Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 71


Luapan Rindu, Memagut Bibirnya


“Itu artinya Kamu sangat terobsesi denganku mengaku saja!” katanya lagi sambil mengangkat alisnya.


Setelah itu, demi melihat kegugupan dan ekspresi Maisara, Harlan tiba-tiba mendekat dan memeluknya. Reaksi wanita itu sangat menggemaskan baginya.


“Lepaskan aku! Kamu bisa menyakiti bayi kita!”


Harlan mengendurkan pelukan lalu melihat ke arah perut Maisara yang sudah terlihat mulai membesar.


“Suruh dia cepat keluar! Bisa tidak? Dia menggangguku saja!” katanya sambil mengusap perut buncit istrinya.


Di saat itu Harlan merasakan sesuatu yang lembut dan hidup. Ya! Itu adalah kehidupan dan bayi di dalam perut memberi reaksi yang unik saat disentuhnya.


Tiba-tiba ia memikirkan Wendi yang pernah mengatakan jika ia ingin mengusap perut buncit Maisara. Saat itu dia berpikir tidak ada enaknya mengusap perut buncit seorang wanita yang sedang hamil. Namun, ternyata ini memang menyenangkan, ada sensasi berbeda saat kehangatan perut itu terasa di telapak tangannya.


Harlan tidak sadar, tangan kanannya sudah cukup lama berada di atas perut Maisara.


“Itu tidak mungkin ... bayi membutuhkan waktu sembilan bulan dalam kandungan, biar dia kuat untuk menghadapi dunia yang asing baginya, mana bisa disuruh lahir sekarang juga? Kamu tahu kenapa aku menghindarimu? Karena kamu tidak menyukai bayi, tidak menyukai anak-anak dan aku akan segera melahirkan!”


Suasana mendadak hening dan tangan Harlan masih berada di atas perut buncit Maisara.


“Lane Harlane! Cepat keluar!” seru Maisara sambil menyentuh tangan Harlan di perutnya.


“CK! Aku baru datang kamu sudah mengusirku?”


“Itu hakku karena ini kantorku!” katanya Maisara ketus, sambil mendorong suaminya ke arah pintu yang tertutup. Namun, Harlan segera menangkap tangan istrinya, dan membawa kedua pergelangan tangannya dalam satu genggaman. Lalu, satu tangan yang lain melingkari pinggangnya.


“Jangan macam-macam di sini, kita tidak bisa melakukan apa pun sekarang, jadi kumohon keluarlah!” kata Maisara sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Harlan.


“Aku cuma pengen mencium kamu ... Apa salahnya?”


“Salah kalau di sini!”


“Oh jadi tidak salah kalau di kamar? Kalau gitu, ayo! Kita ke kamar sekarang! Aku menyewa hotel di dekat sini.” Harlan menarik tangan istrinya dan hendak melangkah ke pintu.


“Aku tidak mau, kau akan menyakiti bayi kita!”


Dalam pikiran Maisara yang baru pertama mengalami kehamilan, tentu ia menganggap jika hubungan suami istri tidak mungkin dilakukan ketika seorang wanita dalam keadaan hamil.


“Makanya aku tidak suka anak-anak ... perempuan hamil itu akan selalu bilang seperti yang kamu bilang! Jangan melakukan ini dan itu karena akan menyakiti bayi mereka, padahal itu alasan wanita untuk menolak! Hai, aku tidak akan menyakitinya!”


Apa dia pernah melakukannya dengan wanita hamil sebelumnya?


“Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau!” ketus Maisara berkata.


“Lalu apa aku harus membeberkan semuanya, baru kau mau?” tanya Harlan, ia bicara di dekat telingan Maisara. Seketika bulu kuduk wanita itu meremang, seolah ada hantu di sekelilingnya. Ia sudah lama tidak merasakan sensasi itu. Walaupun sudah menikah, tapi mereka baru beberapa kali melakukan hubungan suami istri. Lagi pula mereka belum resmi bercerai, karena Harlan sampai sekarang belum menandatangani suratnya. Jadi, sangat mungkin untuk melakukan hal itu lagi.


“Kalau aku boleh minta sesuatu, maka aku punya satu permintaan!” kata Maisara dengan tatapan lurus ke bola mata suaminya.


“Katakan saja!” sahut Harlan masih dengan kepercayaan dirinya. Ia yakin Maisara akan meminta sesuatu yang pasti bisa ia kabulkan, sebab ia memiliki segala yang dibutuhkan wanita!


“Eum ... seandainya Tuhan mengizinkan laki-laki bisa melahirkan, maka aku adalah orang pertama yang akan meminta kamu untuk hamil!”


Mendengar ucapan Maisara, Harlan tercengang, tapi ia mengangguk sambil menyimpan kepalanya di pundak istrinya. Ia merasa cintanya begitu melemahkan harga diri, hingga ia rela—kalau memang harus hamil.


“Baiklah, aku akan melakukannya kalau kamu yang minta!”


Oh ya Tuhan, ya Tuhan, apa aku tidak salah dengar, Harlan mau hamil kalau aku yang minta?


Tiba-tiba Maisara merasa dirinya begitu dicintai. Ia tersenyum dan membiarkan Harlan memanjakan diri, sambil berharap laki-laki itu tidak mendengar suara degupan keras dari jantungnya.


“Apa kamu tidak rindu sama aku? Ayo pulang! Ibu mau bertemu denganmu!” kata Harlan dengan penuh permohonan, napasnya terasa sampai di leher Maisara yang kebetulan mengikat rambutnya di belakang kepala seperti ekor kuda.


Aroma khas parfum yang sering digunakan Harlan, melingkupi Indra penciuman Maisara. Wangi tubuh yang tidak berubah dari sejak ia koma, ia sering memijatnya dulu.


Sungguh gadis itu rindu, kalau tidak malu, mungkin Maisara mau mengakui bahwa, tokoh komik dalam poster yang terkenal itu, tercipta dari hasil merindukan suaminya yang wajahnya selalu terbayang di pelupuk mata.


Waktu itu, Maisara tengah melamun sambil memikirkan ide cerita untuk membuat komik, tapi bayangan wajah Harlan tak mau lenyap dari otaknya. Lalu, gambar tokoh Modoroki-lah yang ia hasilkan dengan pensil pada kertasnya. Ia sudah berusaha merubah, tapi hasil akhir menunjukkan wajah yang selalu sama.


Ia hampir gila memikirkannya, hingga menyerah dan pada akhirnya tokoh itulah yang hadir dalam ceritanya. Tokoh orisinil yang berhasil ia ciptakan sendiri dalam ruang imajinasi, dengan membayangkan wajah serta karakter Harlan yang mau menang sendiri.


Namun, siapa sangka justru tokoh itu menjadi jalan kesukaan dan favorit di kalangan pembaca, novel Modoroki-lah yang paling laris di aplikasi online tempatnya membuat komik.


Saat ia mencoba mesin cetak pertamanya dua bulan lalu, tokoh itulah yang ia buat menjadi sebuah poster. Lalu, beberapa gambar di pajang, dipromosikan melalui media sosial dan di sebar di beberapa toko yang menjual poster-poster tokoh ternama.


Ternyata, Modoroki sangat menyita perhatian, ilustrasi yang dibuat Maisara itu berhasil membuat usaha percetakannya berjalan lancar dan memproduksi gambar lebih banyak. Ia yang baru merintis cita-cita dengan menggunakan sisa uang dari penjualan gedung Hansan, berhasil ia wujudkan.


Tidak hanya itu, ia pun mencetak beberapa komiknya sendiri, bekerja sama dengan pihak pemilik aplikasi, yang sudah menampilkan novelnya terlebih dahulu secara online. Selain mencetak komiknya sendiri, ia juga menerima untuk mencetak beberapa buku dari banyak orang.


Bahkan, akhir-akhir ini ada seorang produser yang berinisiatif untuk membuat tokoh kartun Modoroki, menjadi cerita pendek pada sebuah serial di televisi.


Maisara kembali tersadar dari lamunannya dan segera berkata dengan lembut, “Gimana kabar Ibu, apa dia sehat?”


“Hem, Hem ...,” gumam Harlan, seraya menegakkan tubuh dan melepaskan cengkeramannya pada tangan Maisara. Lalu, ia mendekatkan kepala, ingin meluapkan rasa rindu dengan memagut bibir istrinya.


“Hmm ....”


❤️❤️❤️❤️