.


“Jangan bilang kamu lupa?” kata Harlan, “apa aku perlu mengulanginya?’


“Sepertinya, iya!”


“Ayo!” Harlan berkata sambil menggamit tangan Maisara dan melangkah ke kamar, “Aku mau bilang kalau kita sudah ada di kamar!”


Meisarah kebingungan apakah ia harus menurutinya atau tidak, dengan apa yang dilakukan Harlan sekarang. Padahal, Ia hanya ingin menguji suaminya serta meyakinkan diri kalau apa yang didengarnya tidak salah. Rasanya sulit percaya sebab tidak mungkin kalau laki-laki itu bisa mencintainya dengan mudah.


Apa dia sungguh-sungguh mencintaiku?


Sementara itu pengasuh dan Daina sedang berada di dapur, mereka membuat bubur untuk Mahes. Bayi mungil dalam gendongan Daina itu baru saja selesai dimandikan. Tentu saja kedua wanita itu melihat adegan yang terjadi antara Maisarah dan Harlan dari sana.


“Apa laki-laki itu suami Nyonya Haya?” tanya pengasuh itu.


“Ya, tentu saja!” jawab Daina.


“Jadi, ke mana dia selama ini, kenapa aku tidak pernah melihatnya?”


“Dia membangun perusahaan baru di Kota Askanawa!”


“Oh, jadi begitu, ya?” sahut pengasuh dengan antusias, sambil berpikir “Apa dia bilang, Kota Askanawa? Suami Nyonya sepertinya mirip sekali dengan konglomerat kita itu!”


Pengasuh adalah orang wanita muda yang aktif di media sosial, hingga ia tahu beberapa hal tentang keluarga Mahespati. Apalagi tentang Askanawa, kota terbesar di antara empat distrik yang ada di provinsi. Ia juga tahu tentang salah satu orang yang, memiliki kekayaan tertinggi di sana, yaitu keluarga Mahespati Prawira.


Kebetulan pula pengasuh senang bergosip. Ia pernah berkhayal mendapatkan nasib seperti cerita dalam novel. Banyak kisah yang menceritakan tentang seorang rendahan seperti dirinya, dinikahi oleh seorang konglomerat yang tampan, lalu menjadi budak cintanya. Perempuan itu sempat menghubungkan antara nama bayi Maisara dan wajah seseorang dalam poster yang terlihat mirip.


Lalu, sekarang ketika ia lebih terkejut lagi saat melihat Siapa suami dari majikannya. Ia hampir tidak bisa mempercayai, karena wajahnya sangat mirip dengan Mahespati, orang yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Peristiwa kematian orang itu sangat fenomenal, hingga banyak yang bersimpati pada anak tunggal dari keluarga Prawira. Ia terpaksa kehilangan ayah yang justru tiada karena menolong anak lainnya.


Sementara di dalam kamar. Ada seorang wanita yang diam-diam sangat menyesal, karena terjebak dalam permainan cinta. Semula iya ingin memancing sebuah pengakuan dari suaminya, hingga mau mengikuti keinginan laki-laki itu. Kini justru ia sendiri yang dikerjai.


Harlan meminta istrinya untuk membuka baju yang sedang ia kenakan, kalau ingin mengetahui apa yang dikatakannya semalam. Pada akhirnya mereka berdua benar-benar telanjang bulat. Mau tidak mau Maisara melakukan semua yang Harlan inginkan dan melayaninya.


Ketika mereka tengah berada dalam proses itu, tiba-tiba otak Maisara mulai berpikir cemerlang, kenapa mau mengikuti dan terjebak dengan permainan Harlan. Ia sadar kalau ini adalah cinta, tapi cinta Harlan adalah cinta yang penuh dengan modus.


“Aku mencintaimu, Maisara ...!” bisik Harlan di telinga istrinya, setelah ia selesai.


Maisara diam dan terpaku, melirik laki-laki yang sudah merebahkan diri di sampingnya, lalu menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.


“Itu yang aku bilang semalam, dan kau jawab kamu juga punya perasaan yang sama!” kata Harlan lagi sambil mencuri ciuman di pipi sebelah kiri dan kanan Maisara. Perempuan itu diam saja, mendapat perlakuan demikian lembut dari suaminya.


Ia masih terpana saat menyadari sebuah ungkapan jika seorang pria mencintai seorang wanita, maka ia akan menunjukkannya dengan mengeksplor seluruh bagian tubuh wanitanya. Itu ungkapan perasaan yang menunjukkan jika pemilik raga adalah orang yang dicintainya. Harlan sudah melakukan hal itu padanya ,dan dari ucapannya tadi, membuktikan kebenarannya.


Maisara kemudian sadar kalau yang semalam ia katakan bukanlah mimpi.


“Terima kasih, ya!” kata Harlan, sambil kembali memeluk Maisara, tapi wanita itu justru mencubit bagian tubuh yang tidak ditutup oleh selimut.


“Kenapa kamu cubit aku?” Harlan berkata sambil mengusap bagian dadanya yang merah karena cubitan Maisara.


“Gara-gara kamu, aku jadi terlambat, tahu?” ujar Maisara sambil menuruni tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi, sambil membawa pakaiannya yang terserak di lantai.


“Memangnya kamu mau pergi ke mana? Aku pikir kamu berpakaian rapi pagi-pagi, karena mau menyambut kedatanganku!”


“Ada penandatanganan hari ini, dan aku harus pergi jam delapan! Sekarang lihat, tinggal sepuluh menit lagi aku harus sampai di sana!” kata Maisara, sambil menutup pintu.


“Penandatanganan apa?”


“Komik! Acara yang diadakan sponsorku di mall Kota, dan aku harus menandatangani 100 buku!” Maisara menjawab dari dalam kamar mandi.


“Kamu sudah mencetak berapa kali bulan ini?”


Tiba-tiba hening tidak ada sahutan, yang terdengar hanya suara gemercik air dari shower dalam kamar mandi. Maisara sedang membersihkan bagian tubuhnya yang memang harus ia bersihkan, dengan segera.


“Kamu tanya apa tadi?” tanya Maisara ketika sudah keluar dan berpakaian rapi, lalu duduk di meja rias untuk melapisi bibirnya dengan lipstik.


“Aku tanya kamu sudah mencetak berapa kali?” Harlan mengulangi pertanyaannya dengan suara perlahan.


“Oh, ini cetakan kedua!”


“Itu bagus! Baiklah, aku akan mengantarmu.” Harlan berkata sambil bangkit dari tidurnya.


“Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri!”


Maisara berkata sambil berdiri dan merapikan pakaian, setelah mengikat rambutnya di belakang kepala dengan rapi.


“Aku bisa terlambat kalau menunggu, kamu belum mandi dan pakai baju! Sudah, aku pergi dulu ya!” katanya sambil meraih kunci mobil dan tas kecilnya.


“Bagikan lokasimu, nanti aku yang akan menjemput,” kata Harlan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.


Namun, Maisara menolak semua perhatian itu. Ia menoleh pada laki-laki yang masih duduk di atas tempat tidur, ketika ia sudah sampai di pintu.


“Kalau kamu jemput aku, terus mobil aku nanti siapa yang bawa? Sudah ... tak usah jemput, kamu di sini aja, jaga Mahes, oke? Dia anakmu, awas! Kalau kamu sakiti dia ... Aku tidak akan kasih ciuman lagi!” katanya. Setelah itu ia menutup pintunya.


❤️❤️❤️❤️