
Di Ruang Pribadi
Harlan membasahi bibir sebelum meletakkan sendok dengan kasar ke atas piringnya.
“Sibuk mengurus perusahaan yang bangkrut itu?”
“Bukan urusanmu!”
“Kenapa kau tidak menjualnya?”
Ditanya seperti itu, Maisara menoleh pada suaminya dan mencebik.
“Aku tidak mau!” katanya ketus.
Sebenarnya Harlan mengikuti perkembangan gerak-gerik Maisara dalam mengusahakan modal, untuk perusahaan ayahnya itu agar kembali berdiri. Namun, maksud Harlan adalah hendak mengakuisisi dan gadis itu tinggal menikmati keuntungan saja, tidak harus repot-repot mengurusinya.
Ia berharap Maisara berpikir logis tentang bisnis bahwa, mendirikan kembali perusahaan yang sudah bangkrut itu, memerlukan modal dua kali lebih besar. Model itu, selain untuk membuat usahanya tetap bertahan, juga untuk membayar hutang yang cukup besar.
Harlan memandang Maisara belum berpengalaman dalam hal bisnis, sehingga ia memaklumi. Namun, betapa keras kepalanya gadis itu, membuatnya kesal.
Harlan pernah memberikan jawaban yang ekspresif ketika Maisara mengajukan proposal kepada salah satu investor, yang kebetulan bekerja sama dengan perusahaannya juga. Dalam jawabannya melalui infestor itu, secara jelas ia meminta agar Hansan Foundation dijual saja.
Gadis itu hanya perlu berbuat baik pada Harlan, menjadi istri yang manis, maka semuanya akan beres. Hal inilah yang dipikirkan Fhedi, saat mengetahui apa yang dilakukan Maisara.
Apa dia belum tahu kekayaan yang dimiliki suaminya?
Sebelum bangun pagi hari ini, Fhedi sudah memberitahu rencana pertemuan Maisara dengan Banusi di restoran dengan private room. Hal ini membuat Harlan hampir meledak. Ia tahu siapa Banusi, orang yang tidak pernah serius dalam mengambil kesepakatan dan hanya mengambil kesempatan saja.
“Apa kau menemukan investor?” tanya Harlan lagi, dengan menahan geram di antara gigi-giginya.
“Ya. Akhirnya aku berhasil dan ada infestor yang tertarik!”
“Apa kau nilai Aku bukan investor yang baik?”
“Kau bukan investor ... kau tidak berniat investasi, tapi berniat membeli!”
“Memangnya kenapa? Aku bisa membeli perusahaan itu berapa pun harga yang kau mau?”
“Aku bukan wanita murahan!”
Setelah berkata seperti itu Maisara berdiri, ia menyudahi sarapannya dan pergi meninggalkan Harlan begitu saja.
Maisara bukannya tidak mau bekerja sama dengan laki-laki itu, hanya saja mereka akan bercerai dan ia tidak mau memiliki hubungan apa-apa lagi setelahnya.
Sementara Harlan menggenggam gelas yang ada di tangannya dengan kuat seolah bisa menghancurkan gelas tebal itu. Ia tidak bermaksud membeli harga diri Maisara, yang akan ia beli adalah perusahaannya.
Lalu, Harlan menganggap Maisara memiliki otak yang sudah konslet, hanya karena memikirkan hutang perusahaan ayahnya.
Di rumah Sanaya, Maisara memilih beberapa pakaian bagus yang dimilikinya. Semua isi lemari sudah keluar dan berantakan di tempat tidur. Namun, semua tidak ada yang cocok.
“Sudah kubilang, pakai saja baju ini!” kata Sanaya memberikan baju seksi yang disewanya kemarin untuk Maisara.
“Itu terlalu terbuka!” kata Maisara.
Sanaya heran, bagaimana gadis yang dulunya jadi aktifis kampus itu begitu polos dengan pakaian seperti yang ia tunjukkan itu. Ia tahu kalau Daina terlalu ketat menjaga dan mengawasi anaknya hingga memiliki kepribadian seperti terlalu lugu.
“Tidak masalah ... ini pantas untuk rapat seperti itu, kalau kau sudah bekerja, ada banyak sekretaris yang memakai pakaian lebih terbuka.”
Akhirnya Maisara mau menerima saran dari Sanaya karena waktu perjanjian dengan Banusi sudah tiba.
Sanaya mengikuti Maisara sekedar menamaninya pergi ke restoran yang sudah dipesan oleh Banusi. Mereka berada di ruang pribadi dengan seorang pria bertubuh gembul dan kumis yang tebal. Ia tersenyum menyeringai ke arah Maisara dan mendekatinya dengan posesif.
Sementara Sanaya sibuk bermain ponsel.
Awalnya pertemuan mereka berjalan seperti biasa, Maisara memberikan sedikit presentasi atas proposal yang sudah ia ajukan sebelumnya.
“Apa kepentingan dia ada di ruangan ini, Nona Haya? Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjanjian kalau ada orang lain!” tanya Banusi sambil melirik Sanaya.
“Tidak masalah bagimu, tapi masalah untuk perjanjian kita!”
“Aku rasa tidak masalah kalau Anda ingin melanjutkan, bukankah tinggal menandatangani perjanjian yang sudah saya buat?”
“Kau pikir bisa semudah itu? Aku hanya bawahan, dan aku harus merayu atasanku agar mau memberikan dana yang pantas untuk perusahaanmu, jadi, aku harap, kita tahu sama tahu untuk memberi imbalan ala kadarnya!” Banu semakin mendekati Maisara dan membelai punggung tangannya.
“Imbalan seperti apa, maksud Anda? Saya tidak mengerti, sebab kita bukan perusahaan amal!” Maisara berkata sambil menarik tangannya.
“Apa kau terlalu polos sampai tidak tahu imbalan yang kumaksud, Nona Haya?” Saat Banu bicara, tangannya sudah berada di pipi Maisara.
Seketika gadis itu mengerti imbalan seperti apa yang di maksud Banusi, dengan cepat ia menyambar kopi panas yang ada di meja, di depannya, lalu menyiramkan kopi itu ke arah pakaian Banusi.
“Sialan! Kau kurang ajar sekali Nona Haya! Aku jamin tidak ada lagi perjanjian di antara kita!”
Maisara hanya menyeringai, ia tidak akan menjalani perjanjian kotor yang melibatkan kontak fisik seperti itu.
“Tidak masalah, Tuan Banusi. Saya harap ini pertemuan terakhir kita!”
“Kau!”
Maisara segera ke luar ruang pribadi itu dan menarik Sanaya. Ia tampak tercengang dengan apa yang terjadi barusan, pakaian Banusi kotor penuh noda kopi, dan berdiri dengan marah sambil menunjuk ke arah muka sahabatnya.
“Ayo! Kita pergi dari sini!” kata Maisara, ia berjalan dengan cepat ke arah mobil Sanaya. Tanpa persetujuan pemiliknya, ia mengendarai mobil itu sendiri.
Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka, di sepanjang perjalanan.
Sanaya cukup pengertian hingga tidak membahas hal yang sangat riskan untuk dibicarakan. Harga diri sahabatnya hampir saja terluka, itulah yang ada dalam pikirannya. Ia menyesal sebagai sahabat yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Saat Maisara menghentikan mobil, Sanaya baru sadar kalau sahabatnya tidak menepikan kendaraannya di rumahnya sendiri.
“Kenapa kau hentikan mobilku di sini, kenapa tidak di rumahmu sendiri?”
Sanaya tahu kalau ayah sahabatnya itu sudah tiada dan ia pikir rumah itu akan jadi miliknya.
“Ayah sudah meninggal, dan rumah itu sekarang menjadi warisan untuk Sahida dan Nella! Aku tidak punya rumah sekarang!”
“Apa ayahmu tidak membuat warisannya untuk anak kandungnya? Ini gila!”
“Tidak, dalam surat warisannya Ayah bilang kalau apa pun yang ada di atas tanah itu adalah milik istrinya!”
Sanaya menggelengkan kepalanya, heran. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Jadi, sekarang kau tinggal di mana?”
“Di partemen bareng dengan Ibuku!”
“Oh, ya? Jadi, Bu Daina sekarang ada di sini? Itu bagus! Di mana apartemen itu?”
“Oh, cukup jauh dari sini, bensinmu habis kalau harus mengantarku ... Kapan-kapan saja kita ke sana. Jadi, aku naik bis saja!”
Maisara sudah berlari keluar halaman parkir, saat Sanaya ingin bertanya hal lain lagi. Ia ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan dari sahabatnya yang pasti tidak akan ada habisnya itu. Apalagi ia tidak ingin Sanaya tahu kalau ia tinggal di Villa Harlan, dan tidak bisa pergi karena terikat dengan pernikahan.
Maisara tidak pergi dengan sopir hari itu, karena ia memang ingin pergi sendiri dengan taxi. Begitu pula saat ia pulang, hingga sopir menanyakan, kenapa tidak memintanya untuk mengantar. Maisara hanya mengatakan kalau ia tidak ingin merepotkan.
Pandangan Maisara tertuju pada mobil Rolls-Royce yang ada di halaman parkir, itu adalah kendaraan yang biasa dipakai Harlan, menandakan suaminya ada di rumah. Hal itu memaksanya berjalan berjingkat saat masuk ke rumah dan menuju ke kamar. Ia tidak ingin Harlan tahu kedatangannya, dengan pakaian seperti itu, ia lupa menggantinya di rumah Sanaya tadi.
“Kemarilah!”
Suara berat dari seorang pria yang duduk di ruang tengah itu mengagetkan Maisara.
Sial! Kenapa dia ada di situ?
❤️❤️❤️❤️