
Kejadian Yang Sama
Harlan langsung menuju ke kediaman pribadinya yang ada di sekitar PT Seribu Janji. Namun, ia tidak menemui Maisara di sekitar tempat itu.
Kakinya sudah pulih benar untuk berjalan, hingga ia begitu semangat menyusuri seluruh ruangan rumah. Ia hanya menemui asisten yang berada di sana. Wanita paruh baya itu mengabarkan bahwa, Maisara sudah tidak tinggal di sana lagi, sejak tiga bulan yang lalu atau tepatnya sejak Harlan pergi.
Harlan baru tahu kalau setiap kali ia pergi, ke Kita Askanawa, maka istrinya itu akan tinggal di Hansen Foundation. Maisara baru kembali ke rumah itu, ketika suaminya hendak pulang.
Mengetahui hal itu Harlan segera pergi ke Hansan Foundation, menggunakan mobil yang sengaja ia beli. Kendaraan yang menjadi pilihannya adalah edisi khusus tahun ini, dengan merek yang sama dengan yang dimilikinya di vila Harlan. Alat transportasi yang akan memudahkan urusannya ketika berada di distrik barat atau selama ia berada di kota Aspala.
Setelah sampai di gedung Hansen, hari sudah sore dan para pegawai sudah kembali ke rumah masing-masing. Tempat yang bagian depannya berupa rolling door itu, pun sudah ditutup rapat. kemungkinan yang ada di dalam rumah hanya Daina dan Maisara beserta dengan bayinya.
Harlan sedikit kebingungan ketika ia ingin masuk atau menghubungi Maisara karena ia tidak memiliki nomor teleponnya. Ia masih berdiri di luar mobil yang terparkir di halaman gedung, sedangkan hujan mulai turun.
Asisten menawarinya untuk menghubungi Maisara melalui ponselnya, tapi ia terlihat ragu sambil menatap antara gedung dan ponsel asisten.
Dua pria itu masih ingat dengan jelas peristiwa yang terjadi hampir satu tahun yang lalu, di saat Harlan pingsan di depan rumah Maisara, karena ingin bertemu dengannya kali ini pun sama hujan turun semakin lama semakin deras.
“Tuan, apa Anda akan tetap berada di sini? Ingat, dulu Anda pernah pingsan, untuk menemui Nyonya ... sebaiknya Anda tunggu di dalam mobil saja biarkan saya yang menelepon!”
“Tidak perlu, pergi saja kamu dari sini dan cari hotel saja ... istirahatlah, kau pasti sudah lelah, bicaramu ngelantur!”
Asisten tidak menuruti keinginan Harlan dan Ia tetap berdiri di samping tuannya, pakaiannya pun ikut basah kuyup. Ia terus menunduk menghalangi jatuhnya air hujan yang terasa sakit saat mengenai wajahnya, tetapi Harlan justru mendongak ke lantai dua.
Ia berharap Maisara ada di sana dan melihat dirinya yang bertahan dalam guyuran air hujan demi bertemu dengannya. Ia mencoba menguji telepati perasaan antara suami istri, yang sudah lama tidak bertemu, mungkin getaran itu masih ada, dan hal itu terjadi dalam benak Maisara.
Aku suaminya, keinginanku tidak berlebihan bukan? Aku saja merasa tidak enak waktu dia didatangi Syahida. Awas saja wanita itu kalau masih berusaha untuk melakukan sesuatu lagi pada istriku, aku pasti akan mengadukan perbuatannya, biar dia dipenjara!
Sementara itu di dalam kamar, Maisara tengah sibuk menenangkan bayi Mahes yang rewel secara tiba-tiba. Padahal ia sudah memberinya susu dan sepertinya sudah cukup kenyang.
Bayi itu hampir tidur ketika terdengar suara petir menyambar di langit, membuat bayi kecil itu terkejut dan kembali terbangun. Ia belum bisa tidur lagi sampai sekarang. Bahkan, menjadi semakin rewel walau sang ibu sudah menggendongnya.
“Apa badannya panas? Sini, coba kulihat ...,” kata Daina sambil mendekat dan menyentuh kening Mahes dengan punggung tangannya.
“Tidak panas, berarti dia sehat ... tapi kenapa dia rewel, kenapa Sayang, apa ada yang sakit?” tanya Dena lagi langsung kepada Mahes, seolah-olah bayi itu bisa menjawab pertanyaannya.
“Mungkin dia mengantuk, Bu, tapi tidak bisa tidur karena berisik banyak petir.”
“Coba sini biar aku yang gendongnya, kau istirahat saja!”
Dainah mengambil alat gendongan yang langsung ia belitkan ke tubuhnya sendiri dan Mahes kecil. Ia menggoyangkannya secara perlahan, sambil menepuk-nepuk punggung dengan lembut agar bayi itu segera tertidur.
“Mahes .. kau anak baik, cepatlah tidur ... lihat hujan turun deras, kau jangan takut lagi dengan petir ... ibu ada di sini ...,” kata Maisara, nada bicaranya dibuat seperti nyanyian.
Ia melangkah ke dekat jendela dan membuka tirainya, dengan maksud membujuk anaknya agar diam. Ia pikir dengan melihat air hujan yang jatuh rintik-rintik pada kaca jendela itu, akan mengalihkan perhatian Mahes. Benar saja, bayi itu berhenti menangis begitu ia melihat ke arah kaca dengan takjub.
Pria itu tiba-tiba hadir seperti makhluk halus, tapi mustahil karena tatapan mereka pun saling bertemu.
Mana ada hantu setampan pria yang basah kuyup itu, lagi pula bola matanya memandang ke arahku.
Ya Tuhan kenapa dia ada di sana, apa aku melihat hantu?
“Apa yang kau lihat, Haya?” tanya Daina saat melihat perubahan dari ekspresi wajah anaknya. Ia pun segera berjalan ke jendela.
Setelah mendekat ke arah jendela, rasa terkejutnya Daina, hampir sama dengan yang dirasakan oleh Maisara. Ia melihat seorang pria dengan balutan sweater turlenk, dilapisi mantel dark grey yang basah kuyup, di luar gedung sedang menatap mereka.
Daina menoleh pada Maisara.
“Apa Ibu melihat hal yang sama? aku pikir itu hantunya Harlan!”
Daina memukul lengan anaknya cukup keras, seraya berkata, “Kau ini keterlaluan sekali! Turun! Pergi dan jemputlah dia, suruh dia untuk masuk!”
Maisara mengusap lengannya yang terasa panas akibat pukulan ibunya.
“Ibu ini sakit! Ibu memukulnya terlalu keras!” gerutunya dengan wajah yang cemberut.
“Itu untuk menyadarkanmu, kau tidak melihat hantu ... itu suamimu, Haya, cepatlah! Kasihan dia, apa kau lupa dia pernah pingsan dulu saat ingin menemuimu?”
“Itu salahnya!” sahut Maisara ketus, sambil menyambar kunci dan bergegas turun.
Sesampainya di bawah, ia mengambil sebuah payung besar, lalu membuka kunci rolling door dan menggesernya sedikit. Itu celah yang hanya cukup untuk satu orang. Ia ke luar sambil membuka payung dan berlari ke arah Harlan.
Mereka kini berdiri saling berhadapan saling bertatap mata dengan pandangan yang berbeda. Maisara menatapnya dengan penuh keheranan, karena setelah berbulan-bulan pergi baru sekarang ia muncul, bagaikan hantu yang gentayangan. Sementara Harlan melihat istrinya penuh dengan kerinduan.
“Untuk apa kau berdiri di sini? Apa kau tidak punya mulut dan memanggilku?” teriak Maisara cukup keras, karena suaranya ditingkahi oleh air hujan yang menetes di atas payung.
Harlan tidak menjawab ia terpana melihat gadis itu keluar dari rolling door sambil membuka payung hitam untuk dirinya. Saat Maisara berlari ke arahnya, ia seolah-olah melihat bidadari yang terbang dan merentangkan sayap untuk menaungi tubuhnya yang basah oleh air hujan.
Harlan mengelurkan tangan untuk mengusap pipi Maisarah dengan lembut, “Apa kau benar-benar bidadari?” tanyanya, hampir mendekatkan kepala untuk mencium bibir Maisara.
“Ya! Aku bidadari! Ayo! Kau mau masuk atau tidak? Kalau tidak mau ... ini, pegang sendiri payungnya!” kata Maisara sambil meraih satu tangan Harlan dan menyerahkan payung itu kepadanya.
Seketika Harlan tersadar bahwa, yang ada di depannya adalah bidadari yang menjelma sebagai istri cerewet. Ia segera mengambil payung besar itu dari tangan Maisara, tanpa bicara.
Sementara asisten kembali ke dalam mobil, untuk mengganti pakaiannya begitu Maisara keluar, sambil membawa payung.
Maisara hendak berjalan lebih dulu ke dalam, setelah Harlan memegang payungnya. Namun, tangan pria itu dengan cepat melingkar di pinggangnya. Maisara tidak menolak. Mereka berjalan menuju rumah beriringan.
❤️❤️❤️❤️