Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 39


Menjual Perusahaan


 


“Mai, aku orang yang sulit jatuh cinta, kalau ada laki-laki yang bisa menarik hatiku maka aku akan terikat padanya!”


“Hati-hati, kau bisa jatuh dalam perangkapnya, semua orang bisa mabuk karena cinta ... jadi jangan mabuk cinta kalau tidak mau gila!”


“Mai, seharusnya kau mengambil jurusan psikologi, dan bukannya seni. Jadi, kamu bisa mengobati orang gila!”


“Hmm ... baiklah, ayo! Kita ketemu dengan orang yang membuatmu gila itu!”


Maisara kembali membujuk Hara agar diizinkan pergi. Ia tidak menemukan Harlan di kamar juga di ruang kerjanya untuk mendapatkan izin. Pria itu sudah keluar rumah pagi-pagi sekali.


Kalau tidak bertemu hari ini juga, dengan orang yang dikatakan Sanaya, maka ia akan lebih sulit lagi menemukan orang yang mau menanamkan investasi.


Hara dengan berat hati mengizinkan Maisara pergi, tapi harus diantar oleh sopir agar lebih aman, dan ia bisa bertanggung jawab pada Harlan nanti.


Baik Hara maupun sopir, sama-sama mengirimkan pesan pada Harlan, mengabarkan kepergian Maisara dari rumah.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Maisara tiba di sebuah restoran tempat Sanaya dan seorang pria yang baru dikenalnya kemarin, membuat janji pertemuan.


“Apa kalian sudah lama di sini?” tanya Maisara merasa tidak enak dengan Sanaya dan temannya, karena ia datang terlambat.


Lalu, ia menarik kursi dan duduk. Tak lama setelah itu, seorang waiters datang membawakannya buku menu. Maisara memesan minuman dan makanan yang sama, dengan pesanan dua orang di hadapannya.


“Mai, siapa yang mengantarmu? Apa kau punya sopir?” Sanaya balik bertanya, ia justru mengalihkan fokus saat melihat Maisara yang keluar dari mobil mewah dan dibukakan pintunya oleh sopir.


Maisara menepuk keningnya dengan kuat. Ia begitu terburu-buru, hingga lupa meminta sopir, untuk menurunkannya di tempat yang agak jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan Sanaya.


Sanaya bisa bermulut besar kalau tahu pernikahannya dan akan membuat berita menjadi tidak enak kalau tersebar dari mulutnya. Apalagi Harlan tidak mencintainya, apa yang diharapkan dalam pernikahan, tidak sama satu dan yang lain. Itu akan sangat memalukan kalau sampai tersebar.


“Bukan, itu bukan sopirku, ada seseorang yang memberi tumpangan tadi! Kebetulan kita searah,” kata Maisara gugup, karena ia takut ketahuan berbohong.


“Siapa?”


“Om Benu, teman Ayahku, jangan bilang kau lupa orang yang pernah membelikan kita es krim Yalo-yalo yang lagi ngetrend itu!” Maisara beralasan, dalam hati ia berkata ‘maafkan aku paman Benu, aku membuatmu sebagai alasan!’


“Oh, dia! Aku ingat!” Sanaya akhirnya tertawa hambar, setelah itu dia berkata, “Oh iya, kenalkan, ini Suni! Orang yang aku bicarakan tadi pagi!”


Sanaya menoleh pada Suni, seorang pria berambut lurus dan berkaca mata, ia cukup manis dan enak dipandang, tampak seperti seorang pria terpelajar dan ramah.


Maisara dan Suni berjabat tangan dengan hangat, lalu menyebutkan nama masing-masing sambil tersenyum.


“Dia manis, kan?” kata Sanaya sambil berbisik dekat telinga Maisara.


Suni tersenyum seolah tahu seseorang sedang membicarakan dirinya.


“Aku tidak membicarakanmu, jadi, jangan terlalu senang, ya!” kata Sanaya tiba-tiba, ia terkesan membantah, tapi bantahan itu justru mengatakan yang sebenarnya.


Maisara hampir terbahak-bahak kalau tidak ingat posisinya, di hadapan Suni mereka adalah rekan bisnis. Memiliki teman seperti Sanaya adalah hiburan tersendiri.


“Dia bilang ditelepon, kalau tidak sabar mau kita bertemu!” kata Sanaya lagi.


Maisara tercengang.


“Ya. Soalnya Naya juga bilang rindu sama kamu!” balas Maisara tidak mau kalah.


“Sudahlah, bagaimana kalau kita bahas gedungnya saja?” kata Suni kali ini terlihat serius.


Maisara melihat Sanaya heran, karena ia tidak tahu maksud pembicaraan Suni tentang gedung.


“Gedung apa maksudmu?” tanya Maisara.


Sanaya akhirnya bicara bagaimana dirinya bertemu dengan Suni hingga menyeret Maisara sampai di tempat itu.


Kemarin malam Sanaya tidak sengaja bertabrakan dengan Suni yang tengah berjalan di trotoar menuju sebuah cafe. Saat itu, mereka langsung berkenalan setelah sama-sama meminta maaf.


Perkenalan pun berlanjut ... mereka mengobrol dengan akrab, Sanaya menanyakan di mana Sunni tinggal, dan pria itu mengaku sebagai pendatang baru yang tidak mempunyai tempat tinggal.


Kemudian mereka makan bersama dalam satu meja di kafe itu, memesan minuman serta makanan yang sama pula. Kebetulan saja dua orang itu mengaku menyukai banyak hal yang sama. Contohnya minuman itu.


Mereka berbincang cukup lama, tentang Suni yang membutuhkan sebuah tempat usaha, sebagai ganti tempat usahanya yang sudah ia jual.di luar negeri. Ia ingin membuat bisnis baru dan masih  mencari tempat yang cocok untuk itu.


“Jadi, aku merasa beruntung sekali bertemu denganmu, karena aku pikir kau bisa membantuku mencari, tempat yang cocok untuk usaha baruku?” kata Suni.


 


❤️❤️❤️❤️