
Cinta Bukan Cinta
“Aku mencintaimu Maisara ...!” Suara gumaman itu sangat jelas terdengar di telinga Maisara, tapi apalah daya gadis itu sedang berada antara alam nyata dan mimpinya.
Lalu, ia menjawab dengan tidak sadar pula dengan jawaban, “Aku juga!” sambil tersenyum.
Keesokan harinya, ia bangun dengan perasaan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tidur dalam keadaan telentang dan kepala Harlan ada di atas dadanya. Pria itu tidur nyenyak di sana.
Ia diam sejenak untuk mengumpulkan nyawa dan mengembalikan kesadaran, hingga ia tahu bahwa Daina mungkin sudah semalaman menjaga Mahes. Ia bahkan tidak mendengar suara tangisan.
Ahk! Pantas saja sakit sekali dadaku, ternyata dijadikan bantal!
Maisara mengalihkan kepala suaminya secara perlahan agar ia tidak bisa terbebas dan Harlan tidak terbangun. Ia pun berhasil, dan Harlan hanya bergerak dan merubah posisinya ke arah yang berlawanan lalu ia kembali tertidur.
Maisara segara bergegas keluar kamar setelah berhasil bebas dari pelukan Harlan. Ia harus memastikan apakah anaknya terbangun di malam hari atau tidak.
“Ibu!” kata Maisara lirih, ketika ia sudah tiba di kamar ibunya dan melihat Mahes masih terlelap dengan tubuhnya yang telungkup di atas tempat tidur Daina.
“Jangan berisik nanti kamu akan membangunkan Mahes dia baru saja bangun dan minum susu!” Denah menjawab dengan suara lirih pula dia duduk di atas tempat tidur sambil menggelung rambutnya di atas kepala.
“Kenapa Ibu tidak membangunkan aku?”
“Kau pikir, gimana aku akan membangunkanmu? Apa aku harus berteriak-teriak saat suamimu sedang tidur, begitu? Akh! Sudahlah, cepat pergi mandi sana! Kamu harus merapikan diri saat suamimu ada di sini,” kata Daina sambil beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.
“Iya, iya,” kata Maisara terkesan malas, tapi dia ini segera memukul bahunya dengan keras.
“Cepatlah! Bereskan dirimu sendiri dulu, sebelum anakmu bangun, dab jangan sampai membuat suamimu kesal karena Mahes menangis!”
Benar saja ketika para pegawai datang seperti biasa, suasana mulai ramai sehingga Mahes pun terbangun. Apalagi hari itu ada Harlan, seolah-olah ruangan yang hangat menjadi dingin dilingkupi salju.
Laki-laki itu, berdiri di tempat yang biasa digunakan makan siang bersama, dia tampak sedang melihat keadaan sekitar. Bagaikan bos besar yang sedang mengawasi kinerja anak buahnya.
Harlan terlihat jelas baru bangun tidur, dengan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan. Maisara yang melihatnya pun heran, sebab suaminya tidak pernah tampil di depan umum dalam keadaan yang berantakan. Ia selalu rapi dan menjaga image diri sebagai seorang direktur perusahaan ternama.
Namun saat ini seolah-olah harga dirinya tergadai entah di mana. Bahkan, tanpa canggung ia memeluk istrinya, ketika melihat wanita itu muncul dari kamar Daina. Pria itu melakukannya tanpa rasa malu sedikit pun.
Saat Harlan bangun tadi, ia tidak melihat Maisara di samping dan di sekitar kamarnya. Lalu, saat ia keluar, ternyata sudah ramai oleh pegawai yang mulai bekerja. Ia tidak melihat istrinya di ruang produksi juga, oleh karena itu ia tidak peduli dengan penampilannya, karena yang ada dalam pikiran adalah, istriku di mana?
“Harlan! Kamu belum cuci muka dan mandi, berani sekali kamu menunjukkan wajah di depan anak buahku?” tanya Maisara lirih sambil mencoba melepaskan dua tangan Harlan yang melingkar di pinggangnya.
“Memangnya kenapa? Mereka anak buahmu, bukan anak buahku!”
“Apa kamu tidak malu, biasanya kan kamu tidak pernah berpenampilan kacau seperti ini, kan?”
“Tidak, aku tidak malu ... kamu yang malu karena aku seperti ini!”
Maisara kehabisan kata-kata mendengar ucapan Harlan itu, yang menurutnya tidak tahu malu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
❤️❤️❤️❤️